Netanyahu vs Gadi Eisenkot: Pertarungan Eks Sekutu di Pemilu Israel

Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik modern Israel, Benjamin Netanyahu akan berhadapan langsung dengan mantan sekutu dekatnya yang juga merupakan eks kepala militer negara itu, Gadi Eisenkot. P...

Netanyahu vs Gadi Eisenkot: Pertarungan Eks Sekutu di Pemilu Israel

Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik modern Israel, Benjamin Netanyahu akan berhadapan langsung dengan mantan sekutu dekatnya yang juga merupakan eks kepala militer negara itu, Gadi Eisenkot. Pemilihan umum yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini diprediksi menjadi salah satu kontestasi paling sengit, karena mempertemukan dua figur kuat dengan visi yang kian berseberangan. Eisenkot, yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) periode 2015-2019, memutuskan untuk melangkah ke arena politik elektoral dan langsung menantang Netanyahu, sang perdana menteri terlama Israel yang kini tengah dibelit berbagai masalah hukum dan fragmentasi koalisi.

Latar Belakang Hubungan yang Berubah Menjadi Rival

Netanyahu dan Eisenkot bukanlah sosok asing. Selama masa jabatannya sebagai IDF Chief, Eisenkot sering bekerja sama erat dengan pemerintah Netanyahu dalam merumuskan strategi keamanan nasional, mulai dari kampanye melawan Hamas di Gaza hingga operasi rahasia di Suriah. Namun, hubungan itu mulai retak setelah Eisenkot pensiun dan mengekspresikan keprihatinan atas kebijakan Netanyahu, terutama menyangkut reformasi peradilan yang digadang-gadang dapat merusak independensi Mahkamah Agung Israel. Pada April 2026, Eisenkot secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi menteri kabinet—di mana ia sempat menjabat sebagai menteri tanpa portofolio dalam pemerintahan darurat—sebagai bentuk protes terhadap arah politik Netanyahu. Kini, Eisenkot memilih jalan konfrontasi langsung dengan membentuk aliansi oposisi yang menjanjikan perubahan fundamental.

Siapa Gadi Eisenkot dan Mengapa Ia Dianggap Ancaman Serius?

Gadi Eisenkot adalah jenderal bintang empat yang telah menghabiskan lebih dari empat dekade di IDF. Reputasinya sebagai pemimpin militer yang pragmatis dan berorientasi keamanan memberinya kredibilitas tinggi di kalangan pemilih Israel. Tidak seperti banyak politisi sipil, Eisenkot dipandang sebagai figur yang bersih dari korupsi dan tidak tersandera kepentingan partai kecil. Setelah mengumumkan pencalonannya, sejumlah survei menunjukkan peningkatan dukungan yang signifikan untuk blok oposisi, meskipun Netanyahu masih unggul dalam basis loyalis Likud. Eisenkot dikabarkan telah menjalin komunikasi intensif dengan mantan Menteri Pertahanan Benny Gantz dan pemimpin oposisi Yair Lapid, memunculkan spekulasi tentang koalisi "pemerintahan persatuan" yang dapat menumbangkan dominasi Benjamin Netanyahu.

Posisi Netanyahu yang Semakin Terhimpit

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu memasuki musim kampanye dengan beban yang tidak ringan. Kasus tuduhan korupsi yang sudah menjeratnya sejak 2019 masih bergulir di pengadilan, menciptakan ketidakpastian konstitusional dan membelah opini publik. Selain itu, koalisi pemerintah yang dipimpin Likud terus diguncang friksi internal, terutama antara faksi sayap kanan ultra-nasionalis dan partai-partai religius. Krisis ekonomi pasca-perang dengan Hamas dan meningkatnya isolasi internasional Israel—termasuk tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa—semakin memperlemah narasi Netanyahu sebagai "Mr. Security." Dalam kampanyenya, Eisenkot dan aliansi oposisi diperkirakan akan memanfaatkan isu-isu tersebut untuk mengikis dukungan Netanyahu, dengan menyodorkan platform yang lebih moderat dan berorientasi pada rekonsiliasi domestik.

Peta Koalisi dan Dinamika Elektoral

Pemilu Israel Oktober nanti akan menjadi ujian bagi sistem multipartai yang rapuh. Dengan ambang batas parlemen yang rendah, pertarungan tidak hanya terjadi antara Netanyahu dan Eisenkot secara pribadi, melainkan antara blok pro-Netanyahu (terdiri dari Likud, ultra-Ortodoks, dan sekutu sayap kanan) melawan blok oposisi yang mungkin menggalang kekuatan dari partai tengah dan kiri-tengah. Skenario paling krusial adalah apakah Eisenkot mampu menyatukan oposisi yang sebelumnya terfragmentasi. Jika berhasil, ia bisa menggeser Netanyahu dan menjadi perdana menteri berikutnya, suatu hasil yang belum pernah terjadi sejak Netanyahu kembali berkuasa pada 2009. Namun, Netanyahu dikenal sebagai politikus ulung yang mahir membaca peta elektoral, sehingga pertempuran ini dipastikan akan berlangsung sengit hingga detik-detik terakhir.

Implikasi bagi Stabilitas Kawasan

Hasil pemilu Israel memiliki dampak langsung terhadap stabilitas Timur Tengah. Kebijakan luar negeri Netanyahu yang agresif, termasuk aneksasi terselubung di Tepi Barat dan pendekatan keras terhadap Iran, telah menempatkan Israel dalam lintasan konfrontasi dengan komunitas internasional. Eisenkot, sebaliknya, diperkirakan akan mengadopsi pendekatan yang lebih diplomatis, meskipun tetap tegas terhadap ancaman keamanan. Pergeseran kepemimpinan dapat membuka kembali negosiasi yang selama ini macet, namun juga dapat memicu reaksi keras dari kelompok garis keras. Di dalam negeri, pemilu ini juga akan menentukan arah reformasi peradilan, peran agama dalam negara, dan ketegangan antara Yahudi sekuler dengan Yahudi ultra-Ortodoks.

Dengan waktu yang tersisa sebelum pemungutan suara, kedua kubu akan menggencarkan kampanye secara masif. Netanyahu mengandalkan retorika keamanan dan ancaman eksternal, sedangkan Eisenkot menawarkan persatuan dan rekonsiliasi. Pemilih Israel dihadapkan pada pilihan fundamental: melanjutkan era Netanyahu yang penuh kontroversi atau membuka lembaran baru dengan mantan kepala militer yang belum teruji di panggung politik puncak. Satu hal yang pasti, pemilu Oktober 2026 akan menjadi tonggak sejarah yang menentukan masa depan Israel.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User