Friday, July 3, 2026
Nasional

Inovasi Teknologi CT Scan IndoQCT Karya Dosen UNDIP, Melampaui Perangkat Serupa Buatan Amerika Serikat maupun Prancis

UNDIP, Semarang (30/6) – Fisika sering dipahami sebagai ilmu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, di balik berbagai alat kesehatan modern yang membantu dokter menegakkan diagnosis, terdapat peran besar ilmu […] The post Inovasi Teknologi CT Scan IndoQCT Karya Dosen UNDIP, Melam

UNDIP, Semarang (30/6) – Fisika sering dipahami sebagai ilmu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, di balik berbagai alat kesehatan modern yang membantu dokter menegakkan diagnosis, terdapat peran besar ilmu fisika. Salah satunya hadir dalam teknologi Computed Tomography (CT) Scan, alat pencitraan medis yang mampu menampilkan bagian dalam tubuh secara lebih detail.

Figur sentral dalam pembahasan menarik ini dibahas bersama Dr. Choirul Anam, S.Si., M.Si., F.Med., Pakar Fisika Komputasi Medis Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro. Namanya tercatat dalam jajaran elite 2% World Top Scientist. Pengakuan global yang menempatkannya sebagai salah satu ilmuwan muda paling produktif dan berdampak secara internasional di bidang fisika medis.

Pada kesempatannya, Dr. Anam menjelaskan bagaimana fisika, teknologi, dan riset dapat bekerja bersama untuk mendukung layanan kesehatan yang lebih aman, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat. Menurut Dr. Anam, CT scan merupakan salah satu teknologi penting dalam dunia kedokteran karena mampu membantu tenaga medis melihat kondisi organ atau jaringan tubuh secara tiga dimensi. Berbeda dengan pemeriksaan sinar-X biasa yang menghasilkan gambar dua dimensi, CT scan bekerja dengan mengambil gambar dari berbagai sudut, lalu merekonstruksinya menjadi citra yang lebih lengkap.

“Dengan CT scan, dokter dapat melihat bagian dalam tubuh secara lebih jelas. Misalnya untuk mengetahui letak kelainan, ukuran tumor, atau kondisi organ tertentu. Informasi ini sangat membantu dalam proses diagnosis,” jelas Dr. Anam.

Meski memiliki manfaat besar, penggunaan CT scan tetap perlu dilakukan secara tepat. Sebab, alat ini memanfaatkan radiasi pengion berupa sinar-X. Dosis radiasi pada CT scan relatif lebih besar dibandingkan pemeriksaan rontgen biasa karena pemindaian dilakukan dari berbagai arah. Karena itu, aspek keselamatan pasien menjadi perhatian utama dalam pengembangan teknologi pencitraan medis.

Dr. Anam menegaskan, masyarakat tidak perlu takut berlebihan terhadap prosedur CT scan. Risiko yang ditimbulkan relatif kecil, terlebih jika pemeriksaan dilakukan sesuai indikasi medis dan mengikuti standar keselamatan. Namun, risiko sekecil apa pun tetap perlu dikendalikan melalui prinsip optimisasi, yaitu memperoleh kualitas citra terbaik dengan dosis radiasi serendah mungkin.

“Dosis radiasi tidak boleh berlebih karena berisiko memicu efek stokastik atau potensi kanker dalam jangka panjang,” ujar Dr. Choirul Anam saat berbagi kisah di studio UNDIP Podcast. “Namun, jika dosis ditekan terlalu rendah, hasil gambar justru menjadi penuh gangguan visual atau bising (noisy) sehingga menyulitkan dokter menegakkan diagnosis secara akurat. Di sinilah proses optimisasi mutlak diperlukan,” ungkapnya.

Dari kebutuhan inilah Dr. Anam bersama tim mengembangkan perangkat lunak untuk mendukung pengukuran dosis radiasi dan kualitas citra pada CT scan. Salah satunya adalah IndoseCT, perangkat lunak yang digunakan untuk menghitung estimasi dosis radiasi yang diterima pasien saat menjalani pemeriksaan CT scan. Selain itu, ia juga mengembangkan IndoQCT, perangkat lunak yang membantu proses kendali mutu kualitas citra CT scan secara otomatis, cepat, dan objektif.

Dr. Anam mulai merancang piranti mutakhir ini sejak medio 2018 untuk melacak akurasi dosis radiasi pasien, yang kemudian disusul pengembangan sistem otomatisasi kendali mutu gambar komputer pada tahun 2021. “Sebelum adanya sistem otomatis, pengukuran kualitas citra pada CT scan banyak dilakukan secara manual. Proses itu membutuhkan waktu, ketelitian tinggi, dan sangat bergantung pada pengalaman penguji. Melalui IndoQCT, berbagai parameter kualitas citra dapat diukur lebih efisien, mulai dari noise, akurasi CT number, hingga parameter lanjutan seperti detectability index,” paparnya.

