Usai Gempuran Hodeidah, Houthi Serang Jizan
Kelompok pemberontak Yaman, Houthi, mengumumkan peluncuran serangan rudal balistik ke arah kota Jizan di Arab Saudi pada Sabtu (25/7). Klaim ini muncul beberapa jam setelah laporan adanya rentetan ser...
Kelompok pemberontak Yaman, Houthi, mengumumkan peluncuran serangan rudal balistik ke arah kota Jizan di Arab Saudi pada Sabtu (25/7). Klaim ini muncul beberapa jam setelah laporan adanya rentetan serangan udara koalisi pimpinan Saudi yang menghantam sejumlah lokasi strategis di Hodeidah, kota pelabuhan vital di pesisir Laut Merah. Aksi saling balas ini menandai kian panasnya eskalasi militer di wilayah perbatasan kedua negara setelah jeda relatif selama beberapa pekan terakhir.
Menurut juru bicara angkatan bersenjata Houthi, Yahya Saree — lewat akun media sosial resmi yang dikelola kelompok itu — rudal jenis Badr-1 dan sejumlah drone bersenjata dilepaskan menuju sasaran militer dan kilang minyak di area Jizan. Ia mengklaim serangan tersebut berhasil mencapai target dengan presisi tinggi, meski otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai dampak maupun korban. “Operasi ini merupakan respons awal atas pemboman biadab di provinsi Hodeidah yang menewaskan lebih dari 17 warga sipil kemarin,” ujar Saree dalam pernyataan tertulis yang beredar di kanal Telegram milisi.
Sistem pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi yang diklaim canggih, termasuk baterai MIM-104 Patriot buatan Amerika Serikat, dikabarkan kembali diaktifkan untuk menghadang proyektil musuh. Rekaman amatir yang viral di platform X dan Telegram memperlihatkan kilatan cahaya di langit malam Jizan disertai suara ledakan. Namun, sumber resmi koalisi militer pimpinan Saudi — seperti biasa — enggan mengomentari perincian teknis intersepsi tersebut dan hanya menyatakan bahwa seluruh ancaman berhasil dinetralkan.
Eskalasi Berawal dari Hodeidah
Provinsi Hodeidah, terutama kawasan pelabuhan utamanya yang menjadi tempat masuknya bantuan kemanusiaan bagi jutaan rakyat Yaman, kembali menjadi titik api konflik yang sudah berusia satu dasawarsa. Koalisi militer yang mendapat dukungan logistik dan intelijen dari Washington serta London meningkatkan intensitas serangan udara dengan target gudang senjata dan pusat komando Houthi di distrik Al-Hawk dan Al-Mansuriyah. Pengeboman pada Jumat (24/7) malam itu dikecam keras oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang mencatat adanya fasilitas kesehatan dan pemukiman padat penduduk yang turut terdampak.
Pemerintah yang diakui secara internasional menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk memotong jalur suplai rudal dan drone yang selama ini digunakan Houthi untuk menyerang infrastruktur vital Arab Saudi. Hodeidah memang menjadi choke point logistik bagi kelompok yang didukung Iran itu. Meski demikian, gencatan senjata yang dinegosiasikan oleh utusan khusus PBB, Hans Grundberg, telah gagal total. Kedua belah pihak saling melempar tuduhan pelanggaran pertama, sehingga spiral kekerasan berlanjut tanpa adanya meja dialog yang jelas.
Ancaman Drone dan Perang Asimetris
Serangan ke Jizan bukanlah insiden tunggal. Dalam tiga bulan terakhir, Houthi meningkatkan penggunaan unmanned aerial vehicle (UAV/drone) jarak jauh yang didesain untuk menembus lapisan pertahanan berlapis Saudi. Model seperti Samad-3 dan Quds-2 mampu menjelajah hingga 1.500 kilometer, menjadikan target di jantung Kerajaan seperti Riyadh dan Abha rentan. Serangan pada Sabtu kemarin disebut-sebut memadukan rudal balistik dan drone secara simultan guna memeras sistem pertahanan rudal Saudi yang terbatas jangkauannya.
Pengamat keamanan dari lembaga International Crisis Group menilai bahwa taktik ini sengaja dirancang untuk menimbulkan kerusakan psikologis dan ekonomi yang signifikan tanpa harus memenangkan pertempuran konvensional. “Setiap proyektil yang lepas, meski berhasil dicegat sebagian, memaksa Saudi membakar rudal pencegat Patriot yang nilainya jutaan dolar per unit. Ini perang atrisi yang melelahkan,” tulis analis keamanan regional dalam laporan terbaru lembaga tersebut. Selain itu, industri minyak di Jizan sebagai bagian dari Visi 2030 Kerajaan mendapat perlindungan ekstra, namun citra stabilitas Negeri Minyak itu terus tergerus.
Kutukan Kemanusiaan dan Respon Diplomatik
Korban sipil di kedua sisi perbatasan kian bertambah. Di Yaman, konflik sejak 2014 telah menewaskan lebih dari 377.000 orang akibat pertempuran dan kelaparan, menurut estimasi Program Pembangunan PBB. Eskalasi terkini di Hodeidah dan serangan balasan ke Jizan kian mempersulit distribusi bantuan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperingatkan bahwa pelabuhan Hodeidah adalah corong masuk bagi 80 persen kebutuhan pangan dan obat-obatan Yaman; jika jalur itu lumpuh, risiko bencana kelaparan massal skala Alkitab akan mengintai.
Dari Riyadh, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi melayangkan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB dan menyebut Houthi sebagai “proksi teroris Iran yang mengancam perdamaian regional.” Sementara itu, Teheran — yang rutin membantah tuduhan memberikan senjata — mendesak dihentikannya “agresi tidak bermoral koalisi Saudi.” Blokade diplomatik itu membuat inisiatif perdamaian Oman dan Qatar kembali terjebak di ranah wacana.
Terlepas dari klaim kemenangan yang saling digembar-gemborkan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa rakyat sipil di Yaman maupun di Arabia selatan terus menjadi pihak yang paling menderita. Pertanyaannya bukan lagi kapan konflik berakhir, melainkan seberapa banyak lagi nyawa yang akan menjadi korban sebelum meja negosiasi benar-benar dinyalakan.
Comments (0)