Pontianak Catat Polusi Terburuk Nasional, Skor Udara Tembus 191
Udara bersih adalah kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup, tetapi bagi warga Pontianak, Kalimantan Barat, kebutuhan itu justru berubah menjadi ancaman yang nyata. Kota Khatulistiwa ini mencat...
Udara bersih adalah kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup, tetapi bagi warga Pontianak, Kalimantan Barat, kebutuhan itu justru berubah menjadi ancaman yang nyata. Kota Khatulistiwa ini mencatatkan skor kualitas udara 191, angka tertinggi sekaligus terburuk di seluruh Indonesia. Dampaknya bukan sekadar angka di layar aplikasi, melainkan persoalan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari: sesak napas saat beraktivitas, mata perih, hingga risiko penyakit serius yang mengintai dalam jangka panjang.
Membaca Angka: Apa Makna Skor 191?
Angka 191 tersebut merupakan Indeks Kualitas Udara atau AQI (Air Quality Index), yaitu standar internasional yang mengubah tingkat pencemaran udara menjadi skala yang mudah dipahami masyarakat awam. Ibarat termometer untuk mengukur demam, semakin tinggi angkanya, semakin buruk pula kondisi "kesehatan" udara di sekitar kita. Skala ini terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari level "Baik" pada rentang 0-50, level "Sedang", "Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif", hingga level "Berbahaya" yang menembus angka 300 ke atas.
Dengan skor 191, udara Pontianak berada pada kategori "Tidak Sehat" — level merah yang menandakan seluruh populasi, bukan hanya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, mulai merasakan dampak negatifnya. Pada level ini, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi, dan penggunaan masker berkualitas tinggi berubah dari sekadar pilihan menjadi kebutuhan mutlak.
Penyumbang terbesar skor buruk ini adalah PM2.5, singkatan dari Particulate Matter 2.5, yakni partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang mungil — sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter sehelai rambut manusia — membuat partikel ini mampu menembus pertahanan alami tubuh, masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan menyusup hingga ke aliran darah. Badan Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan ambang aman PM2.5 maksimal 15 mikrogram per meter kubik dalam periode 24 jam, sementara konsentrasi di Pontianak jauh melampaui batas tersebut.
Akar Masalah: Karhutla yang Kembali Membara
Pemicu utama memburuknya kualitas udara ini adalah karhutla, kependekan dari kebakaran hutan dan lahan. Fenomena ini bukan hal baru bagi Kalimantan Barat, tetapi intensitasnya kembali meningkat dan menghasilkan asap pekat yang menyelimuti kota. Ibarat dapur dengan kompor yang tak kunjung padam, lahan gambut yang terbakar terus mengeluarkan asap bahkan ketika api di permukaan tampak sudah mati.
Kebakaran lahan gambut menjadi persoalan yang jauh lebih rumit dibanding kebakaran biasa. Gambut adalah lapisan tanah organik yang menyimpan karbon dalam jumlah besar dan dapat terbakar hingga kedalaman tertentu di bawah permukaan. Api bawah tanah semacam ini sulit dipadamkan, mampu bertahan berminggu-minggu, dan menghasilkan emisi asap dalam volume yang sangat masif. Kombinasi antara musim kemarau dan praktik pembukaan lahan yang tidak terkendali membuat situasi semakin sulit untuk dikendalikan.
Dampak Nyata dan Langkah Perlindungan
Dari sisi kesehatan, paparan berkepanjangan terhadap udara dengan skor setinggi ini berkorelasi dengan peningkatan kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), perburukan asma, hingga risiko penyakit jantung dan paru-paru kronis. Kelompok paling rentan — anak-anak, ibu hamil, dan lansia — menghadapi risiko tertinggi karena sistem pernapasan dan imunitas mereka lebih sensitif terhadap polutan.
Ada sejumlah langkah mitigasi yang dapat dilakukan masyarakat untuk melindungi diri. Pertama, pantau skor kualitas udara secara berkala melalui platform pemantauan daring yang tersedia gratis. Kedua, gunakan masker N95 atau yang setara, karena masker kain biasa tidak cukup efektif menyaring partikel PM2.5. Ketiga, pasang pembersih udara atau air purifier dengan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air) di dalam ruangan untuk menjaga udara tetap layak hirup. Terakhir, tutup rapat jendela dan pintu guna meminimalkan masuknya udara luar yang tercemar.
Fenomena ini kembali menegaskan bahwa krisis udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan kesehatan publik yang menuntut penanganan lintas sektor. Tanpa upaya serius untuk mencegah dan memadamkan karhutla secara tuntas, warga Pontianak akan terus menanggung "biaya tak terlihat" berupa penurunan kualitas hidup yang sulit diukur dengan angka semata.
Comments (0)