Jakarta — Nezar Patria Ingatkan Praktisi Humas Perkuat Nilai Humanis di Era AI

Ruang konvensi itu berdenyut pelan. Bukan oleh suara mesin, melainkan oleh kegamangan yang menyeruak di antara para praktisi kehumasan. Di tengah derasnya

Jakarta — Nezar Patria Ingatkan Praktisi Humas Perkuat Nilai Humanis di Era AI

Ruang konvensi itu berdenyut pelan. Bukan oleh suara mesin, melainkan oleh kegamangan yang menyeruak di antara para praktisi kehumasan. Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan yang kian mendominasi lanskap komunikasi, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyampaikan pesan yang menusuk sekaligus menguatkan: jangan pernah tinggalkan jiwa manusia dalam setiap narasi. Dalam sebuah forum yang digelar baru-baru ini, ia menegaskan bahwa nilai-nilai humanis adalah benteng terakhir yang akan menjaga profesi humas tetap relevan dan tak tergantikan oleh mesin.

Peringatan itu datang bukan sebagai nostalgi buta terhadap cara lama, melainkan sebagai peta navigasi di era disrupsi. Nezar memahami bahwa organisasi dan perusahaan kini tergoda untuk menyerahkan urusan komunikasi kepada algoritma yang menjanjikan efisiensi dan kecepatan. Namun di balik janji itu, ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh sentuhan manusia: empati, kepekaan konteks, dan kemampuan membaca gelombang emosi publik.

Gelombang Otomasi yang Mengubah Lanskap Humas

Lonceng perubahan telah berbunyi lama. Kecerdasan buatan generatif mampu merancang siaran pers, membuat konten media sosial, bahkan menyusun strategi komunikasi krisis berbasis data dalam hitungan detik. Alat-alat ini memang mengagumkan, tapi juga menimbulkan pertanyaan mendasar: jika mesin bisa melakukan segalanya, di manakah letak manusia?

Di titik inilah Nezar menyodorkan refleksi tajam. Menurutnya, kemajuan teknologi justru menegaskan bahwa nilai inti humas bukan pada kecepatan produksi konten, melainkan pada kemampuan membangun kepercayaan. Kepercayaan tidak bisa direkayasa oleh kode; ia lahir dari interaksi yang jujur, dari kehadiran yang mendengarkan, dari rasa bahwa ada manusia di balik pesan yang disampaikan.

“Kita tidak sedang berkompetisi dengan AI. Kita sedang dipanggil untuk kembali ke esensi profesi ini: menjadi penghubung yang manusiawi antara organisasi dan publiknya. AI adalah alat, bukan pengganti. Kalau kita hanya mengejar efisiensi tanpa empati, kita sudah kalah sebelum bertanding,” ujar Nezar dalam pidatonya yang disambut anggukan serius para hadirin.

Pernyataan itu sontak mengalirkan gelombang ketenangan. Banyak praktisi humas yang sebelumnya merasa terancam oleh otomasi kini mendengar validasi atas kegundahan mereka. Ada kelegaan yang terpancar dari wajah-wajah di ruangan itu, seolah mereka baru saja diingatkan bahwa profesi mereka bukan sekadar soal kata-kata, melainkan soal hati.

Kunci di Antara Data dan Empati

Nezar tidak anti-teknologi. Sebagai pemimpin di kementerian yang membidangi digital, ia justru mendorong adopsi AI untuk menunjang kerja humas. Namun ia membedakan dengan tegas antara pemanfaatan teknologi dan penyerahan kendali. Data bisa memberi tahu apa yang trending, tetapi hanya kepekaan manusia yang mampu membaca mengapa suatu isu menyentuh perasaan publik.

Ia mencontohkan situasi krisis yang menuntut respons cepat. Mesin mungkin bisa memprediksi pola penyebaran sentimen negatif, tetapi hanya manusia yang bisa memilih diksi penyampaian permintaan maaf yang tulus—sesuatu yang langsung dirasakan publik sebagai kejujuran, bukan sekadar template komunikasi. Di sinilah nilai humanis menjadi aset tak ternilai.

