Friday, July 3, 2026
Nasional

Kawanan Gajah Liar Mengamuk di Lampung, Dosen UGM Anjurkan Warga Tidak Berkebun di Lahan Hutan Konservasi

Seorang petani di Lampung dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diserang kawanan gajah liar saat berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga tewas setelah gubuk yang ditempatinya dikepung oleh kawanan gajah yang sedang melintas. Saat dit

Seorang petani di Lampung dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diserang kawanan gajah liar saat berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga tewas setelah gubuk yang ditempatinya dikepung oleh kawanan gajah yang sedang melintas. Saat ditemukan, gubuk tersebut dalam kondisi rusak dan berantakan akibat amukan kawanan gajah. Menurut petugas TNBBS, pihaknya telah berulang kali menyosialisasikan larangan mendirikan pondok di kawasan tersebut karena merupakan jalur lintasan gajah yang kerap dilalui satwa liar tersebut.

Menanggapi peristiwa tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan meningkatnya konflik antara manusia dan gajah di alam liar. Menurut Wisnu, faktor pertama adalah semakin menyusut dan terfragmentasinya habitat alami gajah akibat aktivitas manusia, seperti alih fungsi hutan, pembukaan perkebunan kelapa sawit, hingga deforestasi. Kondisi tersebut memaksa kawanan gajah keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan dan air yang mencukupi.

“Kawanan gajah biasanya mendekati atau menyerang area manusia terutama karena menyusutnya atau terfragmentasinya habitat alami mereka. Hal ini memaksa mereka mencari sumber pakan dan air yang ada di wilayah yang kini dihuni manusia. Perilaku ini sebenarnya merupakan suatu respons alami untuk bertahan hidup, bukan sekadar agresi,” ungkapnya, Jumat (3/7).

Wisnu menambahkan bahwa gajah sangat menyukai tanaman pertanian yang dibudidayakan masyarakat, seperti kelapa sawit, padi, dan pisang. Tanaman-tanaman tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nutrisi gajah secara lebih mudah dibandingkan sumber pakan yang semakin terbatas di habitat alaminya.

Selain keterbatasan sumber pakan, Wisnu menyebut setiap kawanan gajah juga memiliki jalur migrasi tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika jalur tersebut terhalang oleh pembangunan jalan, permukiman, atau bangunan lain, gajah tetap akan berusaha melintasinya karena merupakan bagian dari perilaku alaminya. “Gajah sudah memiliki rute jelajah sendiri yang turun-temurun dikenalkan oleh kawanan sebelumnya. Jika jalur tradisional mereka terblokir oleh jalan atau bangunan, maka mereka akan menerobos wilayah tersebut karena insting alaminya,” ujar Wisnu.

Meski demikian, Wisnu menegaskan bahwa perilaku agresif gajah umumnya bukan terjadi tanpa sebab. Serangan terhadap manusia biasanya merupakan respons defensif ketika gajah merasa terancam, baik untuk melindungi dirinya maupun anak-anaknya. Upaya pengusiran yang dilakukan dengan cara yang tidak tepat, seperti menggunakan kekerasan, menimbulkan suara bising, atau melemparkan benda, dapat memicu kepanikan dan meningkatkan risiko serangan dari kawanan gajah.

Menurut Wisnu, keberadaan pondok maupun aktivitas masyarakat yang menginap di dalam kawasan hutan juga meningkatkan risiko terjadinya konflik. Saat kawanan gajah melintas untuk mencari makan atau mengikuti jalur jelajah alaminya, bangunan yang berada di lintasan tersebut dapat dirobohkan dan membahayakan orang yang berada di dalamnya. “Ketika kawanan gajah melintas untuk mencari makan atau melewati jalur alaminya, tempat Masyarakat menginap dapat menjadi sasaran atau dirobohkan oleh kawanan gajah, yang berpotensi menyebabkan serangan fatal terhadap manusia,” jelas Wisnu.

Atas dasar itu, Wisnu menegaskan pentingnya penegakan aturan yang melarang pembukaan lahan, aktivitas berkebun, maupun pembangunan pondok di zona inti dan kawasan hutan konservasi. Menurutnya, upaya tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga habitat alami gajah sekaligus mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Lebih lanjut, Wisnu turut menyoroti keberadaan penyerangan gajah mengindikasikan adanya krisis ekologis. Melalui penyusutan lahan, deforestasi, dan fragmentasi habitat gajah yang tentunya mengancam kelestarian populasi satwa. Dengan begitu, kualitas habitatnya pun menurun dan berakibat pada meningkatnya frekuensi keluar masuknya gajah dari kawasan hutan. Maka dari itu, timbul konflik diantara gajah dan lingkungannya, dalam konteks ini manusia, karena ruang bergeraknya yang semakin menyempit. “Dengan adanya ruang gerak yang menyempit dapat meningkatkan  konflik yang tinggi,” ungkapnya.

