Friday, July 3, 2026
Nasional

Diam, Duduk, Patuh: Hidden Curriculum dan Reproduksi Kuasa di Sekolah Indonesia

Mengungkap bagaimana hidden curriculum membentuk budaya patuh, relasi kuasa, dan pengalaman belajar di sekolah Indonesia.

Diam, Duduk, Patuh: Hidden Curriculum dan Reproduksi Kuasa di Sekolah Indonesia
Sumber : pexels.com

Bayangkan ini. Seorang anak kelas empat SD mengangkat tangan di tengah pelajaran IPS. Gurunya baru selesai menjelaskan bahwa penjajahan Belanda berlangsung 350 tahun. Si anak bertanya, "Bu, tapi katanya ada yang bilang itu tidak tepat?"

Ia tidak salah. Klaim "350 tahun" memang sudah lama diperdebatkan sejarawan.

Tapi yang terjadi di kelas bukan diskusi. Guru itu diam sebentar, lalu berkata, "Itu yang ada di buku. Nanti keluar di ujian." Beberapa teman sekelas menoleh ke si anak dengan ekspresi yang susah didefinisikan, bukan kagum, bukan juga benci. Lebih ke: kenapa kamu mempersulit diri sendiri?

Anak itu tidak bertanya lagi sampai akhir semester.

Tidak ada yang mengajarinya untuk berhenti. Tidak ada hukuman tertulis. Tidak ada larangan di tata tertib sekolah. Tapi pelajaran itu terserap sempurna: bertanya terlalu jauh itu tidak aman.

Inilah hidden curriculum. Ia tidak ada di silabus, tidak masuk rapor, dan tidak pernah dibahas dalam rapat guru. Tapi ia mengajar lebih konsisten dari mata pelajaran mana pun.

Ada yang Mengajar Sebelum Guru Masuk Kelas

Philip Jackson adalah orang pertama yang memberi nama pada fenomena ini. Dalam bukunya Life in Classrooms (1968), ia mengamati sesuatu yang sebetulnya sudah semua orang rasakan tapi tidak ada yang sebut: sekolah mengajarkan dua hal secara bersamaan.

Yang pertama adalah kurikulum resmi: matematika, bahasa, sains, sejarah. Yang kedua adalah sesuatu yang jauh lebih ambigu: cara bersikap, cara menunggu giliran, cara merespons otoritas, cara membaca situasi sosial tanpa ada yang menjelaskan aturannya secara eksplisit.

Jackson menyebut yang kedua itu hidden curriculum.

Ia bukan teori konspirasi. Jackson tidak bilang ada pihak jahat yang sengaja merancang ini. Ia hanya mengamati bahwa anak-anak yang menghabiskan ribuan jam di dalam kelas tidak hanya menyerap konten pelajaran mereka menyerap "cara" kelas itu bekerja. Dan cara itu mengajarkan sesuatu yang sangat spesifik tentang bagaimana dunia bekerja.

Di Indonesia, "cara" itu punya cita rasa tersendiri.

Sebelum pelajaran pertama dimulai, sudah ada tata letak yang bicara: guru di depan, murid di barisan rapi menghadap ke satu arah. Sudah ada ritual yang harus dijalani: berdiri, memberi salam, duduk atas izin. Sudah ada hierarki yang tidak perlu dijelaskan karena sudah terasa begitu kelas itu dibuka.

Siapa yang punya suara di ruangan ini? Siapa yang menentukan kapan sesuatu cukup dibahas? Siapa yang boleh bergerak bebas dan siapa yang harus minta izin bahkan untuk ke kamar mandi?

Semua itu diajarkan. Tidak ada di buku teks mana pun. Tapi semua orang tahu.

Bourdieu Masuk, tapi Tidak Pakai Jas

Pierre Bourdieu tidak populer di kalangan umum, namanya lebih sering muncul di skripsi sosiologi daripada di percakapan warung kopi. Tapi konsepnya menjelaskan sesuatu yang sangat konkret tentang mengapa hidden curriculum bekerja begitu kuat.

Bourdieu bilang setiap orang masuk ke dunia sosial dengan membawa "modal" tertentu. Bukan uang atau bukan hanya uang. Ada modal budaya: cara bicara, selera, pengetahuan tentang "bagaimana hal-hal dilakukan" di lingkungan tertentu. Ada modal sosial: jaringan, koneksi, siapa yang kamu kenal. Dan dari modal-modal itu terbentuk yang ia sebut habitus.

Konkretnya begini. Anak yang tumbuh di keluarga di mana meja makan adalah tempat berdebat soal berita, di mana pertanyaan disambut bukan dipadamkan, di mana buku ada di mana-mana, anak itu masuk kelas dengan modal budaya yang sudah selaras dengan apa yang sekolah anggap "siswa yang baik." Ia tahu cara ngomong yang terdengar cerdas. Ia tidak takut salah di depan umum. Ia merasa berhak untuk berpendapat.

Anak lain masuk kelas dengan modal yang berbeda. Bukan kurang, tapi berbeda. Dan sekolah alih-alih menjembatani perbedaan itu lebih sering memperkuat yang sudah ada.

