Karhutla Mengancam Sumatra-Kalimantan, Pengusaha Berlomba Lakukan Pencegahan

Setiap kali musim kemarau tiba, warga di sejumlah provinsi Sumatra dan Kalimantan selalu dihantui satu kekhawatiran yang sama: kabut asap pekat yang membuat langit berubah oranye, sekolah diliburkan, ...

Karhutla Mengancam Sumatra-Kalimantan, Pengusaha Berlomba Lakukan Pencegahan

Setiap kali musim kemarau tiba, warga di sejumlah provinsi Sumatra dan Kalimantan selalu dihantui satu kekhawatiran yang sama: kabut asap pekat yang membuat langit berubah oranye, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan rumah sakit dipenuhi pasien gangguan pernapasan. Ancaman ini datang dari Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan), fenomena yang hampir setiap tahun menyerang wilayah bergambut seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Ibarat seperti lilin yang menyala di dekat tumpukan jerami kering, sekali api menyentuh lahan gambut, pembakarannya bisa berlangsung berbulan-bulan dan nyaris mustahil dipadamkan hanya dari permukaan.

Di tengah musim kemarau yang diprediksi semakin kering akibat fenomena El Nino, para pengusaha perkebunan dan pengelola hutan di dua pulau itu tidak tinggal diam. Berbagai langkah pencegahan disiapkan jauh sebelum titik api pertama muncul, mulai dari patroli rutin, pembasahan lahan, hingga pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis satelit.

Skala Ancaman: Bukan Sekadar Asap Musiman

Karhutla bukanlah masalah kecil yang bisa dianggap musiman. Pada 2015, salah satu tahun terburuk dalam catatan sejarah, kebakaran hutan di Indonesia menghanguskan sekitar 2,6 juta hektare lahan dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$16,1 miliar atau setara lebih dari Rp250 triliun menurut estimasi Bank Dunia. Asap dari kebakaran tersebut bahkan menyebar hingga ke negara tetangga dan memicu ketegangan diplomatik di kawasan Asia Tenggara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini membuat lahan gambut, yang menyimpan lapisan bahan organik tebal, menjadi sangat mudah terbakar. Ketika gambut terbakar, api merambat di bawah permukaan tanah dan bisa bertahan berminggu-minggu, menghasilkan asap tebal yang mengganggu kesehatan jutaan orang.

Inovasi Teknologi: Satelit, Machine Learning, dan Deteksi Dini

Respons terhadap ancaman ini kini tidak lagi mengandalkan cara konvensional. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengoperasikan platform pemantauan bernama Sipongi, sistem yang mendeteksi titik panas (hotspot) dari data satelit penginderaan jauh secara near real-time atau hampir seketika. Teknologi ini memanfaatkan satelit seperti NOAA-NPP yang mampu mendeteksi anomali suhu permukaan dari orbit bumi, sehingga titik api kecil pun bisa terlihat dalam hitungan jam.

Kemajuan berikutnya datang dari machine learning (pembelajaran mesin), cabang dari AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) yang memungkinkan komputer belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit. Para peneliti mengembangkan algoritma yang menganalisis pola cuaca, kelembapan tanah, dan riwayat kebakaran masa lalu untuk memprediksi daerah rawan api. Hasil prediksi ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk peta risiko yang bisa diakses perusahaan dan masyarakat, sehingga patroli bisa diarahkan ke lokasi paling berbahaya terlebih dahulu.

Selain satelit, sejumlah perusahaan mulai memanfaatkan drone bersensor termal untuk memantau areal konsesi secara berkala. Di lapangan, sensor kelembapan tanah yang terhubung internet (IoT, Internet of Things) dipasang di titik-titik strategis untuk memberi peringatan otomatis ketika lahan mulai mengering melewati ambang batas aman.

Langkah Pengusaha: Pencegahan Lebih Murah daripada Memadamkan

Bagi pengusaha perkebunan kelapa sawit dan pengelola hutan tanaman industri, kebakaran bukan hanya bencana lingkungan, tetapi juga kerugian bisnis yang besar. Lahan terbakar berarti produksi terganggu, reputasi perusahaan tercoreng, dan sanksi hukum mengancam. Karena itu, banyak perusahaan menerapkan kebijakan zero burning, yaitu larangan mutlak membakar lahan untuk pembukaan area, dan menggantinya dengan metode mekanis.

Di lahan gambut, teknik yang paling efektif adalah pembasahan kembali melalui pembangunan kanal blokir. Kanal-kanal yang sebelumnya mengeringkan lahan kini disekat agar air tetap tertahan, menjaga kelembapan gambut sepanjang musim kemarau. Air dari kanal ini juga menjadi cadangan vital ketika petugas pemadam membutuhkan pasokan untuk menjinakkan api.

Ketika titik api sudah terlanjur muncul, perusahaan mengerahkan helikopter water bombing untuk menjatuhkan air dari udara serta tim pemadam darat yang bergerak cepat. Semua operasi ini dikoordinasikan lewat pusat kendali yang memadukan data hotspot satelit, laporan patroli, dan informasi cuaca terkini, sehingga keputusan bisa diambil dengan cepat dan tepat.

Kolaborasi Ekosistem: Kunci Menghadapi Musim Kering

Pencegahan Karhutla tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Ekosistem perlindungan yang ideal melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan, akademisi, dan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat yang diberdayakan melalui program desa bebas api, misalnya, bisa menjadi mata dan telinga di lapangan yang melaporkan aktivitas pembakaran sejak dini.

Para ahli sepakat bahwa investasi pada pencegahan jauh lebih efisien dibandingkan biaya pemadaman yang membengkak. Satu hari kebakaran besar bisa menghabiskan miliaran rupiah untuk operasi water bombing, belum lagi kerugian kesehatan dan ekonomi masyarakat. Dengan kombinasi inovasi teknologi, komitmen pengusaha, dan partisipasi warga, harapan untuk melewati musim kemarau tanpa kabut asap bukan sekadar mimpi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User