Jemaah Masjid Asy-Syuhada Cikampek Berburu Lailatul Qadar Lewat Itikaf
Lantunan ayat suci Alquran bergema lembut di antara saf-saf panjang Masjid Asy-Syuhada. Tepat pada malam ke-27 Ramadhan 1443 H, puluhan warga Cikampek, Kab
Lantunan ayat suci Alquran bergema lembut di antara saf-saf panjang Masjid Asy-Syuhada. Tepat pada malam ke-27 Ramadhan 1443 H, puluhan warga Cikampek, Kabupaten Karawang, berbondong-bondong memadati rumah ibadah yang teduh itu. Mereka datang bukan sekadar untuk salat Tarawih, melainkan menetap sepanjang malam dalam ritual itikaf—berdiam diri di masjid dengan satu harapan besar: meraih kemuliaan Malam Lailatul Qadar.
Udara malam yang lembap selepas hujan ringan tak menyurutkan antusiasme jemaah. Sebagian membawa Alquran kecil, tasbih digital, dan sejadah tipis untuk alas duduk di lantai marmer masjid. Sorot lampu kristal yang memancar dari langit-langit menciptakan suasana khidmat, sementara seorang imam memandu doa-doa panjang. “Kami ingin memanfaatkan 10 malam terakhir sebaik-baiknya,” ujar Hamzah (45), salah seorang jemaah yang rutin beritikaf setiap Ramadhan. “Malam ke-27 ini sering diyakini sebagai malam turunnya Lailatul Qadar, meski kami tetap berusaha di semua malam ganjil.”
Malam Lebih Baik dari Seribu Bulan
Lailatul Qadar bukan sekadar legenda spiritual. Eksistensinya secara eksplisit disebut dalam Alquran, Surah Al-Qadr ayat 1–5, yang menggambarkan malam itu sebagai malam penuh kemuliaan, turunnya para malaikat, dan keselamatan hingga fajar. Hadis Nabi Muhammad SAW pun menegaskan bahwa barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisab, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Angka 1.000 bulan—setara sekitar 83 tahun usia manusia—menjadi simbol betapa dahsyatnya pahala yang dijanjikan. Tak heran umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Karawang, berlomba-lomba mengisi 10 hari terakhir Ramadhan dengan ibadah maksimal. “Ini seperti ‘bonus time’ di penghujung Ramadhan,” kata Ustaz Ahmad Fauzi, pengurus masjid setempat, saat ditemui di sela-sela itikaf. “Kami selalu mengimbau agar jemaah tidak hanya mengejar malam ganjil, melainkan konsisten beritikaf setiap malam sejak tanggal 20 Ramadhan.”
Itikaf: Lebih dari Sekadar Diam
Bagi yang belum familiar, itikaf berarti berdiam di masjid dengan niat ibadah dan meninggalkan kesibukan duniawi. Selama itikaf, setiap detik diisi dengan aktivitas positif: membaca Alquran, berzikir, salawat, salat sunah, atau merenungi makna hidup. Seperti yang dilakukan jemaah di Masjid Asy-Syuhada, mereka terbagi dalam beberapa kelompok kecil; ada yang membentuk halaqah tadarus, ada yang khusyuk menghitung tasbih, dan ada pula yang terisak dalam sujud panjang.
Keunikan itikaf terletak pada aspek pengasingan diri dari hiruk-pikuk dunia. Dalam kajian tasawuf, kondisi ini melatih fokus batin agar lebih peka terhadap kehadiran ilahi. Rasulullah sendiri—sebagaimana dicatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim—selalu beritikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan sepanjang hayatnya, kecuali saat sedang dalam perjalanan atau uzur.
Hikmah di Balik Rahasia Waktu
Meski banyak yang meyakini Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27, tidak ada kepastian mutlak. Beberapa riwayat menyebutkan malam-malam ganjil lain, seperti 21, 23, 25, atau 29. Ketidakpastian ini justru mengandung hikmah: agar umat tetap bersemangat beribadah di sepanjang 10 malam terakhir, tanpa merasa cukup dengan satu malam saja.
“Saya sudah tiga tahun ini selalu menginap di masjid mulai malam ke-21,” cerita Neneng (52), jemaah perempuan yang terlihat baru saja menyelesaikan doa witir. Ia membawa bekal seadanya—segelas teh hangat dan kurma Tunisia—dan duduk bersandar di dekat tiang masjid. “Suasana di sini membuat hati tenang. Seperti ada magnet yang menarik kita untuk terus ingat Allah.”
Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yaitu pada malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tradisi yang Mengeratkan Ukhuwah
Di Masjid Asy-Syuhada, itikaf juga menjadi ajang mempererat silaturahmi sosial. Takmir masjid menyediakan hidangan sahur sederhana—nasi kebuli, telur dadar, dan susu kurma—yang dimasak warga secara bergotong royong. Suasana kebersamaan ini membentuk komunitas spiritual yang saling menyemangati, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mencoba itikaf.
“Biasanya saya hanya di rumah, tapi tahun ini anak-anak sudah mandiri, jadi saya coba itikaf,” ujar Pak Rahmat (60). “Di sini saya bertemu tetangga lama, belajar tafsir bareng, rasanya Ramadhan jadi lebih bermakna.”
Tips Menjalani Itikaf yang Khusyuk
Agar itikaf tidak sekadar duduk melamun, para ulama menganjurkan beberapa langkah praktis: pertama, perbanyak doa intensif seperti doa yang diajarkan Rasulullah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Kedua, buat check-list ibadah harian—target membaca juz tertentu, jumlah tasbih, dan salat sunah—agar waktu terukur. Ketiga, hindari gawai kecuali untuk keperluan darurat, karena notifikasi media sosial mudah mengoyak konsentrasi.
Di tengah kemajuan teknologi, itikaf menjadi semacam detoks digital alami yang mengembalikan keseimbangan jiwa. Tadarus dengan mushaf fisik, zikir tanpa aplikasi, dan sujud panjang tanpa distraksi adalah terapi yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Malam semakin larut, namun lantunan salawat Nabi tak kunjung reda di sudut masjid. Cahaya lampu-lampu kecil menerangi wajah-wajah yang khusyuk berharap satu hal: semoga malam ini adalah malam Lailatul Qadar, malam di mana pintu langit terbuka lebar. Bagi warga Cikampek, malam-malam itikaf di Masjid Asy-Syuhada bukan hanya ritual tahunan, melainkan perjalanan batin yang meninggalkan jejak tak terhapuskan hingga Ramadhan berikutnya.
[SOCIAL_TWEET]: Malam ke-27 Ramadhan, puluhan warga Cikampek penuhi Masjid Asy-Syuhada untuk itikaf, berburu Lailatul Qadar. Mereka membaca Alquran, berzikir, dan berdoa hingga fajar. Malam penuh kemuliaan di penghujung Ramadan. #LailatulQadar #Itikaf #Ramadan1443H[SOCIAL_TG]: 🌙 Malam 27 Ramadhan di Masjid Asy-Syuhada Cikampek: Puluhan jemaah beritikaf, tadarus, shalawat, dan sujud panjang berharap Lailatul Qadar. Yuk, manfaatkan sisa malam ganjil!
Comments (0)