Setiap periode kepemimpinan gubernur memiliki karakter, strategi, hingga kebijakan berbeda yang berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali.Menjelang usia emas 50 tahun, PKB pun diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi yang telah dibangun, tetapi juga menghadirkan pembaruan melalui rekonstruksi karya-karya legendaris, penciptaan atraksi baru, penguatan dokumentasi, hingga terpenting adanya peningkatan dukungan pendanaan bagi para seniman. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk ‘Perjalanan Panjang PKB Menuju 50 Tahun’ yang digelar Kawiya Bali bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (3/7). Diskusi menghadirkan Kurator PKB XLVIII Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem, dengan Nyoman Winata sebagai moderator. Dalam pemaparannya, Prof. Dibia Prof. Dibia mengatakan, sejak pertama kali digagas Mantan Gubernur Bali almarhum Ida Bagus Mantra pada 1979, PKB memang tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi panggung hiburan. Festival ini dirancang sebagai strategi membangun kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Bali melalui tiga pilar utama, yakni rekonstruksi kesenian yang mulai hilang, penggalian potensi budaya yang hidup di masyarakat, serta pengembangan karya-karya baru. "Memang sejak awal Pesta Kesenian Bali dimaksudkan untuk melakukan pembinaan generasi muda terhadap budaya mereka. Dijadikan wahana untuk membuat mereka sadar, cinta, dan bangga terhadap warisan seni budaya melalui program rekonstruksi, penggalian, dan pengembangan," ujarnya. Budayawan sekaligus maestro seni kelahiran Singapadu, Gianyar, 12 April 1948 itu mengingat ketika masih muda, di desanya hanya terdapat dua orang penari Barong. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi puluhan. Tak hanya itu, dulu juru bapang yang dominan hanya di mainkan oleh orang dewasa, sekarang telah dipelajari anak-anak sejak usia dini. "Kondisi ini menunjukkan orang tua maupun anak-anak sudah memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Harapan kita ke depan, generasi muda tidak perlu lagi dikhawatirkan akan meninggalkan budaya Bali," katanya. Guru Besar Koreografi ISI Denpasar itu kemudian mengulas sejarah panjang yang menjadi cikal bakal lahirnya PKB. Menurutnya, meski resmi dimulai pada 1979, berbagai peristiwa seni dan budaya telah lebih dahulu berkembang dan menjadi inspirasi penyelenggaraannya. Ia menyebut tradisi mepeed, lahirnya barungan Gong Kebyar di Bali Utara pada 1915, Festival Gong Kebyar di Gianyar pada 1938, hingga Merdangga Utsawa yang digagas Listibiya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan) sebagai ajang lomba Gong Kebyar se-Bali menjadi inspirasi lahirnya PKB. Selain itu, Bali juga memiliki tradisi arak-arakan pada masa Presiden Soekarno setiap menerima tamu negara. "Setiap Presiden Soekarno menerima tamu dari luar negeri selalu diadakan arak-arakan. Saya beberapa kali berjalan dari Singapadu ke Denpasar untuk melihatnya," kenang Prof. Dibia. Festival Ramayana Nasional 1970, serta Festival Ramayana Internasional 1971 turut menjadi inspirasi lahirnya PKB. Berbagai pengalaman tersebut, menurutnya, diramu secara cerdas oleh Ida Bagus Mantra menjadi Pesta Kesenian Bali yang mampu mewadahi seluruh potensi seni budaya Bali.Sebelum PKB lahir, Bali juga telah memiliki tradisi pesta seni yang digelar bersamaan dengan pameran pembangunan serta peringatan hari jadi pemerintah daerah maupun Hari Kemerdekaan RI. Peresmian Taman Budaya (Art Center) pun menjadi salah satu tonggak penting karena kemudian menjadi pusat penyelenggaraan PKB sampai saat ini. Prof. Dibia