Yang sudah punya modal: makin merasa di tempat yang tepat.

Yang belum punya: makin merasa asing, makin diam, makin menyimpulkan bahwa tempat ini bukan untuk mereka.

Bourdieu menyebut proses ini reproduksi sosial. Sekolah tidak mengubah struktur masyarakat ia mereproduksinya, dengan kemasan yang terasa adil karena semua anak duduk di kursi yang sama dan mengerjakan ujian yang sama.

Di Indonesia, lapisan ini bertambah tebal. Modal budaya yang paling dihargai di sekolah kita bukan rasa ingin tahu atau kemampuan argumentasi melainkan kemampuan membaca apa yang diinginkan guru dan memberikannya tepat waktu. Itu juga keterampilan, tapi beda jenis. Dan beda konsekuensi jangka panjangnya.

Reproduksi Kuasa, Versi Lokal

Samuel Bowles dan Herbert Gintis menulis Schooling in Capitalist America pada 1976 dengan argumen yang sederhana dan tidak nyaman: sekolah tidak dirancang untuk membebaskan, ia dirancang untuk mempersiapkan.

Mempersiapkan apa? Tenaga kerja. Pekerja yang tepat waktu, patuh pada atasan, tidak banyak mempertanyakan kondisi kerja, dan cukup terampil untuk menjalankan instruksi tanpa perlu memahami gambaran besarnya.

Mereka menyebutnya correspondence principle, struktur relasi di sekolah mencerminkan struktur relasi di tempat kerja. Guru adalah bos. Murid adalah pekerja. Nilai adalah gaji. Ikuti aturan, dapat reward. Langgar aturan, dapat sanksi. Sistem ini tidak mengajarkan anak bagaimana berpikir; ia melatih anak bagaimana berperilaku.

Di Indonesia, argumen ini perlu satu lapisan tambahan.

Di atas logika kapitalisme industri itu, ada sedimen budaya yang sudah lama mengendap: penghormatan pada senioritas, relasi patron-klien yang mendarah daging, dan tafsir tertentu tentang "hormat" yang sering kali berarti "tidak membantah." Ini bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk dalam dirinya sendiri ada nilai-nilai relasional yang memang penting di sini. Masalahnya adalah ketika nilai-nilai itu dipakai bukan untuk membangun relasi yang sehat, melainkan untuk menutup ruang kritik.

"Hormati gurumu" bisa berarti banyak hal. Dalam versi terbaiknya, ia mengajarkan bahwa pengalaman orang lain layak didengarkan sebelum kamu menyimpulkan sesuatu. Dalam versi yang sering terjadi di kelas, ia berarti: jangan koreksi gurumu meski ia salah, jangan tanya terlalu dalam, jangan buat situasi jadi tidak nyaman.

Hasilnya bukan hormat. Hasilnya adalah anak-anak yang tidak tahu bagaimana cara tidak setuju dengan sopan karena tidak setuju tidak pernah diajarkan sebagai keterampilan yang sah.

Tiga Ruang di Mana Ini Paling Terasa

1. Ruang kelas dan dinamika "anak emas"

Hampir setiap orang punya memori tentang ini. Ada anak yang selalu dipanggil maju. Ada yang jawabannya selalu dipuji bahkan ketika isinya biasa saja. Ada yang kesalahannya dikoreksi dengan pelan, dan ada yang ditertawakan atau lebih buruk, dijadikan contoh di depan kelas cara yang salah.

Ini bukan kebetulan dan bukan selalu soal nilai. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa guru secara tidak sadar memberi lebih banyak waktu, perhatian, dan pertanyaan terbuka kepada siswa yang mereka anggap "potensial" dan label itu sering terbentuk di minggu pertama, sebelum ada cukup data untuk menyimpulkan apapun.

Anak yang tidak masuk kategori itu belajar sesuatu. Bukan dari apa yang dikatakan guru, tapi dari apa yang tidak dikatakan. Dari berapa lama mereka menunggu sebelum dipanggil. Dari ekspresi guru ketika mereka menjawab salah dibanding ketika anak lain menjawab salah.

Pelajaran yang terserap: tempatmu di sini sudah ditentukan. Mungkin lebih baik tidak terlalu berusaha melampaui batas itu.

2. Upacara bendera dan latihan tunduk

Ini yang paling jarang dibahas karena terlalu familiar untuk dicurigai.

Upacara bendera mingguan bukan tentang nasionalisme. Ia adalah latihan ritual yang sangat spesifik: berbaris lurus, diam saat pemimpin upacara berbicara, bergerak sesuai instruksi, tidak boleh ada yang menonjol, tidak boleh ada yang berbeda. Yang pingsan pun tidak boleh langsung dibantu sebelum ada komando.

Tidak ada yang menjelaskan kenapa. Tidak ada diskusi tentang apa yang dirayakan atau apa yang dipelajari. Ia dijalani karena memang begitu caranya, sudah dari dulu, dan akan tetap begitu.

Bourdieu punya kata untuk ini: doxa,keyakinan yang tidak perlu dipertanyakan karena sudah terasa seperti bagian dari alam semesta, bukan pilihan yang dibuat oleh siapapun.

