18 Letusan Guncang Anak Krakatau dalam Sepekan Terakhir

Selat Sunda kembali bergejolak. Gunung Anak Krakatau, yang tumbuh dari bekas kawah letusan dahsyat Krakatau 1883, memperlihatkan gejala peningkatan aktivitas yang patut dicermati. Data terbaru dari Pu...

Selat Sunda kembali bergejolak. Gunung Anak Krakatau, yang tumbuh dari bekas kawah letusan dahsyat Krakatau 1883, memperlihatkan gejala peningkatan aktivitas yang patut dicermati. Data terbaru dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan bahwa sejak 2 Juli 2026, gunung itu telah meletus sebanyak 18 kali. Ini menandai lonjakan aktivitas yang cukup signifikan setelah beberapa bulan sebelumnya relatif tenang.

Letusan-letusan dengan skala kecil hingga sedang ini menghasilkan kolom abu vulkanik yang teramati dari pos pemantauan di sekitar Selat Sunda. Ketinggian abu bervariasi, sebagian besar berkisar antara 300 hingga 1.000 meter di atas puncak kawah, meskipun beberapa letusan yang lebih kuat tercatat menyemburkan material piroklastik hingga lebih dari 1,5 kilometer. Jenis letusan yang terekam adalah strombolian, ditandai oleh lontaran lava pijar dan suara dentuman yang terdengar hingga radius beberapa kilometer. Selain itu, seismograf mencatat tremor vulkanik menerus yang menandakan suplai magma masih aktif dari kedalaman.

Kronologi Peningkatan Aktivitas

Peningkatan aktivitas mulai terdeteksi pada dini hari 2 Juli 2026. Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau hanya menunjukkan aktivitas normal berupa embusan-embusan kecil tanpa letusan. Namun, sejak pukul 02:14 WIB, terjadi letusan pertama yang terekam dengan amplitudo 43 mm dan durasi 78 detik. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 400 meter yang mengarah ke barat daya. Hingga siang hari, terjadi serangkaian letusan dengan frekuensi rata-rata 4–5 kali per jam. Pada 3 Juli, intensitas meningkat, dengan letusan yang lebih bertenaga menghasilkan abu setinggi 1,2 kilometer. Sejumlah desa di pesisir Lampung melaporkan hujan abu tipis.

Menurut catatan PVMBG, dari total 18 letusan yang terjadi, 5 di antaranya berkekuatan sedang dengan tinggi kolom lebih dari 1 kilometer, sedangkan sisanya lebih kecil. Tidak ada aliran lava yang mencapai laut, namun awan panas guguran teramati pada 5 Juli pagi yang meluncur sejauh 1,5 kilometer ke arah selatan dari kawah. Kejadian itu tidak menimbulkan korban karena terjadi di area yang sudah masuk zona larangan aktivitas.

Status Gunung dan Zona Bahaya

Meskipun aktivitas meningkat, PVMBG masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level II (Waspada). Level ini merupakan status kedua dari empat tingkat peringatan gunung api di Indonesia. Namun, pihak berwenang tidak menutup kemungkinan untuk menaikkan level menjadi Siaga (Level III) jika indikator seismik dan deformasi menunjukkan peningkatan yang lebih tajam.

Zona bahaya yang direkomendasikan adalah radius 2 kilometer dari kawah utama. Aktivitas apapun, termasuk perikanan dan wisata bahari, dilarang di dalam zona ini. PVMBG khususnya memperingatkan para nelayan dan operator kapal wisata agar tidak mendekati gunung, mengingat potensi bahaya lontaran material vulkanik dan gas beracun, serta kemungkinan terjadinya letusan eksplosif mendadak. Selain itu, gempa hembusan dan getaran yang terekam secara terus-menerus mengindikasikan bahwa tekanan di dalam kantung magma masih tinggi. Deformasi lereng juga dipantau dengan alat tiltmeter dan GPS untuk mendeteksi perubahan bentuk tubuh gunung, yang bisa menjadi sinyal awal keruntuhan lereng seperti yang pernah memicu tsunami pada 2018.

Sejarah Letusan dan Potensi Tsunami

Anak Krakatau dikenal sebagai gunung api muda yang muncul dari kaldera pasca letusan kolosal Gunung Krakatau pada 1883. Letusan Krakatau 1883 merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah, memicu tsunami dahsyat setinggi 30 meter yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Gunung Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan pada 1927 dan sejak itu terus tumbuh dengan aktivitas erupsi strombolian yang hampir setiap tahun. Namun, perhatian dunia kembali tertuju setelah tragedi 22 Desember 2018, di mana keruntuhan sebagian tubuh gunung menyebabkan longsoran material ke laut dan menghasilkan tsunami di Selat Sunda yang menewaskan lebih dari 400 orang serta menghancurkan wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Pengalaman tersebut membuat PVMBG dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sangat waspada terhadap setiap perubahan morfologi Anak Krakatau. Saat ini, pemantauan dilakukan tidak hanya dari darat melalui pos pengamatan, tetapi juga menggunakan kamera termal, drone, dan citra satelit untuk mengamati perubahan topografi. Data terbaru menunjukkan bahwa dinding kawah bagian barat daya mengalami pertumbuhan pesat, tetapi belum terindikasi instabilitas yang signifikan. Meski begitu, para ilmuwan menekankan bahwa potensi longsoran di masa depan tetap ada seiring bertambahnya volume material hasil letusan.

Antisipasi dan Imbauan PVMBG

Menanggapi situasi ini, PVMBG mengeluarkan serangkaian rekomendasi. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Lampung, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan aparat keamanan untuk memastikan zona berbahaya steril dari aktivitas manusia. “Kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan wisatawan, untuk mematuhi rekomendasi jarak aman. Saat ini kami tidak melihat indikasi tsunami, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan,” ujar petugas PVMBG melalui siaran pers.

Selain itu, PVMBG juga telah menyebarkan Peringatan Dini Bahaya Abu Vulkanik (VONA) dengan kode warna Oranye untuk penerbangan. Maskapai penerbangan diminta untuk menghindari rute di sekitar Selat Sunda pada ketinggian rendah dan menengah, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat. Bandar Udara Radin Inten II di Lampung dan beberapa bandara kecil di sekitarnya diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Meski belum ada penutupan bandara, otoritas penerbangan terus memantau sebaran abu secara real-time menggunakan citra satelit Himawari.

Bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Lampung Selatan dan Pandeglang, Banten, imbauan untuk tetap tenang namun waspada disampaikan. Pemerintah daerah telah menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul jika kondisi memburuk. Sosialisasi rutin dilakukan untuk mengingatkan warga tentang risiko tsunami yang bisa terjadi tanpa peringatan dini seismik, seperti yang terjadi pada 2018. BMKG akan segera mengeluarkan peringatan dini tsunami jika terdeteksi adanya penurunan tiba-tiba permukaan laut yang menandakan longsoran bawah laut.

Hingga saat ini, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih dalam pantauan intensif. PVMBG berjanji akan memberikan informasi terkini setiap 6 jam atau lebih cepat jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diminta untuk hanya mengandalkan informasi dari sumber resmi dan tidak menyebarkan kabar palsu. “Kami memahami kecemasan warga, tapi kami pastikan seluruh instrumen pemantau berfungsi optimal. Keamanan adalah prioritas,” tutup pernyataan PVMBG.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User