mengaku masih mengingat dirinya tampil membawakan Kecak Subali-Sugriwa saat peresmian Art Center tersebut. Sebagai salah seorang yang terlibat sejak awal, Prof. Dibia mengatakan PKB pada masa pertama hanya menghadirkan sekitar 15 pertunjukan yang digelar pada Sabtu, Minggu, dan Rabu. Sendratari Ramayana mendominasi sebelum berkembang ke kisah Mahabharata, Babad, Tantri, dan cerita klasik lainnya. Sekitar satu dekade pertama, PKB juga tidak hanya dipusatkan di Denpasar, tetapi digelar bergilir di berbagai kabupaten. Festival Gong Kebyar menjadi agenda paling bergengsi dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. "Euforia Festival Gong Kebyar luar biasa. Masyarakat merasa menjadi bagian dari PKB dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya masing-masing," ujarnya. Memasuki 1985, PKB mulai menapaki panggung internasional dengan hadirnya kelompok gamelan Sekar Jaya dari California, Amerika Serikat. "Kedatangan Sekar Jaya menjadi titik awal PKB memasuki dunia internasional. Mereka menampilkan kesenian Bali dengan kualitas yang benar-benar di luar ekspektasi kita," katanya. Menurut Prof. Dibia, setelah melewati sepuluh tahun pertama, PKB berkembang sangat pesat. Jumlah pertunjukan meningkat dari belasan menjadi lebih dari 200 kegiatan yang berlangsung hampir setiap hari selama festival. Namun demikian, Prof. Dibia mengingatkan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan menjelang 50 tahun penyelenggaraan PKB. Persoalan utama yang disorot adalah belum adanya komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan anggaran PKB secara berkelanjutan. Ia menilai biaya produksi kesenian terus meningkat setiap tahun, sedangkan dukungan dana tidak selalu bertambah. Kondisi tersebut cukup memberatkan sejumlah kabupaten yang memiliki kemampuan fiskal terbatas. "Kalau kita membanggakan PKB sebagai ajang pembinaan generasi muda, maka harus didukung dengan dana yang memadai. Jangan sampai harga-harga naik tetapi dana PKB justru turun," tegasnya. Ia mengusulkan agar pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota menyepakati mekanisme peningkatan anggaran PKB setiap tahun, misalnya sebesar 10 hingga 20 persen sesuai kenaikan kebutuhan penyelenggaraan. Selain pendanaan, Prof. Dibia menilai dokumentasi PKB juga masih belum tertata dengan baik. Banyak naskah, notasi gamelan, foto, dan dokumen sejarah masih tersimpan secara pribadi sehingga perlu dihimpun menjadi pusat dokumentasi PKB. Khusus menyambut PKB ke-50, ia mengusulkan rekonstruksi karya-karya terbaik yang pernah menjadi ikon PKB, terutama sendratari legendaris, sekaligus mendorong lahirnya ikon baru seperti pengembangan Barong Macan dan Barong Bangkal agar memiliki identitas pertunjukan tersendiri. Ia juga berharap perayaan emas PKB menghadirkan kelompok seni dari berbagai negara sehingga semakin memperkuat posisi PKB sebagai festival seni budaya bertaraf dunia. "Perayaan 50 tahun PKB harus menjadi momentum yang istimewa. Selain menghadirkan rekonstruksi karya-karya terbaik yang pernah lahir, juga perlu menciptakan hal-hal baru yang menjadi penanda perjalanan PKB ke depan," tandasnya. Sementara itu, Prof. Bandem mengatakan perjalanan PKB selama hampir lima dekade perlu dipahami secara utuh agar dapat menjadi pijakan menyongsong usia emas festival tersebut pada 2028 mendatang. Ia mengaku panitia meminta dirinya menelaah perjalanan PKB sejak pertama kali digelar pada 1979 hingga penyelenggaraan tahun 2026 sebagai sebuah strategi pelestarian sekaligus pengembangan kesenian Bali. Setelah menghimpun berbagai dokumen dan pengalaman selama mengikuti perkembangan PKB, Prof. Bandem