BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, IHSG Menguat Tipis Didorong Sektor Keuangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada penutupan perdagangan Kamis (18/6) setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Indeks acuan bursa domestik

BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, IHSG Menguat Tipis Didorong Sektor Keuangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada penutupan perdagangan Kamis (18/6) setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Indeks acuan bursa domestik tersebut mengakhiri sesi di posisi 7.245,32, naik 0,32% dari penutupan sebelumnya. Stabilitas suku bunga yang sesuai ekspektasi pasar memicu perburuan saham-saham unggulan khususnya di sektor perbankan.

RDG BI Kembali Tahan Bunga Acuan

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Juni memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate di 5,75%, memperpanjang periode penahanan suku bunga menjadi delapan bulan beruntun. Gubernur BI menegaskan bahwa fokus kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengarahkan inflasi menuju sasaran 2,5% plus minus 1%. Data inflasi terbaru menunjukkan inflasi Mei mencapai 3,1% secara tahunan, sedikit meningkat dari 2,9% pada April, namun masih dalam rentang target.

Pasar Respons Positif, Sektor Keuangan Memimpin

Respons investor terhadap kebijakan BI tercermin dari pergerakan IHSG yang sepanjang sesi kedua bergerak di zona hijau. Sektor keuangan mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 0,78%, diikuti oleh sektor properti (0,64%) dan infrastruktur (0,51%). Volume transaksi mencapai 21,4 miliar saham dengan nilai Rp11,7 triliun. Investor asing mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp425 miliar di pasar reguler, menandai hari keempat berturut-turut aliran dana asing masuk.

Suku Bunga dan Ekspektasi Pasar

Stabilitas biaya pinjaman di level ini memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menyusun rencana ekspansi, sekaligus menjaga margin bunga bersih perbankan. Dari sisi valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (P/E) sekitar 13,5 kali, masih di bawah rata-rata historis lima tahun sebesar 14,2 kali. Hal ini mengindikasikan ruang apresiasi masih tersedia, meskipun pasar juga mengantisipasi arah kebijakan moneter global. Secara historis, penurunan suku bunga BI 100 basis poin berkorelasi dengan kenaikan IHSG rata-rata 7-8% dalam enam bulan berikutnya, berdasarkan data historis periode 2019-2025.

Menanti Sinyal Semester II 2026

Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi domestik selanjutnya serta sinyal dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan membuka ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan pada paruh kedua tahun 2026. Sementara itu, IHSG sepanjang tahun berjalan telah mencatatkan penguatan 4,2% dengan arus masuk dana asing bersih mencapai Rp8,3 triliun hingga akhir Mei. Investor diperkirakan akan terus memantau keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan stabilitas eksternal sebagai faktor penentu arah kebijakan moneter ke depan.

Dengan kondisi fundamental yang terjaga dan inflasi yang terkendali, pasar modal Indonesia dinilai masih kompetitif di kawasan Asia Tenggara, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan mencapai 5,1% pada 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User