Pameran tersebut menampilkan karya-karya figuratif yang diperkaya sentuhan ekspresif dan simbol-simbol spiritual. Setiap lukisan merekam perjalanan batin sang seniman, mulai dari kasih dalam keluarga, relasi antarmanusia, hingga refleksi tentang iman dan kemanusiaan.Bagi NiWay, tema Unconditional Love bukan sekadar judul pameran, melainkan inti dari seluruh proses kreatif yang dijalaninya."Semua yang saya lakukan hanya karena kasih karunia Tuhan. Saya tidak membawa agama apa pun, tetapi saya membawa keyakinan tentang kasih tanpa syarat. Itulah yang menjadi dasar saya berkarya," ujarnya saat pembukaan pameran, Jumat (3/7/2026).Ia menjelaskan cinta tanpa syarat tidak hanya dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga kasih orang tua kepada anak, kepedulian terhadap sesama, cinta kepada alam, hingga kasih terhadap hewan."Kasih ibu kepada anak, kasih ayah kepada anak, kasih kepada sesama, kepada alam, semuanya merupakan bagian dari unconditional love yang saya rasakan," katanya.NiWay (kedua dari kiri) menampilkan 19 karya lukisan di Sudakara ArtSpace Sanur.Sebanyak 19 lukisan yang dipamerkan merupakan karya baru yang disiapkan khusus untuk pameran ini. Meski demikian, NiWay mengakui tema cinta telah menjadi benang merah hampir di setiap karya yang ia hasilkan."Semua yang saya buat ternyata selalu kembali pada unconditional love. Saya berbicara melalui lukisan. Kalau orang lain bercerita lewat kata-kata, saya bercerita lewat warna," ungkapnya.Menurutnya, setiap karya memiliki kisah yang berbeda. Proses melukis sering kali menjadi perjalanan emosional karena dipenuhi kenangan tentang keluarga, pengalaman hidup, hingga pergulatan spiritual yang pernah dialaminya."Kadang saya menangis sendiri saat melukis. Setiap lukisan punya cerita dan perasaan yang berbeda," ujarnya.NiWay mengungkapkan kehilangan kedua orang tuanya menjadi salah satu titik balik yang membuatnya semakin serius berkarya dalam lima tahun terakhir. Selain itu, sebuah kalimat sederhana, don't disgrace yourself, menjadi motivasi yang terus mendorongnya mengembangkan talenta yang dimiliki."Kalimat itu menjadi lecutan terbesar bagi saya untuk terus memberikan yang terbaik melalui karya-karya yang saya buat," katanya.Budayawan Putu Suasta, menilai tema cinta tanpa syarat yang diangkat NiWay lahir dari perjalanan hidup dan pengalaman spiritual sang seniman. Menurutnya, karya-karya tersebut mengajak publik merenungkan makna kasih, pengorbanan, dan pelepasan diri dari berbagai keterikatan duniawi."Dia ingin menyampaikan tentang kasih dan pengorbanan. Bagaimana manusia belajar melepaskan diri dari kemelekatan. Itu yang menjadi roh dari karya-karyanya," ujar Putu Suasta yang juga dikenal sebagai penggagas Sudakara ArtSpace.Ia menjelaskan Sudakara ArtSpace hadir sebagai ruang budaya yang mempertemukan seniman dengan masyarakat luas. Karena itu, galeri tersebut tidak semata-mata menjadi tempat transaksi karya seni, tetapi juga ruang dialog budaya."Kami ingin tempat ini menjadi ruang kebudayaan. Orang datang bukan hanya untuk melihat lukisan, tetapi juga memahami gagasan yang dibawa senimannya," katanya.Sementara itu, pengamat seni Hartanto menilai kekuatan utama karya NiWay terletak pada kemampuannya menerjemahkan spiritualitas melalui warna, garis, dan bentuk. Menurutnya, setiap seniman memiliki bahasa visual yang khas dalam menyampaikan pengalaman batin.Ia membandingkan pendekatan NiWay dengan pelukis asal Meksiko Frida Kahlo, yang dikenal mengekspresikan penderitaan dan pergulatan hidup melalui karya-karyanya."Kalau Frida Kahlo mengekspresikan penderitaan dan kesakitan, Bu Wayan mengekspresikan spiritualitas serta rasa cinta yang tidak terbatas. Nilai cinta itu bersifat universal dan ada dalam semua ajaran agama," ujar Hartanto.Ia menambahkan, karya seni figuratif tidak cukup dinikmati dari bentuk visualnya semata. Penikmat seni juga perlu memahami nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan yang ingin disampaikan sang seniman melalui setiap goresan.Pameran Unconditional Love terbuka untuk masyarakat umum hingga 31 Agustus 2026. Melalui 19 lukisan tersebut, NiWay berharap pengunjung tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga menemukan ruang refleksi tentang cinta, harapan, dan kemanusiaan.
Sumber: Nusa Bali
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment!
Leave a Comment