Infantino Usulkan 64 Negara Berlaga di Piala Dunia 2030
Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menggulirkan gagasan ambisius yang berpotensi mengubah wajah sepak bola global secara fundamental. Dalam pernyataan terbarunya, ia melempar wacana agar gelaran P...
Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menggulirkan gagasan ambisius yang berpotensi mengubah wajah sepak bola global secara fundamental. Dalam pernyataan terbarunya, ia melempar wacana agar gelaran Piala Dunia 2030 diikuti oleh 64 tim nasional—dua kali lipat dari format yang berlaku saat ini. Usulan ini bukan sekadar angka; ia mencerminkan filosofi baru dalam tata kelola sepak bola dunia yang menekankan inklusivitas dan pemerataan kesempatan.
Menurut Infantino, lanskap persepakbolaan internasional telah berevolusi sedemikian rupa sehingga banyak negara yang sebelumnya berada di pinggiran kini menunjukkan kemajuan signifikan. Infantino menilai bahwa semakin banyak federasi nasional yang layak mendapat panggung untuk mewujudkan mimpi tampil di turnamen paling prestisius di muka bumi ini. Ia memandang perluasan peserta sebagai langkah logis untuk merefleksikan pertumbuhan global olahraga ini.
Dari 13 ke 64: Sejarah Ekspansi yang Panjang
Format Piala Dunia telah mengalami transformasi berkali-kali sejak edisi perdananya di Uruguay tahun 1930 yang hanya diikuti 13 negara. Tonggak-tonggak penting dalam sejarah ekspansi ini mencakup peningkatan menjadi 24 tim pada tahun 1982 di Spanyol, kemudian melonjak ke 32 tim mulai Piala Dunia 1998 di Prancis. Perubahan terbaru terjadi pada edisi 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di mana 48 negara akan berlaga untuk pertama kalinya. Kini, sebelum format 48 tim itu bahkan sempat diuji coba, Infantino sudah membayangkan lompatan berikutnya menuju 64 peserta.
Wacana ini tidak muncul dalam ruang hampa. Piala Dunia 2030 sendiri sudah dirancang sebagai edisi yang sarat simbolisme karena menandai 100 tahun turnamen ini. FIFA telah menetapkan format unik dengan tiga negara Amerika Selatan—Uruguay, Argentina, dan Paraguay—menjadi tuan rumah pertandingan pembuka sebagai penghormatan terhadap edisi perdana, sementara Spanyol, Portugal, dan Maroko akan menjadi tuan rumah utama. Dengan enam negara yang terlibat sebagai penyelenggara, infrastruktur untuk menampung 64 tim secara logistik menjadi lebih memungkinkan dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Angin Segar bagi Federasi Berkembang
Bagi banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Tengah, usulan ini membawa harapan baru. Selama beberapa dekade, tim-tim dari kawasan ini sering kali tersingkir di babak kualifikasi dan hanya bisa menyaksikan pesta sepak bola dunia dari layar televisi. Dengan kuota 64 tim, slot tambahan akan membuka peluang bagi negara-negara seperti Uzbekistan, Mali, Panama, atau Selandia Baru untuk lebih konsisten tampil di panggung utama. Ini bukan sekadar soal partisipasi; ini tentang pembangunan ekosistem sepak bola nasional yang berkelanjutan.
Infantino tampaknya memahami bahwa kehadiran di Piala Dunia menciptakan efek domino yang masif. Partisipasi di turnamen ini mendorong investasi infrastruktur, meningkatkan minat publik, memacu pembinaan usia muda, dan membuka akses terhadap pendanaan pengembangan dari FIFA. Setiap federasi yang lolos akan menerima puluhan juta dolar yang bisa diinvestasikan kembali ke dalam program-program akar rumput.
Tantangan Logistik dan Kualitas Kompetitif
Di balik optimisme tersebut, sejumlah pengamat menyuarakan kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Menyelenggarakan turnamen dengan 64 tim berarti ada sekitar 128 pertandingan sepanjang turnamen, dengan asumsi format fase grup yang diikuti babak gugur. Ini membutuhkan jadwal yang padat, infrastruktur yang masih, dan kesiapan akomodasi yang luar biasa. Bahkan dengan enam negara tuan rumah, beban logistik akan sangat berat.
Kekhawatiran lain berkisar pada kualitas permainan. Semakin banyak peserta, semakin lebar jurang kompetitif antara tim elite dan tim debutan. Fase grup berpotensi diwarnai pertandingan dengan selisih skor besar yang justru mengurangi daya tarik tontonan. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya pernah menyatakan keraguan terhadap ekspansi berlebihan yang dapat menggerus eksklusivitas dan intensitas kompetisi. Perdebatan antara kuantitas dan kualitas ini akan menjadi inti dari diskusi yang berlangsung di markas FIFA dalam beberapa bulan mendatang.
Hitungan Matematis yang Perlu Dicermati
Untuk memahami implikasi dari usulan 64 tim, penting untuk melihat angka-angkanya secara konkret. Saat ini, FIFA memiliki 211 anggota asosiasi. Dengan format 48 tim pada 2026, sekitar 22,7 persen anggota FIFA akan tampil di putaran final. Jika wacana 64 tim terwujud, proporsinya melonjak menjadi 30,3 persen. Ini berarti hampir satu dari setiap tiga negara anggota FIFA akan berpartisipasi langsung. Sebagai perbandingan, format 32 tim yang dipakai sejak 1998 hanya mencakup 15,2 persen anggota.
Dari sisi durasi, Piala Dunia 2026 dengan 48 tim direncanakan berlangsung selama 39 hari. Pertambahan menjadi 64 tim berpotensi memperpanjang turnamen hingga lebih dari 45 hari, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Kalender sepak bola internasional yang sudah sangat padat akan semakin terhimpit, dan ini belum memperhitungkan kelelahan pemain yang menjalani musim kompetisi klub yang panjang.
Keputusan yang Mencerminkan Arah Baru FIFA
Usulan Infantino ini tidak bisa dilepaskan dari visi kepemimpinannya yang terus mendorong demokratisasi sepak bola global. Sejak menjabat pada 2016, ia telah memperkenalkan sejumlah reformasi, termasuk perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim dan pengenalan format baru Piala Dunia Klub. Pola ini menunjukkan bahwa FIFA di bawah komandonya lebih mengutamakan pertumbuhan partisipasi global dibandingkan menjaga eksklusivitas elite.
Kongres FIFA yang akan datang diprediksi akan menjadi arena diskusi sengit mengenai proposal ini. Suara dari konfederasi-konfederasi benua akan sangat menentukan. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara tradisional mendukung perluasan karena akan menambah jatah mereka, sementara UEFA dan CONMEBOL kemungkinan akan lebih berhati-hati. Dinamika politik dalam tubuh FIFA ini akan menjadi kunci apakah wacana 64 tim benar-benar terealisasi atau sekadar menjadi bahan perbincangan yang menguap begitu saja.
Baca juga:
Comments (0)