kemudian membagi perjalanan festival tersebut ke dalam lima periode berdasarkan masa kepemimpinan gubernur Bali. "Setelah saya mengumpulkan berbagai materi, saya melihat perjalanan PKB selama 48 tahun ini dapat dikelompokkan menjadi lima periodisasi sesuai kepemimpinan lima gubernur yang membangun PKB," kata Prof. Bandem yang juga dikenal sebagai ‘Joe Papp’ dari Bali ini. Guru Besar Etnomusikologi ini memberikan nama, pada periode pertama menurutnya adalah masa perintisan dan revitalisasi tradisi pada 1979 hingga 1989, yaitu masa kepemimpinan Gubernur Ida Bagus Mantra yang menjadi penggagas lahirnya PKB. Ia menjelaskan istilah revitalisasi menjadi kata kunci pada masa tersebut. Pemerintah saat itu berupaya menghidupkan kembali berbagai potensi seni tradisi Bali melalui pembinaan, penggalian, serta pengembangan berbagai cabang kesenian. Periode kedua berlangsung pada 1989 hingga 1998 di bawah kepemimpinan Gubernur Ida Bagus Oka. Prof. Bandem menyebut masa ini sebagai konsolidasi dan penguatan identitas Bali. Menurutnya, pergantian kepemimpinan dari Ida Bagus Mantra menuju Ida Bagus Oka membawa dinamika tersendiri dalam perjalanan PKB. Karena itu, pada periode tersebut perhatian diarahkan pada penguatan identitas budaya Bali agar fondasi yang telah dibangun sebelumnya semakin kokoh. Selanjutnya, periode ketiga berlangsung pada 1999 hingga 2008 pada masa Gubernur Dewa Made Beratha. Ia menyebut fase tersebut sebagai masa reformasi dan pelibatan publik yang lebih luas. Kata maestro tari Bali sekaligus akademisi kelahiran Singapadu, Gianyar, 22 Juni 1945 itu, semangat reformasi yang berkembang saat itu turut memengaruhi penyelenggaraan PKB. Keterlibatan masyarakat semakin besar, tidak lagi hanya bertumpu pada lembaga pendidikan seni seperti Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar (Cikal bakal ISI Bali) maupun SMKI Bali (kini bertransformasi menjadi SMKN 3 Sukawati atau KOKAR), tetapi juga melibatkan sekaa, sanggar seni, yayasan, dan berbagai komunitas budaya yang telah berkembang di masyarakat. "Zaman reformasi membawa semangat demokratisasi sehingga pelibatan publik menjadi jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya," katanya. Periode berikutnya berlangsung pada 2009 hingga 2018 di era Gubernur Made Mangku Pastika yang disebut sebagai fase diplomasi budaya dan diversifikasi festival seni. Pada masa itu, PKB tidak hanya berfungsi sebagai ruang diplomasi budaya, tetapi juga diperluas melalui lahirnya festival-festival baru, seperti Festival Mahalangö dan Festival Nawanatya. Kehadiran dua festival tersebut dinilai memperkaya ruang kreativitas para seniman sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Sementara periode kelima dimulai pada 2019 hingga sekarang di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster. Prof. Bandem menyebut fase ini sebagai menuju kemapanan dan penguatan ekosistem budaya. Menurutnya, lahirnya berbagai regulasi kebudayaan, salah satunya Perda Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem budaya yang lebih kuat. Berbagai unsur pendukung kebudayaan mulai dikonsolidasikan sehingga PKB tidak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah festival, melainkan menjadi bagian dari sistem pelestarian budaya Bali secara menyeluruh. Tema-tema PKB pun mulai diarahkan pada penggalian nilai-nilai lokal yang bersumber dari konsep ‘Sad Kerthi’ sebagai landasan pembangunan Bali. "Periode ini ditandai dengan lahirnya berbagai perda kebudayaan dan penguatan ekosistem budaya. PKB menjadi bagian dari upaya yang lebih besar dalam pemajuan kebudayaan Bali," tukasnya. Prof. Bandem menambahkan, setiap