Dikatakan Wisnu bahwa langkah yang aman untuk menghadapi kawanan gajah liar adalah dengan menjaga jarak minimal 50 meter, mencari tempat berlindung di balik pohon besar, dan bergerak melawan arah angin agar aroma manusia tidak terdeteksi. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk tidak panik dan melakukan hal–hal yang dapat memprovokasi kawanan gajah yang dapat memicu respons predator dari gajah. “Namun demikian hal-hal yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik karena gajah memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam, kepanikan atau teriakan justru dapat memicu respons defensif mereka,” tuturnya.

Melalui perspektif kesehatan satwa dan konservasi, Wisnu menegaskan jika dampak yang diciptakan oleh konflik ini tidak hanya menurunkan kesejahteraan satwa melalui cedera atau stres kronis, tetapi juga mengancam kelestarian populasi gajah. Dengan adanya stres kornis, kekebalan tubuh gajah dapat menurun dan tingkat reproduksi gajah juga ikut menyusut.

Sistem pemantauan dan mitigasi konflik manusia dan gajah sebenarnya telah dilakukan melalui beberapa usaha, seperti pelacakan pergerakan melalui GPS, pembentukan unit respons lokal, dan zonasi habitat. Namun, Wisnu mengatakan jika implementasinya masih bersifat reaktif sehingga perlu pencegaan optimal melalui pendekatan yang lebih kuat terhadap perilaku hewan dan manajamen lanskap. “Implementasinya masih bersifat reaktif. Pencegahan optimal membutuhkan pendekatan sains yang lebih kuat terkait perilaku hewan dan manajemen lanskap,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah teknologi telah dimanfaatkan untuk meminimalkan konflik, mulai dari pemasangan pagar listrik (electric fence), hingga penggunaan meriam karbit atau bola asap untuk menggiring kawanan gajah secara lebih aman. Selain itu, program restorasi habitat melalui pengayaan pakan di dalam kawasan hutan juga dinilai penting agar gajah tidak terdorong keluar mencari makanan di area perkebunan masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital seperti sistem peringatan dini berbasis IoT, jaringan Long Range Wide Area Network (LoRaWAN), kamera jebak pintar yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI), serta deteksi bioakustik juga perlu terus diperkuat untuk memantau pergerakan gajah dan memberikan peringatan kepada masyarakat sebelum konflik terjadi.

Di sisi lain, Wisnu menekankan bahwa penyelesaian konflik manusia dan gajah tidak dapat mengandalkan teknologi semata, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah perlu mengintegrasikan koridor jelajah gajah ke dalam perencanaan tata ruang agar pembangunan tidak memutus habitat satwa liar. Pengelola kawasan konservasi perlu memperkuat restorasi habitat, patroli, serta pengoperasian unit respons cepat di wilayah rawan konflik. Sementara itu, masyarakat didorong untuk menerapkan mitigasi berbasis komunitas, seperti menanam komoditas yang kurang disukai gajah di area perbatasan hutan, menjaga sistem peringatan dini secara bersama, serta mengembangkan mata pencaharian alternatif, termasuk ekowisata berbasis pengamatan gajah. Dengan pendekatan tersebut, Wisnu berharap upaya konservasi dapat berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat gajah.

“Untuk mewujudkan perlindungan seimbang antara manusia dan gajah, kolaborasi antarpemangku kepentingan sangat krusial. Pemerintah harus mengintegrasikan ruang hidup satwa dalam tata ruang, pengelola kawasan melakukan restorasi habitat dan patroli, sementara masyarakat mengadopsi teknik mitigasi seperti pagar hayati atau tanaman produktif tak disukai gajah,” pungkasnya.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Pexels.com

Artikel Kawanan Gajah Liar Mengamuk di Lampung, Dosen UGM Anjurkan Warga Tidak Berkebun di Lahan Hutan Konservasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada

Related Posts

a
admin⏱ 6 menit baca

admin adalah kontributor di Terdepan. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Comments (0)

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Comment