The Hundred Dianggap Tak Otentik, Youth Sport Games Rayakan 30 Tahun
Musim panas 2026 menghadirkan dua wajah olahraga yang saling bertolak belakang. Di Old Trafford, Manchester, ajang kriket The Hundred justru menuai kritik
Musim panas 2026 menghadirkan dua wajah olahraga yang saling bertolak belakang. Di Old Trafford, Manchester, ajang kriket The Hundred justru menuai kritik tajam karena dinilai kehilangan akar budaya dan sejarah kriket county Inggris. Sementara di kota pesisir Split, Kroasia, Youth Sport Games (YSG) merayakan ulang tahun ke-30 sebagai ajang olahraga amatir anak-anak terbesar di Eropa.
Kritik pedas terhadap The Hundred datang dari kolumnis yang menulis dengan nama pena The Secret Cricket Coach di The Guardian. Ia menceritakan pengalamannya menonton pertandingan di Old Trafford, stadion bersejarah yang kini menjadi markas Manchester Super Giants, salah satu tim baru dalam format kompetisi yang diluncurkan pada 2021 itu.
Alih-alih menikmati pertandingan, ia justru merenungkan sejarah, identitas, dan sebuah pertanyaan besar: bisakah rasa memiliki dibangun secara artifisial?
Manchester Super Giants dan Pertanyaan Soal Keaslian
Di lorong-lorong stadion Old Trafford, wajah-wajah legenda Lancashire menghiasi setiap sudut: Farokh Engineer, Sir Clive Lloyd, hingga nama mantan kapten West Indies itu yang diabadikan menjadi nama tribun. Menurut sang kolumnis, tempat tersebut adalah ruang yang telah mengumpulkan makna selama bergenerasi-generasi.
Namun di hampir semua sudut lainnya, yang terlihat hanyalah atribut Manchester Super Giants — tim baru yang diciptakan khusus untuk The Hundred.
"Kaos, lagu, suporter, hingga rivalitas semuanya ada. Seseorang menciptakan seluruhnya, dan semuanya terputus dari budaya serta sejarah kriket county," tulis The Secret Cricket Coach.
Baginya, The Hundred terasa serealistis Ted Lasso, serial komedi populer tentang pelatih sepak bola Amerika yang pindah ke Inggris. Seluruh elemen pertandingan tampak nyata di permukaan — sorak-sorai penonton, nyanyian suporter, hingga atmosfer stadion — tetapi semuanya terasa tanpa akar yang menautkannya pada tradisi panjang kriket county yang sudah berusia lebih dari satu abad.
Youth Sport Games: Tiga Dekade Membangun Karakter Anak
Di seberang benua, Split menjadi saksi perayaan tiga dekade Youth Sport Games. Ajang yang dijuluki sejumlah tamu terhormatnya sebagai "Davos-nya olahraga" ini setiap musim panas menghadirkan tokoh-tokoh besar dunia olahraga dan politik ke pantai Dalmatia.
Pemandangan paling unik tahun ini terjadi di atas panggung yang menghadap langsung ke Laut Adriatik: 20 anak bermain catur melawan grandmaster Nigel Short. Mereka tidak saling berkompetisi, melainkan bergantian menghadapi Short yang berkeliling dari satu papan ke papan lain, memainkan satu langkah setiap kali.
Anak-anak itu bukan pemain sembarangan — mereka adalah talenta catur muda terbaik dari kawasan Balkan. Yang membuat suasana kian menarik, mereka mendapat dukungan pelatih selebritas. Mantan juara Prancis Terbuka Ana Ivanovic, mantan manajer Burnley Sean Dyche, dan bahkan miliarder teknologi Peter Thiel ikut mendampingi langkah demi langkah permainan mereka.
"Ini adalah inisiatif yang brilian," kata sejumlah pengunjung terkemuka yang menyebut ajang ini terus tumbuh dari tahun ke tahun.
Setengah Juta Anak dan Sepuluh Cabang Olahraga
Skala YSG patut diperhitungkan. Hampir setengah juta anak muda dari Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Slovenia, serta Makedonia Utara mengikuti babak kualifikasi untuk edisi tahun ini. Final di sepuluh cabang olahraga — dari catur hingga bola basket 3x3 — kemudian digelar selama sepekan penuh di Split.
Di luar arena pertandingan, anak-anak diajak mempelajari nilai-nilai penting: kerja sama tim, kolaborasi, hingga kebiasaan menjauhkan diri dari layar gawai. Para penyelenggara menyebut Plazma, nama resmi ajang tersebut, bukan sekadar event olahraga melainkan juga sebuah "proyek sosial".
Dua Arah Olahraga Modern
Kontras antara kedua ajang ini menegaskan satu pelajaran: olahraga membutuhkan makna yang lebih dalam daripada sekadar hiburan. The Hundred, dengan segala kemewahan produksi dan pemasaran yang digelontorkan, justru dinilai gagal membangun rasa memiliki yang otentik di mata para pengamat.
Sebaliknya, Youth Sport Games membuktikan bahwa nilai-nilai sederhana — kebersamaan, kerja keras, dan kegembiraan anak-anak — mampu menopang sebuah ajang selama tiga dekade penuh. Perayaan ulang tahun ke-30 di Split menjadi bukti bahwa olahraga amatir yang berakar pada komunitas tetap punya tempat di tengah maraknya kompetisi yang dibangun dari nol oleh mesin komersial.
[SOCIAL_TWEET]: The Hundred disebut serealistis Ted Lasso, sementara Youth Sport Games rayakan 30 tahun di Split dengan hampir 500 ribu anak ikut kualifikasi. Dua wajah olahraga modern yang kontras. #Olahraga #Kriket[SOCIAL_TG]: 🏏 The Hundred dianggap tak otentik oleh kolumnis The Guardian, sementara Youth Sport Games di Split merayakan 30 tahun sebagai ajang olahraga amatir anak terbesar di Eropa. Selengkapnya di Terdepan.id.
Comments (0)