Anak yang 12 tahun mengikuti ritual ini setiap Senin pagi tidak keluar dengan kesimpulan sadar bahwa "saya harus patuh pada institusi." Kesimpulan itu sudah menjadi bagian dari cara ia merasakan dunia. Itu yang lebih susah diubah dari sekadar pendapat.

3. Buku teks sejarah dan satu versi kebenaran

Buku teks sejarah Indonesia bukan hanya soal apa yang ditulis di dalamnya yang juga sudah banyak dipersoalkan tapi soal bagaimana ia disajikan.

Satu buku, satu versi, tidak ada footnote yang mengatakan "ada pihak yang berpendapat berbeda." Tidak ada pertanyaan di akhir bab yang meminta siswa membandingkan dua interpretasi. Tidak ada ruang untuk "sejarah sebagai argumen" hanya "sejarah sebagai fakta yang harus dihapal."

Ini bukan hanya masalah akurasi historis. Ini masalah epistemologis: anak-anak diajarkan bahwa pengetahuan itu tunggal, datang dari otoritas, dan tugas mereka adalah menerimanya, bukan mempertanyakannya.

Kemudian kita heran kenapa generasi yang sama kesulitan memilah informasi di era media sosial. Tapi kita tidak pernah mengajari mereka bahwa kebenaran itu bisa diperdebatkan, bahwa sumber perlu dikritisi, bahwa "tertulis di suatu tempat" bukan akhir dari diskusi.

Kita mengajari mereka kebalikannya, selama 12 tahun.

4. Yang Paling Berbahaya Adalah yang Tidak Terasa

Louis Althusser punya konsep yang terdengar rumit tapi intinya cukup sederhana: Ideological State Apparatus.

Negara tidak hanya menjalankan kuasa lewat polisi dan hukum lewat paksaan langsung. Ia juga bekerja lewat institusi yang terasa netral dan bahkan baik: keluarga, agama, media, dan tentu saja sekolah. Institusi-institusi ini tidak memaksa mereka menormalisasi. Mereka membuat cara berpikir tertentu terasa seperti akal sehat, bukan seperti pilihan ideologis.

Ini yang membuat hidden curriculum begitu efektif sekaligus begitu susah dilawan.

Kalau sekolah terang-terangan berkata, "kami melatihmu untuk patuh pada atasan dan tidak mempertanyakan otoritas," ada yang akan protes. Tapi karena tidak ada yang berkata demikian karena semuanya terasa seperti "ya memang begini caranya belajar" tidak ada yang merasa perlu mempertanyakan.

Guru yang membungkam pertanyaan murid sering tidak merasa sedang membungkam. Ia merasa sedang menjaga kelas tetap kondusif, menyelesaikan materi tepat waktu, mematuhi kurikulum. Murid yang diam bukan karena dipaksa diam, ia diam karena sudah belajar bahwa diam adalah pilihan yang lebih aman, lebih nyaman, lebih tidak berisiko.

Tidak ada yang jahat di sini. Itu yang paling menyulitkan.

Sistem yang jahat bisa diidentifikasi dan dilawan. Sistem yang berjalan lewat kebiasaan baik, niat baik, dan "ya memang begini caranya" itu yang benar-benar sulit diubah, karena tidak ada yang merasa bertanggung jawab atas hasilnya.

Bukan Solusi, tapi Pertanyaan yang Tepat

Tidak ada peta jalan reformasi pendidikan di sini. Bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu mudah dan karena hidden curriculum tidak bisa diubah hanya dengan mengganti kurikulum tertulis.

Ia ada di cara guru merespons pertanyaan yang tidak terduga. Di bagaimana sekolah menangani murid yang tidak cocok dengan cetakan yang ada. Di siapa yang dipajang sebagai contoh sukses dan siapa yang tidak pernah disebut. Di momen-momen kecil yang tidak ada di RPP mana pun tapi terjadi ratusan kali setiap hari di ribuan ruang kelas di seluruh negeri.

Yang bisa ditawarkan bukan solusi. Hanya pertanyaan.

Kalau hidden curriculum bekerja karena tidak terasa karena ia sudah menjadi bagian dari cara kita melihat "sekolah yang baik" dan "murid yang baik" maka pertanyaan yang relevan bukan "bagaimana kita mengubah sistemnya?" tapi lebih dulu: "apa yang sedang kita anggap normal sekarang yang mungkin akan kita sesali dua puluh tahun lagi?"

Mungkin cara guru merespons murid yang berbeda pendapat. Mungkin cara kita mengukur keberhasilan belajar hanya lewat angka. Mungkin keyakinan kita bahwa ketertiban di kelas adalah tanda proses belajar yang baik, padahal ketertiban dan pembelajaran tidak selalu berjalan beriringan.

Tidak ada yang tahu pasti. Tapi pertanyaan itu perlu diajukan. Dan ironinya, kemampuan mengajukan pertanyaan seperti itu adalah persis hal yang paling jarang diajarkan di sekolah kita.

Sumber: Kumparan

Related Posts

a
admin⏱ 10 menit baca

admin adalah kontributor di Terdepan. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Comments (0)

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Comment