fase perkembangan PKB memiliki karakteristik, tema, program utama, serta dampak yang berbeda terhadap perkembangan seni budaya Bali. Pada masa Ida Bagus Mantra, misalnya, PKB belum mengenal tema tahunan sebagaimana sekarang. Namun, festival ketika itu menjadikan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata sebagai sumber utama inspirasi penciptaan karya seni.Selain itu, keterlibatan sanggar-sanggar seni juga semakin besar. Jika sebelumnya peserta PKB lebih banyak berasal dari desa adat maupun sekaa tradisional, kini sebagian besar penampil berasal dari sanggar seni yang telah memiliki pembinaan lebih terstruktur. Untuk menjaga kualitas pertunjukan, pemerintah bahkan telah mulai menerapkan sertifikasi terhadap lembaga seni. Prof. Bandem menyebut ratusan sanggar seni telah mengikuti proses sertifikasi sebagai upaya meningkatkan kualitas kelembagaan, meski sertifikasi terhadap individu seniman belum dilakukan. Meski telah berkembang pesat, Prof. Bandem menilai PKB masih menghadapi sejumlah tantangan menuju usia emas ke-50. Salah satunya adalah tata kelola penyelenggaraan yang menurutnya harus semakin profesional. Ia menegaskan, festival yang telah berkembang menjadi sangat besar membutuhkan manajemen kebudayaan yang kuat agar mampu mengelola ratusan kegiatan, ribuan seniman, serta berbagai kepentingan yang terlibat di dalamnya. "Tata kelola akan menjadi tantangan terbesar ke depan. PKB membutuhkan manajemen yang profesional karena skala penyelenggaraannya terus berkembang," cetusnya. Selain tata kelola, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara seni sakral dan seni pertunjukan. Menurutnya, jangan sampai seni wali maupun bebali kehilangan nilai kesakralannya karena terlalu diarahkan menjadi seni balih-balihan semata. "Seni wali dan bebali adalah sumber lahirnya berbagai kreativitas seni Bali. Kalau itu tidak dijaga, kita akan kehilangan sumber penciptaan kesenian kita sendiri," ungkapnya. Prof. Bandem juga menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap seni-seni klasik seperti wayang kulit yang dinilai masih minim ruang pertunjukan dalam PKB. Ia berharap ke depan tersedia infrastruktur yang lebih memadai sehingga kesenian klasik tetap memperoleh tempat yang layak. Hal serupa juga disampaikan terkait permainan tradisional atau dolanan anak. Menurutnya, hingga kini bentuk pertunjukan dolanan yang benar-benar menggambarkan permainan rakyat Bali masih terus dicari sehingga perlu lebih banyak penggalian terhadap lagu maupun permainan tradisional. Mengenai masa depan PKB, Prof. Bandem mengungkapkan rencana pemerintah memindahkan pusat penyelenggaraan festival ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Klungkung tepat pada PKB Emas 2028 yang saat ini sedang dibangun. Ia mengatakan kawasan tersebut dirancang memiliki panggung terbuka seperti Arda Candra berkapasitas sekitar 15 ribu penonton, beberapa wantilan untuk berbagai kegiatan seni, gedung pertunjukan tertutup Gedung Ksirarnawa, museum, hingga fasilitas penunjang lain yang diharapkan mampu mendukung penyelenggaraan PKB dalam skala yang lebih besar. Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut akan memperkuat ekosistem kebudayaan Bali sekaligus menjadi rumah baru bagi penyelenggaraan PKB pada masa mendatang. Menutup pemaparannya, Prof. Bandem menegaskan selama hampir lima dekade PKB telah menjadi ‘monumen hidup’ pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang terus bergerak berkat dukungan masyarakat, seniman, pemerintah, dan media massa. *tra
Sumber: Nusa Bali
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment!
Leave a Comment