Aurelie Moeremans Ungkap Sisi Gelap Hidup dalam Memoar Broken Strings
Jakarta — Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans resmi meluncurkan memoar perdananya yang berjudul Broken Strings dalam sebuah acara peluncuran eksklusif di
Jakarta — Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans resmi meluncurkan memoar perdananya yang berjudul Broken Strings dalam sebuah acara peluncuran eksklusif di bilangan Senayan, Jakarta, Jumat (5/5). Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini langsung menjadi buah bibir setelah Aurelie secara blak-blakan membuka lembaran kelam hidupnya yang selama ini hanya dikenali lewat layar kaca.
Lebih dari Sekadar Kenangan Masa Kecil
Broken Strings bukanlah memoar biasa yang hanya merangkai masa kecil penuh warna. Sejak halaman pertama, Aurelie mengajak pembaca menyelami perjuangannya melawan gangguan kecemasan, depresi, dan pengalaman traumatik yang menghantuinya sejak remaja. Lewat narasi yang puitis namun tajam, ia membongkar momen-momen di mana ia merasa “seperti senar gitar yang putus—tak lagi bisa melantunkan melodi kehidupan.”
“Saya ingin buku ini menjadi pelukan bagi siapa pun yang sedang merasa sendiri. Saya ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja,” ujar Aurelie dengan mata berkaca-kaca di hadapan awak media.
Buku setebal 256 halaman ini terbagi dalam empat babak besar: Petikan Awal yang mengisahkan masa kecilnya di Belgia, Nada Sumbang yang merekam pergolakan saat beranjak dewasa, Hening yang menggambarkan titik terendahnya, dan Harmoni Baru sebagai fase pemulihan dan penerimaan diri.
Kejujuran yang Mengguncang Publik
Bab “Hening” menjadi bagian paling mengguncang. Aurelie mengungkapkan secara detail hari-hari ketika ia nyaris menyerah pada hidupnya, termasuk pikiran-pikiran untuk mengakhiri semuanya. Ia menulis tentang bagaimana tekanan menjadi public figure, ekspektasi yang tak realistis, dan komentar pedas warganet memperparah kondisi mentalnya.
“Ada satu momen, saya hanya bisa menatap langit-langit kamar berjam-jam, tanpa bisa menangis. Semua terasa kosong. Itu titik di mana saya sadar saya butuh pertolongan,” tulis Aurelie dalam salah satu halaman.
Kejujuran ini menuai reaksi luas dari pembaca dan penggemar. Dalam waktu tiga hari sejak perilisan, Broken Strings terjual lebih dari 10 ribu eksemplar dan menduduki puncak daftar buku terlaris di sejumlah platform marketplace. Tagar #BrokenStringsBook menjadi trending topic di media sosial.
Terapi Menulis dan Pesan untuk Generasi Muda
Selama sesi tanya jawab, Aurelie mengaku bahwa proses menulis buku ini adalah bagian dari terapi yang disarankan oleh psikolognya. Ia membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan naskah, melewati banyak kali revisi dan gejolak emosi.
“Menulis adalah cara saya mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Saya harap ini bisa menjadi jembatan bagi anak muda untuk lebih peduli pada kesehatan mental,” imbuhnya.
Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi karya seniman lokal yang menggambarkan emosi di setiap bab, serta daftar kontak lembaga bantuan kesehatan mental yang bisa dihubungi. Langkah ini diapresiasi oleh psikolog klinis Riris Astuti, M.Psi, yang hadir sebagai pembicara tamu.
“Memoar seperti Broken Strings sangat penting untuk mendestigmatisasi isu kesehatan mental. Ketika figur publik berani bicara, publik merasa diwakili dan terdorong untuk mencari bantuan,” kata Riris.
Poin-Poin Kunci dalam Memoar “Broken Strings”
- Kisah masa kecil di Belgia yang penuh tantangan sebagai anak imigran campuran.
- Pertarungan melawan gangguan makan yang dipicu oleh standar kecantikan industri hiburan.
- Hubungan kompleks dengan keluarga, terutama jarak emosional dengan sang ayah.
- Kekuatan persahabatan yang menjadi penopang di saat-saat tergelap.
- Proses menemukan kembali gairah bermusik dan akting sebagai sarana penyembuhan.
Dampak dan Rencana Selanjutnya
Antusiasme publik mendorong penerbit untuk mencetak ulang pada pekan pertama. Aurelie juga berencana menggelar tur diskusi buku di lima kota besar dan mendonasikan 20% royalti untuk yayasan peduli kesehatan mental remaja.
“Broken Strings” kini tersedia di toko buku Gramedia dan platform digital. Harga buku dibanderol Rp129.000 untuk edisi reguler dan Rp199.000 untuk edisi bertanda tangan terbatas.
[SOCIAL_TWEET]: “Broken Strings” memoar Aurelie Moeremans bukan sekadar cerita selebriti—ini pengakuan jujur tentang depresi dan harapan. Baca kenapa buku ini jadi viral! #BrokenStrings #MentalHealthMatters #AurelieMoeremans[SOCIAL_TG]: 🎸 Aurelie Moeremans rilis memoar “Broken Strings”—cerita nyata tentang depresi, kecemasan, dan pemulihan. Jujur, puitis, dan penuh pesan. Sudah baca?
Comments (0)