Kardinal Orlando Beltran Quevedo Terima Harmony in Diversity Award 2026

Di tengah upaya global merawat kebinekaan yang kian rentan, sebuah penghargaan di Jakarta pada tahun 2026 menegaskan bahwa suara pemersatu tetap bergema dari pusat-pusat spiritual. Kardinal Orlando Be...

Kardinal Orlando Beltran Quevedo Terima Harmony in Diversity Award 2026

Di tengah upaya global merawat kebinekaan yang kian rentan, sebuah penghargaan di Jakarta pada tahun 2026 menegaskan bahwa suara pemersatu tetap bergema dari pusat-pusat spiritual. Kardinal Orlando Beltran Quevedo, tokoh Katolik asal Filipina yang puluhan tahun berkarya untuk dialog antaragama dan perdamaian, dianugerahi Harmony in Diversity Award 2026. Penghargaan ini menjadi penanda betapa kerja sunyi di akar rumput lebih bermakna daripada deklarasi politik tingkat tinggi.

Malam penganugerahan berlangsung khidmat di Jakarta, dihadiri para pemuka lintas iman, diplomat, dan aktivis kemanusiaan. Kardinal Quevedo, yang kini berusia 87 tahun, hadir dengan langkah pelan namun sorot mata yang masih tajam. Dalam pidato penerimaannya, ia menekankan bahwa harmoni bukan tentang menyamakan semua identitas, melainkan merayakan perbedaan dalam bingkai keadaban. “Kita tidak perlu seragam untuk hidup berdampingan; kita hanya perlu saling mendengarkan,” ujarnya singkat, namun menggetarkan ruang acara.

Jejak Panjang di Tanah Konflik

Nama Orlando Beltran Quevedo bukanlah pendatang baru di panggung kemanusiaan. Ia memulai perjalanan pastoralnya di Mindanao, pulau selatan Filipina yang selama puluhan tahun diguncang konflik bersenjata dan ketegangan sektarian. Sebagai uskup muda, ia memilih berdiri di tengah, menolak wacana “mayoritas versus minoritas”. Bersama para pemuka Muslim dan masyarakat adat Lumad, ia mendirikan forum-forum komunikasi yang kemudian menjadi fondasi proses perdamaian lokal. Pendekatannya tidak ortodoks: ia lebih banyak mendengar ketimbang berkhotbah.

Saat diangkat menjadi Uskup Agung Cotabato tahun 1998, Quevedo mewarisi keuskupan yang tercabik-cabik. Alih-alih memperkuat barikade, ia membuka ruang-ruang rekonsiliasi. Salah satu inisiatifnya yang paling dikenang adalah program “Duyog Ramadan”, di mana umat Katolik diajak mendampingi saudara Muslim mereka selama bulan puasa sebagai gestur solidaritas. Program sederhana ini meredakan prasangka jauh lebih efektif daripada seminar-seminar akademik. Pada 2014, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi kardinal, mengukuhkan kiprahnya sebagai jembatan di kawasan yang retak.

Tak hanya di Filipina, kardinal ini juga aktif di Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC). Di forum itu, ia mendorong Gereja agar lebih berani meninggalkan zona nyaman dan masuk ke dalam dialog kehidupan nyata—bukan sekadar dokumen teologis. “Teologi tanpa tindakan hanyalah suara yang hilang di padang pasir,” demikian ia pernah menulis dalam salah satu esainya di jurnal misiologi Asia.

Harmony in Diversity Award: Makna dan Bobot

Harmony in Diversity Award bukan sekadar trofi kehormatan. Penghargaan ini diberikan oleh sebuah konsorsium lembaga perdamaian dan kebudayaan Indonesia yang menilai bahwa keberagaman Indonesia dan Asia Tenggara membutuhkan teladan nyata, bukan slogan kosong. Juri tahun 2026 terdiri dari akademisi, seniman, dan mantan diplomat yang bekerja secara independen, menimbang rekam jejak para nominator selama minimal dua dekade. Proses seleksinya ketat: bukan popularitas yang dicari, melainkan dampak berkelanjutan.

Dalam penilaian juri, Kardinal Quevedo unggul karena tiga hal: konsistensi, kedalaman spiritual, dan kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai universal ke dalam aksi konkret. Ia dinilai bukan hanya bicara tentang toleransi, tetapi benar-benar menghidupi convivencia—hidup bersama dalam perbedaan—sejak sebelum istilah itu populer di kalangan akademisi. Seorang anggota dewan juri yang enggan disebut namanya menuturkan, “Kami mencari figur yang tidak berteriak di mimbar, tetapi justru duduk di antara mereka yang terluka. Kami menemukannya pada diri Quevedo.”

Penghargaan ini juga menyertakan dana hibah sebesar 150.000 dolar AS yang akan disalurkan ke yayasan sosial pilihan penerima. Kardinal Quevedo mengumumkan bahwa seluruh dana tersebut akan dialokasikan untuk sekolah-sekolah antaragama di Mindanao yang telah lama ia dampingi. “Uang ini bukan untuk saya. Ini untuk masa depan anak-anak yang akan membangun jembatan yang belum sempat saya bangun,” katanya, disambut tepuk tangan panjang.

Pesan Jakarta untuk Masa Depan

Penganugerahan di Jakarta mengandung simbolisme tersendiri. Indonesia, dengan susunan masyarakatnya yang majemuk, kerap dijadikan cermin tentang bagaimana harmoni dirawat dan diuji. Kehadiran kardinal Katolik dari Filipina di ibu kota negara dengan populasi Muslim terbesar dunia memperlihatkan bahwa dialog bukan impian utopis. Ia adalah kerja keras sehari-hari yang membutuhkan kerendahan hati.

Dalam sesi diskusi setelah upacara, Quevedo mengingatkan bahwa tantangan terbesar keberagaman bukanlah konflik antaragama, melainkan politisasi identitas yang memecah-belah. “Agama dieksploitasi oleh kepentingan-kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan,” tegasnya. Ia mengajak para pemimpin agama untuk lebih berani menolak ketika simbol-simbol suci dijadikan alat kekuasaan. Pernyataannya relevan di tengah fenomena global merosotnya kepercayaan terhadap institusi keagamaan.

Harmony in Diversity Award 2026 diharapkan tidak hanya berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi katalis jaringan tokoh-tokoh akar rumput yang seringkali bekerja dalam sunyi. Kardinal Quevedo mungkin akan kembali ke Filipina, tetapi jejaknya di Jakarta malam itu meninggalkan tantangan: siapa selanjutnya yang akan meneruskan api yang sama?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User