Prabowo Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika musim kemarau tiba dan asap pekat menyelimuti langit Sumatera, sekolah diliburkan, penerbangan dibatal...

Prabowo Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika musim kemarau tiba dan asap pekat menyelimuti langit Sumatera, sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan ribuan warga membanjiri fasilitas kesehatan akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena dampaknya langsung menyentuh kesehatan dan ekonomi masyarakat, penanganan karhutla menjadi prioritas nasional. Kali ini, Presiden Prabowo Subianto memilih turun langsung ke lapangan untuk memastikan upaya pemadaman dan pencegahan berjalan efektif.

Dalam kunjungan kerja lanjutan ke Pulau Sumatera, kepala negara menyasar tiga provinsi yang selama bertahun-tahun tercatat paling rawan titik api: Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Ketiganya memiliki hamparan lahan gambut yang luas. Ibarat seperti spons raksasa yang menyimpan air dan karbon dalam jumlah besar, gambut menjadi ekosistem paling rentan terbakar begitu kekeringan melanda.

Kenapa Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan Selalu Jadi Pusat Perhatian?

Pola kebakaran di ketiga provinsi ini bukan kebetulan. Data historis menunjukkan bahwa musim kemarau yang diperparah El Nino—fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang menekan curah hujan di Indonesia—kerap memicu kebakaran berskala besar. Pada krisis 2015, luas area terbakar di Indonesia dilaporkan melampaui 2,6 juta hektare, sementara pada 2019 angka yang dicatat kementerian terkait mencapai sekitar 1,6 juta hektare. Sebagian besar berada di lahan gambut Sumatera dan Kalimantan.

Yang membuat situasi ini rumit adalah sifat api di lahan gambut. Ibarat seperti bara di dalam tungku, api bisa menyala di bawah permukaan tanah, sulit terlihat dari atas, dan mampu bertahan selama berminggu-minggu. Itu sebabnya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan air dari permukaan, melainkan butuh pendekatan yang lebih sistematis.

Kunjungan langsung Presiden ke titik-titik rawan menjadi sinyal bahwa pemerintah menempatkan karhutla sebagai isu strategis. Kehadiran kepala negara diharapkan memastikan koordinasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait berjalan tanpa hambatan.

Teknologi di Balik Penanganan Karhutla: Dari Satelit hingga Hujan Buatan

Penanganan karhutla modern tidak lagi mengandalkan upaya manual semata. Teknologi pemantauan satelit menjadi mata pertama dalam sistem peringatan dini. Sensor termal pada satelit seperti Terra, Aqua, dan SNPP mampu mendeteksi titik panas atau hotspot, lalu mengirimkan data hampir real-time ke pusat kendali. Data tersebut menjadi dasar bagi tim di lapangan untuk menentukan prioritas pemadaman.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama instansi terkait mengimplementasikan teknologi modifikasi cuaca (TMC), yang populer disebut hujan buatan. Pesawat khusus menyemai garam ke awan agar hujan turun di wilayah yang membutuhkan. Efisiensi adalah kata kuncinya: satu penerbangan TMC dapat menjangkau area yang membutuhkan puluhan ribu liter air untuk dipadamkan secara konvensional. Di udara, helikopter water bombing bekerja memadamkan api dari ketinggian, sementara tim darat membangun sekat kanal untuk membasahi kembali lahan gambut.

Inovasi tidak berhenti di situ. Pengembangan algoritma machine learning—cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer belajar dari data—kini mulai digunakan untuk memprediksi daerah rawan kebakaran sebelum api muncul. Dengan memasukkan variabel seperti curah hujan, kelembapan tanah, dan riwayat titik api, algoritma tersebut menghasilkan peta risiko yang membantu pemerintah mengerahkan sumber daya secara lebih presisi. Ini adalah contoh nyata bagaimana deep tech, teknologi berlapis riset mendalam, ikut berperan dalam melindungi ekosistem.

Pencegahan: Kunci Jangka Panjang yang Tak Boleh Dilupakan

Para peneliti lingkungan menilai bahwa memadamkan api hanyalah separuh dari pekerjaan. Separuh lainnya adalah mencegah api muncul sejak awal. Di sinilah peran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menjadi penting. Melalui pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, dan program kemitraan dengan masyarakat, lahan yang tadinya mudah terbakar perlahan dipulihkan menjadi ekosistem yang lebih lembap dan sehat.

Masyarakat juga menjadi garda terdepan. Sebagian besar kebakaran di Indonesia, menurut catatan lembaga riset, dipicu aktivitas manusia, baik disengaja untuk membuka lahan maupun tidak sengaja akibat kelalaian. Karena itu, edukasi dan penegakan hukum harus berjalan beriringan. Pendekatan ini menegaskan bahwa penanganan karhutla bukan sekadar operasi musiman, melainkan bagian dari pembangunan ekosistem perlindungan lingkungan yang berkelanjutan.

Kunjungan Presiden ke Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan diharapkan membawa dampak nyata, bukan hanya dalam bentuk pemadaman yang lebih cepat, tetapi juga komitmen jangka panjang agar langit Sumatera tidak lagi diselimuti asap. Sebab, pada akhirnya, yang dipertaruhkan adalah kesehatan dan masa depan jutaan warga yang tinggal di sekitar ekosistem gambut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User