Netanyahu Abaikan Desakan, Ini Agenda Kunjungannya ke AS

Di tengah kecaman global dan tekanan dari berbagai penjuru, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bertolak ke Amerika Serikat pada Senin (27/7). Kunjungan ini menjadi sorotan bukan hanya kar...

Netanyahu Abaikan Desakan, Ini Agenda Kunjungannya ke AS

Di tengah kecaman global dan tekanan dari berbagai penjuru, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bertolak ke Amerika Serikat pada Senin (27/7). Kunjungan ini menjadi sorotan bukan hanya karena agenda diplomatiknya yang dinilai krusial, tetapi juga karena sikap pemerintahannya yang terkesan masa bodoh terhadap seruan penghentian kekerasan, termasuk desakan dari intelektual terkemuka Mahmoud Mamdani. Lawatan yang telah direncanakan jauh-jauh hari ini dipastikan membawa sejumlah misi strategis yang akan di bahas langsung dengan para pejabat tinggi Washington.

Netanyahu datang di saat hubungan bilateral Israel-AS memasuki fase yang kompleks. Di satu sisi, dukungan militer AS tetap mengalir deras, namun di sisi lain, Gedung Putih dan Kongres semakin sering menunjukkan kegelisahan atas operasi militer di Gaza, termasuk korban sipil yang terus bertambah. Namun, bagi Netanyahu, kunjungan ini adalah momentum untuk mengunci komitmen jangka panjang Washington terhadap keamanan Israel, tanpa memberi ruang bagi tuntutan mereka yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan nasional negaranya.

Agenda Utama: Memperkokoh Pakta Keamanan

Pertemuan puncak dengan Presiden Joe Biden akan menjadi jantung kunjungan. Kedua pemimpin dijadwalkan membahas paket bantuan militer senilai 14 miliar dolar AS yang tengah dinegosiasikan di Kongres. Netanyahu akan mendorong agar paket tersebut tidak hanya mencakup pasokan sistem pertahanan Iron Dome, tetapi juga amunisi berpemandu presisi yang dinilai kritis untuk melanjutkan operasi di wilayah konflik. Ia juga akan menekankan pentingnya kerja sama siber dan intelijen dalam menghadapi ancaman dari Iran dan proksinya di kawasan.

Selain Biden, Netanyahu akan menemui Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan. Dalam pertemuan-pertemuan tertutup ini, isu poros perlawanan yang dipimpin Iran akan mendominasi. Tel Aviv khawatir bahwa Tehran tengah mempercepat pengayaan uranium dan memperkuat jaringan milisi di Lebanon, Suriah, hingga Yaman. Netanyahu ingin memastikan bahwa Washington tetap menganggap Iran sebagai musuh bersama dan tidak tergoda membuka jalur diplomasi baru yang dapat melemahkan posisi Israel.

Normalisasi Kawasan: Arab Saudi Jadi Sasaran

Agenda lain yang tak kalah penting adalah mendorong normalisasi hubungan dengan Arab Saudi, melanjutkan keberhasilan Abraham Accords. Netanyahu akan memanfaatkan kunjungannya untuk meyakinkan pemerintahan Biden agar tetap menjadi jembatan dalam perundingan dengan Riyadh. Bagi Israel, terwujudnya hubungan diplomatik dengan Arab Saudi akan menjadi lompatan strategis yang mengubah peta politik Timur Tengah, sekaligus membendung pengaruh Iran.

Namun, negosiasi ini tidak mudah. Riyadh terus mengaitkan normalisasi dengan kemajuan nyata solusi dua negara dan perlindungan hak-hak warga Palestina—sesuatu yang secara terbuka ditolak oleh koalisi sayap kanan Netanyahu. Di sinilah terjadi benturan antara target geopolitik jangka panjang Israel dan realitas politik domestiknya. Sejumlah analis menilai bahwa Netanyahu akan mencoba memisahkan isu Palestina dari paket normalisasi, meskipun tekanan dari Mamdani dan komunitas internasional justru menghendaki sebaliknya.

Di Balik Sikap 'Masa Bodoh' terhadap Desakan Mamdani

Nama Mahmoud Mamdani belakangan mencuat setelah ia secara vokal menyerukan embargo senjata dan penghentian semua bentuk kerja sama militer dengan Israel. Desakannya mendapat gaung luas di kalangan akademisi dan aktivis global, bahkan mempengaruhi opini di beberapa negara Eropa. Namun, respons dari kantor Netanyahu menunjukkan sikap dingin: prioritas adalah agenda bilateral dengan AS, bukan tunduk pada tekanan yang dianggap datang dari kelompok-kelompok yang tidak memiliki kekuatan politik riil di lapangan.

Sikap ini, meskipun menuai kritik dari kalangan progresif di Israel sendiri, sejalan dengan kebutuhan Netanyahu untuk menjaga stabilitas koalisi pemerintahannya. Partai-partai sayap kanan yang menjadi penopang utama kekuasaannya tidak akan mentoleransi kompromi apa pun yang dianggap melemahkan operasi militer. Akibatnya, setiap seruan yang datang dari luar, termasuk dari Mamdani, dengan mudah diabaikan sebagai suara yang tidak relevan dalam kalkulasi politik jangka pendek.

Respon Kongres dan Masyarakat Sipil AS

Di sisi lain, kunjungan Netanyahu disambut oleh perpecahan yang kian nyata di tubuh politik AS. Sejumlah senator dari kubu progresif telah mengancam akan memboikot pidato Netanyahu di depan Kongres jika ia tetap menolak gencatan senjata permanen. Fraksi ini, meskipun masih minoritas, mencerminkan pergeseran sikap di basis pemilih Partai Demokrat. Sementara itu, mayoritas anggota Kongres dari Partai Republik justru menyambut hangat dan menjanjikan dukungan tanpa syarat.

Gelombang protes dari masyarakat sipil AS juga diperkirakan akan menyambut Netanyahu. Koalisi kelompok Yahudi progresif, organisasi hak asasi manusia, dan komunitas Muslim berencana menggelar demonstrasi besar di depan Gedung Putih. Mereka membawa pesan yang senada dengan desakan Mamdani: hentikan bantuan militer, akhiri pendudukan. Namun, sejauh mana demonstrasi ini dapat mempengaruhi hasil pertemuan tetap menjadi pertanyaan besar.

Dengan seluruh dinamika tersebut, kunjungan Netanyahu ke AS bukan sekadar rutinitas diplomatik. Ini adalah upaya untuk menegaskan kembali poros Tel Aviv-Washington di tengah keterasingan Israel yang semakin dalam di mata dunia. Apakah ia akan berhasil mengunci komitmen AS tanpa harus berkompromi pada tuntutan global, atau justru pulang dengan tangan hampa, semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User