Halo sahabat pembaca semuanya. Setelah sekian lama tidak banyak menulis kembali dikarenakan saya sangat sibuk menyelesaikan disertasi doktoral saya di Delft University of Technology, akhirnya dengan penuh perasaan rasa syukur atas nikmat dan rahmat Allah SWT, saya dinyatakan lulus sebagai doktor dari Delft University of Technology tertanggal 2 Juni 2025.
Perjalanan untuk lulus ini ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama, namun saya bersyukur karena selama perjalanan menyelesaikan studi doktoral saya ini, saya banyak sekali menemukan pembelajaran yang sangat berharga. Pembelajaran ini bukan hanya tentang topik disertasi saya terkait dengan Logistik Maritim Kepulauan, tetapi juga banyak pembelajaran kehidupan yang saya dapatkan.
Salah satu pembelajaran terbesar yang saya dapatkan selama studi doktoral ini adalah sebuah kesadaran bahwa selama ini yang kita dapatkan dan prestasi yang saya raih adalah rahmat dan anugerah dari Allah SWT. Sebelum doktoral, saya selalu yakin bahwa segala pencapaian yang saya dapatkan adalah hasil dari saya yang berusaha keras dan belajar dengan sangat rajin tanpa mengenal lelah. Sebelum doktoral, saya selalu meyakini bahwa jika saya menginginkan A, maka caranya adalah bekerja keras dengan strategi X, Y, Z. Pada waktu dulu, karena (hampir) selalu berhasil mencapai prestasi dengan memetakan kerja keras, pandangan saya dibutakan bahwa ya segala prestasi atau capaian dalam hidup kita yang tergantung bagaimana usaha kita.
Efeknya? Cukup menjengkelkan untuk orang lain dan saya tidak menyadarinya. Karena saya menganggap bahwa segala capaian hidup kita adalah karena kerja keras semata, maka saya memiliki sifat tidak mau kalah dari orang lain, jika saya menang maka saya menganggap bahwa itu karena usaha saya, dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah pada saat saya menjadi seorang guru atau coach, maka saya memaksakan standar kerja keras saya kepada orang lain, tanpa mau tahu bagaimana struggle atau apa yang terjadi pada murid saya tersebut. Saya pun (tanpa sadar) sering merasa yang paling pintar, tinggi hati karena berilmu, dan menyepelekan orang lain yang terlihat ‘kurang pintar’.
Semua pandangan itu berubah perlahan pada saat saya studi doktoral di Delft University of Technology. Bagaimana tidak, saya yang tadinya merasa bahwa semua masalah dan prestasi dapat dicapai karena kerja keras semata, perlahan – lahan mulai terbukti bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Ketika saya baru mulai menjalani program PhD ini, saya langsung diberikan realita bahwa pembimbing disertasi saya pindah ke kampus lain dari Belanda ke New Zealand. Hal ini berujung pada proposal riset saya yang sudah saya buat selama 1,5 tahun mentah seketika karena promotor saya tidak mau melanjutkan topik tersebut karena pembimbing kedua saya ini pindah. Cita – cita yang tadinya ingin dapat menyelesaikan doktoral selama kurang dari 4 tahun dan membuat impresi yang positif kepada atasan saya harus pupus, karena di setahun pertama PhD saya, saya harus mengulang dari awal topik apa yang akan saya riset di TU Delft.
Selama setahun pertama itu, saya mencoba kembali menggunakan ‘prinsip kerja keras’ yang sudah melekat di pikiran saya untuk bisa membuat proposal riset yang keren. Saya begadang, membaca ratusan referensi, menulis proposal, lalu melakukan bimbingan sepekan atau dua pekan sekali. Lalu apa yang terjadi di setiap bimbingan? Seluruh hal kerja keras yang telah saya lakukan dimentahkan, lagi, dan lagi. Promotor saya belum menyetujui apa yang akan saya lakukan selama 3,5 tahun ke depan. Saya bekerja keras lagi, revisi, kerja keras lagi, diganti topik, kerja keras lagi, revisi lagi, hingga saya merasa menjadi orang yang sangat bodoh sekali waktu itu.
Bayangkan, seseorang yang sebelum berangkat ke TU Delft merasa bahwa selama ini mengetahui rahasia sukses melalui jalur kerja keras (dan selalu berhasil), ternyata semua itu rasanya tidak berpengaruh karena apa yang saya kerjakan dengan sepenuh tenaga malah selalu dilihat sebagai hasil yang tidak memuaskan. Deadline ujian proposal riset pun semakin lama semakin dekat, dan saya semakin menyadari bahwa saya blank dan merasa gelap bagaimana menyelesaikan proposal riset ini. Saya pun merasa putus asa.