“Teknologi akan membantu kita bekerja lebih cepat dan lebih akurat, tapi jangan biarkan ia mencuri ruh komunikasi kita. Ruh itulah yang membuat publik mau percaya. Dan kepercayaan tidak bisa di-generate, ia harus ditumbuhkan dengan kesadaran penuh,” tekan Nezar.

Transformasi Peran, Bukan Penggantian

Salah satu kegelisahan utama dalam forum itu adalah kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan banyak posisi di bidang humas. Nezar menenangkan dengan perspektif yang lebih progresif. Ia melihat masa depan humas sebagai kolaborasi antara kecerdasan buatan dan kecerdasan emosional manusia. Peran akan bergeser dari operator teknis menjadi orkestrator strategi yang mampu menyelaraskan output mesin dengan tujuan kemanusiaan.

Dengan kata lain, humas justru akan naik kelas. Mereka tidak lagi disibukkan oleh pekerjaan repetitif yang bisa diotomatisasi, tetapi diberi ruang lebih luas untuk mengasah pemikiran kritis, membangun hubungan personal dengan pemangku kepentingan, dan merancang narasi besar yang menyentuh dimensi moral dan sosial. Transformasi ini memerlukan kesiapan mental dan peningkatan kapasitas, terutama dalam literasi digital dan empati kultural.

Di sinilah Nezar menitipkan pesan kepada asosiasi dan lembaga pendidikan kehumasan untuk segera menyesuaikan kurikulum. Ia menginginkan agar para humas muda tidak hanya mahir menggunakan perangkat AI, tetapi juga memiliki fondasi humaniora yang kuat. Filsafat komunikasi, psikologi massa, dan etika publik harus menjadi santapan wajib di tengah banjirnya kursus teknis tentang generative AI.

Menerjemahkan Humanis di Masa Depan

Pertanyaan yang kemudian menggelayut adalah: apa wujud konkret nilai humanis itu di era serba-cepat? Nezar menggambarkannya sebagai kemampuan untuk melihat setiap komunikasi bukan sebagai transaksi, tetapi sebagai relasi. Saat sebuah perusahaan mengeluarkan pernyataan tentang pemutusan hubungan kerja, misalnya, AI bisa menyusun kalimat yang informatif dan netral. Tetapi manusia humas-lah yang bisa memastikan bahwa kalimat itu tidak terasa dingin dan merendahkan martabat pekerja yang terdampak.

Kepekaan semacam ini tidak bisa diprogram. Ia datang dari kesadaran bahwa di balik setiap data, ada manusia dengan ketakutan, harapan, dan harga diri. Nezar menutup sesinya dengan ajakan yang sederhana namun dalam: jadilah lebih manusiawi di saat mesin semakin pintar.

“Saya tidak khawatir AI akan menggantikan humas yang memiliki empati tinggi. Yang harus khawatir adalah mereka yang bekerja seperti mesin: kaku, tanpa rasa, dan hanya mengandalkan template. Justru AI akan menyingkapkan siapa yang benar-benar layak disebut komunikator sejati,” pungkasnya dengan senyum yang mengesankan optimisme sekaligus tantangan.

Forum itu pun berakhir dengan atmosfer yang berbeda dari saat dimulai. Para praktisi humas keluar membawa pesan tegas bahwa masa depan profesi mereka terletak pada kemampuan merangkul teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi. Di tengah laju AI yang kian kencang, peringatan Nezar Patria menjadi kompas moral yang akan mengingatkan bahwa secanggih apa pun mesin, kisah tentang kepercayaan hanya bisa ditulis oleh hati yang hidup.

[SOCIAL_TWEET]: Di tengah gempuran AI, Wamenkomdigi Nezar Patria ingatkan praktisi humas: jangan tinggalkan jiwa manusia. Kepercayaan tidak bisa di-generate mesin, ia harus ditumbuhkan dengan empati dan ketulusan. #Humas #AI #Komdigi[SOCIAL_TG]: Wamenkomdigi Nezar Patria: AI hanyalah alat, bukan pengganti. Praktisi humas harus perkuat nilai humanis agar tetap relevan. Kepercayaan tidak bisa di-generate, ia harus ditumbuhkan. Transformasi peran, bukan penggantian total. Bagaimana langkah konkretnya? Baca artikel lengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User