Prabowo Serukan Kolaborasi Kampus dan Negara di Sarasehan Kebangsaan
JAKARTA, Terdepan.id — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sarasehan Kebangsaan yang mempertemukan 2.600 rektor, dekan, dan dosen dari perguruan tinggi ne
JAKARTA, Terdepan.id — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sarasehan Kebangsaan yang mempertemukan 2.600 rektor, dekan, dan dosen dari perguruan tinggi negeri (PTN) dan swasta (PTS) se-Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (28/6/2026). Dalam pidato kebangsaan yang berlangsung meriah, Presiden menekankan pentingnya sinergi antara dunia kampus dan negara dalam mencetak sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Acara bertajuk "Membangun SDM Unggul untuk Indonesia Emas 2045" ini menjadi forum strategis pertama dengan skala sebesar itu di era pemerintahan Prabowo-Gibran. Presiden hadir didampingi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta sejumlah pejabat tinggi negara. Ribuan akademisi dari Sabang sampai Merauke tampak antusias mengikuti langsung arahan kepala negara, yang juga disiarkan secara daring ke kampus-kampus di daerah.
Peserta Lintas Kampus dari Seluruh Indonesia
Sebanyak 2.600 peserta mewakili 1.350 PTN dan PTS di 34 provinsi. Mereka adalah para pemimpin akademik: rektor, direktur politeknik, dekan, ketua program studi, serta dosen berprestasi yang memiliki peran sentral dalam pengembangan riset dan pengajaran. Panitia Sarasehan Kebangsaan menyatakan bahwa rekor peserta ini mencerminkan tingginya antusiasme kampus untuk terlibat dalam arah pembangunan nasional.
- 1.350 PTN dan PTS mengirimkan perwakilan
- 34 provinsi terwakili dalam ruangan utama JCC
- Lebih dari 500 kampus mengikuti secara hibrida melalui tautan video streaming
Menurut Ketua Panitia, Prof. Dr. Retno Lestari, partisipasi masif ini adalah sinyal bahwa akademisi Indonesia siap menjadi mitra kritis pemerintah dalam merumuskan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. "Kami ingin menjembatani gagasan kampus dengan program prioritas nasional," ujarnya di sela acara.
Pesan Strategis Presiden: Kampus Harus Jadi Motor Pembangunan
Dalam pidato selama 45 menit, Presiden Prabowo mengajak seluruh civitas academica untuk keluar dari menara gading dan hadir di tengah persoalan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa tantangan global—disrupsi kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga ketimpangan digital—hanya bisa dijawab dengan kolaborasi riset dan inovasi dari kampus.
"Perguruan tinggi tidak boleh hanya mencetak ijazah. Kampus harus menjadi motor penggerak pembangunan nasional. Riset harus hilirisasi, inovasi harus langsung menyentuh rakyat," tegas Prabowo disambut tepuk tangan hadirin.
Presiden juga menyoroti tiga pilar utama yang perlu menjadi fokus akademisi dalam lima tahun ke depan:
- Penguatan riset terapan — mendorong penelitian yang dapat segera dikomersialkan atau dipakai untuk memecahkan masalah riil, seperti kemandirian pangan dan energi.
- Kolaborasi industri–kampus — memperbanyak program magang industri, inkubator startup, serta riset bersama antara dosen dan perusahaan nasional.
- Peningkatan kesejahteraan dosen — pemerintah berkomitmen menaikkan tunjangan profesi dan membuka lebih banyak peluang beasiswa lanjut studi bagi dosen tetap non-PNS.
Prabowo juga menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis Pancasila. "Mahasiswa harus paham jati diri bangsa. Jangan sampai lulusan kita pintar secara teknis tetapi lemah secara ideologis," tambahnya.
Komitmen Pemerintah: Beasiswa dan Dana Riset Baru
Di akhir pidato, Presiden mengumumkan beberapa inisiatif konkret yang langsung disambut gemuruh. Mulai tahun anggaran 2027, pemerintah akan menambah alokasi dana riset kompetitif melalui skema Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) sebesar Rp12 triliun, naik 30 persen dari tahun sebelumnya. Selain itu, beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) diperluas dengan kuota 5.000 penerima per tahun, menyasar dosen muda dan lulusan terbaik yang ingin mengabdi di kampus daerah.
"Kami ingin tidak ada lagi dosen yang kesulitan melanjutkan S3 karena biaya. Negara hadir untuk itu," kata Prabowo. Ia juga meminta Kementerian Pendidikan untuk memangkas regulasi yang menghambat kemitraan antara PTN dan sektor swasta.
Sarasehan ditutup dengan pembacaan "Deklarasi Jakarta" yang ditandatangani perwakilan akademisi dari enam wilayah Indonesia. Deklarasi itu berisi komitmen menjadikan kampus sebagai pusat inovasi, menjaga integritas akademik, dan memperkuat nasionalisme di era digital.
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Prabowo tegaskan kampus harus jadi motor pembangunan. Di depan 2.600 akademisi, ia umumkan tambahan dana riset Rp12 triliun dan beasiswa S3 dosen. Kolaborasi kampus-negara jadi kunci Indonesia Emas 2045. #SarasehanKebangsaan #Prabowo #IndonesiaEmas[SOCIAL_TG]: 🎓 Presiden Prabowo hadiri Sarasehan Kebangsaan 2.600 dosen se-Indonesia. Umumkan dana riset triliunan dan perluasan beasiswa S3. Kampus harus jadi motor pembangunan!
Comments (0)