Inggris Tersingkir, Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026
Doha, Qatar – 10 Juli 2026 – Laga panas antara dua raksasa sepak bola, Inggris kontra Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, berakhir dengan kemenangan d
Doha, Qatar – 10 Juli 2026 – Laga panas antara dua raksasa sepak bola, Inggris kontra Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, berakhir dengan kemenangan dramatis La Albiceleste. Sebanyak 88.966 penonton yang memadati Lusail Iconic Stadium menjadi saksi bagaimana Argentina membalikkan keadaan dan mengubur mimpi The Three Lions untuk mengulang kejayaan 1966.
Babak Pertama: Dominasi Inggris yang Berujung Gol
Sejak peluit awal dibunyikan wasit asal Prancis, Clément Turpin, Inggris langsung mengambil inisiatif serangan. Pressing tinggi ala Gareth Southgate Jr. (asisten pelatih yang kini menjabat) sukses menekan lini belakang Argentina yang masih mencari ritme. Hasilnya, pada menit ke-23, umpan silang matang Jude Bellingham dari sisi kiri berhasil ditanduk keras oleh Bukayo Saka ke pojok kiri gawang Emiliano Martínez. Skor 1-0 untuk Inggris.
Data penguasaan bola menunjukkan Inggris unggul 61% dengan 8 tembakan, sementara Argentina hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran sepanjang 45 menit pertama. Namun, kokohnya duel udara Declan Rice dan Marc Guéhi membuat serangan balik andalan La Albiceleste mandul.
Babak Kedua: Kebangkitan Argentina & Momen Kontroversial
Memasuki babak kedua, pelatih Argentina Lionel Scaloni melakukan perubahan taktik dengan memasukkan Alejandro Garnacho untuk menambah kecepatan di sayap. Masuknya pemain muda Manchester United itu memberikan energi baru. Pada menit ke-61, Garnacho dilanggar di kotak terlarang oleh Reece James. Wasit sempat ragu, namun VAR mengkonfirmasi penalti. Julián Álvarez yang menjadi algojo sukses mengecoh kiper Jordan Pickford dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
“Kami tahu Inggris kuat secara fisik, jadi kami harus lebih pintar memanfaatkan kecepatan dan transisi. Gol penalti membuka jalan, tapi gol kedua adalah buah dari strategi yang kami siapkan,” ungkap Scaloni usai laga.
Gol tersebut membakar semangat Argentina. Mereka semakin percaya diri menguasai lini tengah melalui duet Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister. Inggris yang mulai kelelahan kesulitan keluar dari tekanan. Hingga akhirnya, pada menit ke-84, sebuah skema serangan cepat dari belakang—dimulai dari sapuan Cristian Romero, langsung mengalir ke Mac Allister, dan diteruskan kepada Lautaro Martínez yang baru masuk—menjadi bencana bagi pertahanan Inggris. Martínez melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang telak di sudut kanan gawang Pickford. Argentina berbalik unggul 2-1.
Statistik & Analisis Taktik
Secara keseluruhan, Argentina hanya mencatatkan 42% penguasaan bola, namun efektivitas serangan mereka lebih tajam: 6 tembakan tepat sasaran dari 11 percobaan, berbanding 9/17 milik Inggris. Bellingham dan Rice tampil dominan di statistik duel menang dan recoveries, tetapi kurangnya kreativitas di sepertiga akhir membuat Inggris gagal menambah gol.
| Aspek | Inggris | Argentina |
|---|---|---|
| Penguasaan Bola | 58% | 42% |
| Total Tembakan | 17 | 11 |
| Tembakan Tepat Sasaran | 9 | 6 |
| Pelanggaran | 12 | 14 |
| Kartu Kuning | 2 | 3 |
Jalan Menuju Final & Luka Inggris
Kemenangan ini mengantarkan Argentina ke partai puncak melawan pemenang laga Prancis vs Brasil. Sementara bagi Inggris, kegagalan di semifinal kedua berturut-turut setelah Piala Dunia 2022 menjadi tamparan keras. Pertanyaan besar kini mengarah pada masa depan Gareth Southgate Jr. dan potensi regenerasi skuad yang semakin menua.
Pertandingan ini juga memperpanjang ‘dendam’ sepak bola antara kedua negara, yang sudah berlangsung sejak gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona di 1986. “Kami tidak memikirkan masa lalu. Kami hanya ingin membuat negara kami bangga, dan malam ini kami berhasil,” ujar kapten Argentina, Enzo Fernández, yang dinobatkan sebagai Man of the Match dengan kontribusi 93% akurasi umpan dan 4 intersep.
Comments (0)