Ketua Parlemen Iran Temui Ketua MPR RI, Tegaskan Perang dengan AS Gagal

JAKARTA — Dalam kunjungan kenegaraan yang dipenuhi ketegangan geopolitik global, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menemui Ketua Majelis P

Ketua Parlemen Iran Temui Ketua MPR RI, Tegaskan Perang dengan AS Gagal

JAKARTA — Dalam kunjungan kenegaraan yang dipenuhi ketegangan geopolitik global, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menemui Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Sabtu pagi. Pertemuan bilateral itu menghasilkan pernyataan keras Teheran: segala bentuk perang yang diinisiasi Amerika Serikat terhadap Iran adalah kegagalan total, dan Republik Islam tidak akan pernah tunduk terhadap tekanan koalisi Barat.

Ghalibaf yang mengenakan setelan gelap dengan pin bendera Iran di kerahnya, duduk berhadapan dengan pimpinan MPR RI. Dialog yang berlangsung selama hampir dua jam itu membahas isu keamanan Timur Tengah, kerja sama ekonomi antarsesama negara Islam, hingga potensi eskalasi konflik antara Iran dan aliansi pimpinan AS.

Bahasa Diplomatik yang Tegas

"Amerika Serikat, rezim Zionis pendudukan, dan NATO telah menggunakan seluruh kekuatan militer, embargo ekonomi, dan perang psikologis untuk memaksa bangsa kami berlutut. Namun, sejarah membuktikan bahwa kami tetap berdiri," tegas Ghalibaf di hadapan awak media usai pertemuan.

Ia merujuk pada sanksi ekonomi selama puluhan tahun yang gagal mengisolasi Iran, serta serangan terbatas yang terjadi di kawasan Suriah dan Irak. Pernyataan tersebut disampaikan saat kapal induk USS Eisenhower masih berpatroli di perairan Teluk Persia, menambah panas suhu politik regional.

Ketua MPR RI menanggapi dengan menekankan posisi Indonesia yang konsisten: penyelesaian damai melalui dialog dan penghormatan penuh terhadap kedaulatan negara berdasarkan Piagam PBB. "Indonesia dan Iran memiliki sejarah panjang solidaritas. Kami tidak menginginkan perang di mana pun karena korbannya selalu rakyat," kata Ketua MPR.

Perang Apa Pun Tak Akan Untungkan Pihak Mana Pun

Ghalibaf memperingatkan bahwa jika terjadi konfrontasi militer langsung, stabilitas Selat Hormuz—jalur perlintasan 20 persen suplai minyak dunia—akan berada di ujung tanduk. "Itu bukan ancaman, melainkan fakta matematis. Setiap rudal yang jatuh akan memicu gelombang ekonomi yang menghantam semua benua, termasuk Asia Tenggara."

Para analis di Lembaga Studi Pertahanan dan Keamanan (Lespersi) menilai bahwa retorika Ghalibaf adalah bagian dari diplomasi ofensif Teheran pasca serangan drone dan rudal ke Israel beberapa waktu lalu, yang memaksa sekutu Barat menghitung ulang biaya politik konflik terbuka.

  1. Fase 1 (1979–2003): Pasca Revolusi Islam, Iran menghadapi isolasi dan embargo, namun berhasil membangun kemandirian pertahanan.
  2. Fase 2 (2003–2015): Invasi AS ke Irak menciptakan kekosongan kekuatan yang dimanfaatkan Iran untuk memperkuat poros perlawanan di Timur Tengah.
  3. Fase 3 (2015–2023): Penarikan AS dari perjanjian nuklir JCPOA memicu siklus eskalasi, operasi terselubung, dan sabotase.
  4. Fase 4 (kini): Perang terbuka dihindari dengan kalkulasi bahwa biaya ekonomi dan militer akan meruntuhkan kedua kubu, sehingga diplomasi menjadi arena pertempuran sesungguhnya.

Kerja Sama Bilateral yang Semakin Hangat

Di luar retorika perang, pertemuan ini juga menghasilkan beberapa nota kesepahaman informal, termasuk rencana peningkatan volume perdagangan bilateral menjadi USD 2 miliar per tahun, pertukaran teknologi pertanian di lahan kering, serta kemudahan visa bagi pengusaha halal Indonesia ke Teheran dan Isfahan.

Indonesia sendiri merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, dan Iran melihatnya sebagai mitra strategis dalam membangun kemandirian ekonomi melawan dominasi lembaga keuangan Barat. "Kami akan menggunakan mata uang lokal dalam transaksi bilateral sebagai tameng terhadap sistem SWIFT yang dipolitisasi," tambah anggota delegasi Iran.

  • Ekspor utama Indonesia ke Iran: minyak sawit, tekstil, rempah, dan kertas.
  • Ekspor utama Iran ke Indonesia: produk petrokimia, kurma, karpet, dan suku cadang pesawat.
  • Kedua negara akan meningkatkan konektivitas penerbangan langsung Jakarta–Teheran.

Isu Palestina sebagai Poros Persatuan

Topik yang tidak terelakkan adalah Palestina. Ghalibaf menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi pemerintah dan rakyat Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina, terutama setelah tragedi genosida di Gaza yang terus berlangsung.

"Indonesia adalah teladan. Meski secara geografis jauh, hati Anda begitu dekat dengan Masjid Al Aqsa. Saudara-saudara kami di Gaza selalu menyebut Indonesia dalam doa mereka," kata Ghalibaf dengan suara bergetar.

Ketua MPR RI menegaskan bahwa parlemen Indonesia akan terus mendorong pengiriman bantuan kemanusiaan, serta mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil langkah lebih konkret, termasuk kemungkinan boikot ekonomi terhadap pendudukan Israel.

Membaca Arah Baru Politik Luar Negeri Indonesia

Pertemuan ini dinilai pengamat sebagai sinyal bahwa Indonesia mulai memainkan peran lebih aktif sebagai jembatan diplomasi dalam konflik yang membelah tatanan global. Dengan menjadi tuan rumah dialog Iran–Arab Saudi dan menerima kunjungan parlemen Teheran, Indonesia memproyeksikan diri sebagai kekuatan penyeimbang di luar orbit Washington dan Beijing.

Ghalibaf menutup sesi dengan pesan untuk seluruh negara berkembang: "Dunia tidak lagi unipolar. Setiap negara yang menghormati dirinya sendiri berhak memilih jalannya sendiri, tanpa intimidasi armada laut atau sanksi unilateral."

Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari Kedutaan AS di Jakarta, para diplomat senior memantau erat setiap perkembangan di Senayan. Satu hal yang pasti: Teheran ingin memastikan bahwa Jakarta tidak hanya mendengar narasi dari sisi lain.

[SOCIAL_TWEET]: Ketua Parlemen Iran temui pimpinan MPR RI hari ini. "AS, Israel, NATO gagal paksa Iran tunduk. Perang hanya akan ganggu suplai minyak dunia," tegas Ghalibaf. Indonesia kembali jadi panggung diplomasi kunci! #Iran #MPRRI #Geopolitik #SelatHormuz[SOCIAL_TG]: 🇮🇷🤝🇮🇩 Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf blak-blakan soal perang dengan AS: "Kami tidak akan tunduk, dan perang akan merugikan semua pihak." Indonesia tegaskan diplomasi damai. Selengkapnya:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User