Dari Sleman, Ayla Mengejar Mimpi Sepak Bola Perempuan

Setengah tahun yang lalu, tepatnya enam bulan silam, Ayla Dva Khala Ahisma mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupnya. Remaja asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini meninggalkan kenyamanan...

Setengah tahun yang lalu, tepatnya enam bulan silam, Ayla Dva Khala Ahisma mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupnya. Remaja asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini meninggalkan kenyamanan rumah dan keluarganya untuk mengejar mimpi yang sederhana namun penuh tantangan: menjadi pesepak bola putri profesional. Langkahnya itu kini menjadi cermin semangat generasi muda perempuan Indonesia yang tak lagi ragu menapaki jalur olahraga yang selama ini kerap dianggap “maskulin”.

Perjalanan dari Lapangan Desa ke Pusat Pelatihan

Ayla bukanlah nama asing di lingkungan sepak bola lokal Sleman. Sejak usia 10 tahun, ia sudah akrab dengan si kulit bundar, sering bermain bersama teman-teman lelakinya di lapangan tanah. Bakatnya terasah secara alami, tanpa akademi mewah atau pelatih eksklusif. Barulah pada usia 13 tahun, seorang pelatih tim sepak bola putri di Yogyakarta melihat potensi besar saat Ayla berlaga di sebuah turnamen antarkampung. Kecepatan, teknik olah bola, dan ketajaman instingnya di lapangan membuatnya menonjol.

Enam bulan lalu, kesempatan itu datang lebih serius. Sebuah klub promosi dari Jakarta yang fokus pada pengembangan sepak bola putri menawarinya beasiswa pelatihan intensif. Keputusan untuk pindah bukanlah hal mudah. “Saya harus meninggalkan ibu dan adik. Tapi saya yakin ini jalan saya,” kenang Ayla, yang kini berusia 16 tahun. Kini ia tinggal di asrama atlet dan menjalani sesi latihan rutin dua kali sehari, dikombinasikan dengan pendidikan formal berbasis daring.

Membangun Fondasi Sepak Bola Putri Nasional

Langkah Ayla tak bisa dilepaskan dari kebangkitan sepak bola putri Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mulai serius menggarap tim nasional putri sejak tahun 2019, dengan meluncurkan program pembinaan usia muda dan kompetisi rutin seperti Liga 1 Putri (meski sempat terhenti pada 2020). Kompetisi internasional seperti Kualifikasi Piala Asia Wanita dan Piala AFF Wanita menjadi panggung yang mendorong lahirnya talenta-talenta baru.

Namun, infrastruktur dan perhatian publik masih jauh dari ideal. Survei internal PSSI pada 2025 mencatat bahwa hanya 15 persen dari total klub sepak bola di Indonesia yang memiliki tim putri. Payung kompetisi reguler bagi kelompok usia muda juga masih sporadis. Pelatih tim nasional putri U-17, dalam sebuah diskusi virtual, mengungkapkan bahwa “Kami masih kekurangan pemain berbakat yang mendapatkan jam terbang cukup. Karena itu, pemain seperti Ayla yang berani keluar dari zona nyaman sangat berharga.”

Dari segi pendanaan, alokasi anggaran untuk sepak bola putri hanya sekitar 3-5 persen dari total belanja federasi. Minimnya sponsor juga membuat banyak klub enggan membentuk tim putri. Situasi ini menjadikan dukungan orang tua dan komunitas lokal menjadi faktor kunci. Keluarga Ayla sendiri bukan tipe orang berada, namun sang ibu selalu memberikan restunya. “Dia bilang, selama itu hal baik, ibu akan selalu mendukung,” ujar Ayla.

Lebih dari Sekadar Olahraga

Mengejar karier sebagai pesepak bola putri bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga perjuangan melawan stigma. Di banyak daerah, perempuan yang berlari di lapangan masih dianggap tidak lazim. Ayla sendiri pernah diejek oleh teman-teman SD-nya. Tetapi ia tidak menyerah. “Saya hanya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa hebat di sepak bola,” tegasnya.

Perubahan sosial perlahan mulai terlihat. Media sosial berperan besar menampilkan kisah-kisah inspiratif seperti yang dialami Ayla. Akun-akun komunitas sepak bola putri kini meraih ribuan pengikut, menandakan adanya pasar dan apresiasi baru. Bahkan, beberapa perusahaan mulai melirik potensi komersial dari olahraga ini. Turnamen sepak bola putri antar-SD di Jakarta, misalnya, tahun lalu diikuti 48 tim, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Harapan di Ujung Lapangan

Kini, mata Ayla tertuju pada skuad Garuda Pertiwi—julukan tim nasional putri Indonesia. Impiannya sederhana: mengenakan seragam dengan lambang Garuda di dada dan berlaga di kancah internasional. Dalam jangka pendek, ia fokus menembus seleksi tim nasional U-17 yang rencananya akan melakoni pemusatan latihan di akhir 2026 untuk persiapan Piala Asia U-17 Wanita 2027. Pelatih di klubnya mengatakan bahwa Ayla memiliki karakter pekerja keras dan kemauan belajar yang tinggi, dua atribut yang sering kali lebih langka daripada bakat.

Di luar lapangan, ia juga mulai memikirkan rencana cadangan. Pendidikan tetap menjadi prioritas. Dengan sistem daring, ia tetap bisa mengikuti pelajaran SMA. “Saya ingin kuliah juga nanti, mungkin jurusan olahraga atau manajemen, supaya setelah pensiun dari sepak bola saya masih bisa berkontribusi untuk olahraga perempuan,” katanya penuh perhitungan.

Kisah Ayla Dva Khala Ahisma hanyalah satu dari banyak cerita serupa yang tersebar di Nusantara. Dari pelosok Sleman, ia membawa pesan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas gender, asal, atau fasilitas. Butuh keberanian untuk melangkah, tetapi lebih dari itu, butuh sistem yang mendukung. Sepak bola putri Indonesia sedang membangun fondasi itu. Dan Ayla, dengan sepatu usang dan semangat menyala, menjadi bagian dari fondasi tersebut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User