Inovasi Anak Bangsa yang Mendunia

Keunggulan utama IndoQCT terletak pada kelengkapan fiturnya yang melampaui perangkat serupa buatan Amerika Serikat maupun Prancis. Piranti lunak ini mampu menganalisis parameter dasar hingga tingkat lanjut seperti indeks detektabilitas objektif secara instan tanpa terikat pada merek instrumen CT Scan tertentu.

Menariknya, IndoQCT dikembangkan agar dapat digunakan pada berbagai jenis phantom atau alat bantu uji kualitas citra yang umum dipakai dalam pemeriksaan CT scan. Hal ini membuat perangkat lunak tersebut lebih fleksibel dan dapat dimanfaatkan dengan aksesibilitas terbuka (free access) melalui https://indosect.com/indoqct/ oleh mahasiswa, dosen, peneliti, hingga praktisi fisika medis.

Dr. Anam menyampaikan, IndoQCT telah diunduh oleh pengguna dari lebih dari 90 negara. Capaian ini menunjukkan bagaimana riset dari Indonesia dapat memberi kontribusi nyata bagi komunitas ilmiah dan layanan kesehatan global. “Awalnya kami hanya ingin membuat sesuatu yang bermanfaat. Kalau kemudian hasil riset itu dipublikasikan dan diakui, bagi saya itu merupakan dampak lanjutan. Tujuan utamanya tetap menghasilkan karya yang dapat digunakan orang lain,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai integrasi kecerdasan buatan, Dr. Anam menjelaskan teknologi mutakhir tersebut telah merambah luas ke berbagai sektor medis, mulai dari rekonstruksi gambar hingga deteksi otomatis penyakit. Meski begitu, untuk evaluasi kualitas citra dasar pada IndoQCT, kalkulasi matematis objektif konvensional saat ini masih dipandang jauh lebih kokoh dan memadai. Pengembangan kecerdasan buatan baru akan difokuskan secara masif ketika sistem mulai diarahkan untuk mendiagnosis jenis penyakit secara mandiri.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Anam juga menjelaskan profesi fisikawan medis. Menurutnya, fisika medis merupakan cabang ilmu fisika yang memanfaatkan konsep dan metode fisika untuk keperluan diagnosis maupun terapi. Bidang ini mencakup fisika radiologi dan intervensional, fisika radioterapi, serta fisika kedokteran nuklir.

Keberadaan fisikawan medis menjadi penting karena teknologi kesehatan semakin kompleks. Alat-alat seperti CT scan, radioterapi, dan kedokteran nuklir membutuhkan pengawasan, pengukuran, serta evaluasi berkala agar tetap aman dan akurat digunakan dalam pelayanan pasien.

Pesan Penguatan Karakter bagi Generasi Peneliti Muda

Rekam jejak riset Dr. Anam hingga menghadirkan ratusan artikel ilmiah bereputasi global di Scopus bermula dari sebuah keberanian bersikap saat menempuh studi doktoral. Menepis rasa rendah diri (minder) di tengah kepungan dominasi teknologi negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi kunci pembuka gerbang keberhasilan.

“Perbedaan mendasar ilmuwan di negara maju terletak pada aspek konsistensi dan keistiqamahan,” kenang peraih penghargaan Early Career Award dari International Organization for Medical Physics (IOMP) tersebut. “Mereka bersedia menekuni satu topik spesifik secara mendalam hingga puluhan tahun. Evolusi riset kecil yang dikerjakan setahap demi setahap secara kontinu itulah yang pada akhirnya menjelma menjadi sebuah karya luar biasa.”

Bagi segenap civitas academica dan peneliti muda Indonesia, Dr. Anam menekankan pentingnya menanamkan keyakinan awal untuk mampu bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi. Baginya, laporan kinerja formal maupun publikasi jurnal bereputasi tinggi hanyalah sebuah dampak pengiring atau efek samping positif. Orientasi utama dari setiap jengkal riset sains semestinya diletakkan pada dedikasi murni untuk memecahkan problematika riil dan memberikan sumbangsih nyata bagi kemaslahatan masyarakat luas.

“Kuncinya adalah merasa bisa, lalu terus belajar. Baca jurnal, bertanya kepada orang yang lebih paham, mencoba, memperbaiki, dan tetap konsisten. Riset tidak selalu langsung besar. Banyak hal dimulai dari langkah kecil yang dikerjakan terus-menerus,” pungkasnya.

Kiprah Dr. Choirul Anam menjadi salah satu contoh bagaimana Universitas Diponegoro terus mendorong hadirnya riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi bergerak lebih jauh untuk memberi manfaat nyata dan berdampak langsung bagi kemaslahatan publik global. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)

The post Inovasi Teknologi CT Scan IndoQCT Karya Dosen UNDIP, Melampaui Perangkat Serupa Buatan Amerika Serikat maupun Prancis appeared first on Universitas Diponegoro.

Sumber: Universitas Diponegoro

Related Posts

a
admin⏱ 6 menit baca

admin adalah kontributor di Terdepan. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Comments (0)

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Comment