Hingga akhirnya di tengah keputusasaan itu, saya mendapatkan pengingat dari istri, orang tua, dan juga teman – teman yang untuk kembali lebih banyak membaca Al-Quran. Ya, membaca Al-Quran!
Saya tersadar, bahwa di tengah hiruk pikuk saya ingin sukses disertasi dan membaca (mungkin) ribuan paper, sebagai seorang muslim justru saya jauh dan jarang membaca Al-Quran.
Akhirnya saya mencoba untuk melepaskan diri dari perkara proposal riset ini. Saya pun mulai untuk membuka kembali Al-Quran. Saya banyak membaca, menenangkan hati dan pikiran. Saya baca selama berhari – hari, dan benar – benar rehat sejenak dari perkara proposal riset ini.
Hingga akhirnya saya mencoba tidak sekedar membaca tulisan arab nya, namun juga membaca artinya. Long story short, akhirnya sampailah saya pada QS. At-Takwir: 26-29. Berikut ini adalah terjemahannya.
AT-TAKWIR : 26-29
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
TERJEMAHAN :
“Maka ke manakah kamu akan pergi? Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
Pada ayat ini, saya kembali disadarkan. “Ke manakah kamu akan pergi?”. Saya jadi menggali kembali segala memori saya dan dari pengalaman hidup yang telah saya dapatkan untuk menjawab, “sebenarnya saya melakukan ini semua, untuk apa ya?”. Jawaban dari pertanyaan ini saya dapatkan pada bagian ayat Quran lainnya, yaitu:
YASIN: 83
فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
TERJEMAHAN :
“Maka, Mahasuci (Allah dari segala sifat kekurangan dan keburukan) yang dalam (genggaman) tangan-Nya kerajaan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”
Di sini kemudian saya mejadi tersadar, benar – benar tersadar. Bahwa apa yang selama ini saya lakukan dengan susah payahnya, sebenarnya ujung – ujungnya saya akan kembali kepada Allah SWT juga. Ibaratnya kita punya kampung halaman, maka keberadaan kita di dunia ini sebenarnya hanya merantau saja. Di ujung akhirnya kita akan pulang kembali ke kampung halaman kita.
Pada titik ini, saya tersadar bahwa sebenarnya apa yang kita usahakan semua ini yang sebagai bekal pulang kampung. Dan siapa yang di perantauan ini justru tidak menjadikannya sebagai upaya mengumpulkan bekal, maka sepertinya akan rugi sekali.
Maka, 3 bulan sebelum saya ujian proposal riset, saya benar – benar merasa ada beban di hati saya yang terangkat. Saya merasa menjadi lebih ringan dalam menjalani hidup. Kenapa? Karena dengan ini saya menjadi sadar bahwa Allah SWT menilai saya itu, bukan dari hasilnya tetapi dari dari kemauan dan niat untuk berusaha karena memang ingin mengumpulkan bekal saat pulang kampung nanti. Akhirnya saya belajar, bahwa selama ini sebagai orang yang selalu berfokus pada hasil, hasil, dan hasil, akhirnya saya melepaskan itu semua. Saya bekerja, belajar, dan sebagainya, saya serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Tujuan saya hanya berusaha dengan baik, benar, seimbang, dan maksimal. Seimbang di sini maksudnya belajar dan bekerja dengan tetap memperhatikan shalat tepat waktu di masjid, meluangkan waktu bersama keluarga, serta memberikan waktu untuk diri ini istirahat agar dapat selalu sehat.
Sejak itu, saya belajar untuk tidak lagi mengukur diri saya dari apa yang menempel pada diri saya. Saya jadi berkurang hasrat untuk berprestasi dan meninggikan diri saya. Saya tidak lagi ingin mencari – cari pujian manusia. Jikalau memang prestasi itu datang, maka saya lebih menganggap memang Allah SWT yang menitipkan hal tersebut kepada saya sebagai suatu amanah yang harus saya jaga.
Tidak mudah berubah untuk seperti itu. Terkadang ada rasa – rasa di mana saya kangen juga dipuji dan tidak ingin dianggap sebagai seorang yang ‘biasa – biasa saja’. Saya yang tadinya selalu terdorong untuk menjadi ‘istimewa’ di mata manusia, tiba – tiba harus merelakan untuk dianggap dan dipandang biasa… hal ini menjadi tidak mudah rasanya.
Lalu, bagaimana dengan proposal disertasi saya?
Sejak itu, saya pun mengerjakan proposal saya dengan enteng dan proporsional saja. Saya kerjakan tetap dengan baik, jika waktunya shalat tiba, saya berhenti untuk shalat. Jika waktunya istirahat tiba, saya istirahat. Jika waktunya bercengkerama bersama keluarga saya, ya saya berhenti untuk meningkatkan bonding dengan anak – anak saya.
Urusan lulus dan tidak lulus, saya serahkan kepada Allah SWT. Jika Allah menitipkan kepada saya amanah lulus proposal riset, artinya saya harus menerima amanah tersebut dengan baik saat menjadi kandidat doktor. Jika Allah SWT berkehendak saya tidak lulus, ya sudah. Berarti itu yang terbaik.
Bisa dibilang, 3 bulan sebelum sidang proposal (di mana waktu itu saya masih belum punya topik fiks apa yang mau saya kerjakan), saya justru merasa tenang. Ya sudah, saya lakukan semampu yang saya bisa, dengan tetap menjaga keseimbangan hidup.
3 bulan berlalu dengan segala dinamikanya, alhamdulillaah.. atas izin Allah SWT, ternyata saya dinyatakan lulus ujian sidang proposal. Pada waktu itu, komite penguji saya dikenal sebagai komite penguji yang strict dan jago di bidangnya. Topik saya pada waktu itu adalah tentang mengembangkan metode untuk mengukur ketahanan pelabuhan di kepulauan terhadap bencana alam. Predikat kelulusan proposal pada waktu itu adalah keputusan bulat dari semua anggota komite, tanpa adanya komite yang memberikan komentar negatif.
Long story short lagi, selama kurang lebih 4 tahun berikutnya, saya menggunakan prinsip di atas. Kembali dengan segala dinamika jiwa yang tarik – menarik antara ingin terlihat keren dan berprestasi, tapi diingatkan oleh Quran bahwa itu semua tidak penting dan tidak menjadi bekal yang ditanya pada saat pulang kampung nanti, akhirnya saya dinyatakan lulus doktor di Delft University of Technology.
Alhamdulillaah, atas izin Allah SWT… saat saya submit disertasi, saya mendapatkan nilai A (sangat baik) dari semua komite. Saat pertama kali mendapatkan pengumuman nilai ini, saya benar – benar merasa bahwa Allah SWT baik sekali sama saya… dengan ini, saya boleh maju ke sidang di TU Aula yang sakral itu.
Dan… akhirnya pada tanggal 2 Juni saya melaksanakan doctoral defence saya. Pada saat defense tersebut, saya pun selalu mencoba mengingatkan diri bahwa sidang ini bukan upaya untuk membuat saya tampil keren, hebat, atau pintar. Sidang ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat hasil riset saya yang mudah – mudahan bermanfaat untuk kemudian menjadi amal jariyah untuk saya. Alhamdulillaah, pada saat sidang saya diberikan ketenangan batin luar biasa. Saya ingat mempersiapkan diri sekitar 5 hari untuk dapat tampil dan mempersiapkan berbagai skenario jawaban atas pertanyaan penguji. Sewaktu sidang, ada beberapa jawaban saya yang memang tidak sempurna dan mungkin penguji bingung dengan jawaban saya. Namun, saya merasa itulah yang terbaik yang bisa saya berikan. Saya tidak peduli bagaimana manusia lain melihat saya tampil, yang saya pedulikan adalah Allah SWT telah melihat usaha saya agar dapat bertahan pada sidang dengan baik pada waktu itu.
Dan… alhamdulillaah… saya dinyatakan lulus, atas izin Allah SWT.


Melalui tulisan di blog ini saya ingin mengucapkan terima kasih dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan dan hidayah untuk melihat kembali apa esensi sebenarnya menjalani kehidupan. Tentu saja tidak lupa keluarga kecil dan keluarga besar saya untuk beragam supportnya, promotor dan supervisor saya yang sabarnya luar biasa dahsyat dan tidak menghakimi saya serta selalu menghargai proses yang saya tempuh, walau sekecil apapun, paranymph saya Alfan dan Rifqi yang membantu menguatkan saya, LPDP sebagai sponsor saya, insyaAllah akan terus mengabdi untuk Indonesia tercinta walaupun berkali – kali lingkungannya mencoba mempengaruhi saya untuk berpikir hasil, hasil, hasil, dan mengakali proses (berkebalikan dari apa yang saya dapatkan di Delft ini yang lebih mengutamakan membangun proses dan kualitas diri daripada terlihat pintar), Departemen Teknik Industri UI, FTUI, dan seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Semoga sedikit cerita ini ada manfaatnya untuk rekan – rekan semua, terutama yang sedang mempersiapkan dan sedang berjuang menyelesaikan disertasi doktoralnya.
Tebakan saya, setelah membaca ini, Aldi Taher akan bilang, “Semua ilmu milik Allah”
Dan saya setuju. Semua ilmu milik Allah, dan semua yang terjadi atas izin Allah. Semoga bermanfaat.
The post Pembelajaran Terbesar yang Saya Dapatkan Selama Studi Doktor dari Delft University of Technology first appeared on Arry Rahmawan Destyanto.
Sumber: Arry Rahmawan
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment!
Leave a Comment