Teror Pocong dan Ekonomi Sulit: Ancaman Baru bagi Generasi Muda

Jakarta – Ketika ekonomi nasional melorot, hantu bukan sekadar makhluk halus dalam cerita rakyat; ia berubah menjadi senjata teror yang membidik kelompok paling rentan. Laporan terbaru dari berbagai...

Teror Pocong dan Ekonomi Sulit: Ancaman Baru bagi Generasi Muda

Jakarta – Ketika ekonomi nasional melorot, hantu bukan sekadar makhluk halus dalam cerita rakyat; ia berubah menjadi senjata teror yang membidik kelompok paling rentan. Laporan terbaru dari berbagai daerah menunjukkan lonjakan aksi teror berbaju klenik – khususnya fenomena pocong – yang menyasar remaja dan anak-anak. Para sosiolog menyebut pola ini bukan kebetulan: himpitan ekonomi menciptakan krisis moral yang meledak dalam bentuk agresi simbolik terhadap masa depan bangsa.

Fenomena ini mencuat setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pengangguran usia muda mencapai 28,7 persen pada kuartal pertama 2026. Di tengah PHK massal dan ketidakpastian pasar tenaga kerja, aksi teror jalanan yang melibatkan kostum pocong melonjak 63 persen dibanding tahun lalu. Data Kepolisian Republik Indonesia mencatat 147 kasus sepanjang Maret–Mei 2026, dengan pelaku rata-rata berusia 14 hingga 22 tahun.

Dari Legenda ke Alat Kekerasan Simbolik

Ibarat gunung es, teror pocong hari ini bukan sekadar kenakalan remaja. Secara historis, sosok pocong selalu hadir dalam narasi rakyat sebagai penanda ketidakberesan: utang yang belum dibayar, janji yang diingkari, atau kematian tak wajar. Kini, makna itu bergeser menjadi medium balas dendam sosial. Sejumlah peneliti dari Pusat Studi Kebudayaan dan Kesejahteraan (PSKK) menemukan bahwa 78 persen pelaku teror pocong berasal dari keluarga yang kehilangan sumber pendapatan tetap selama dua tahun terakhir. “Mereka tidak memakai kostum hantu karena percaya takhayul, melainkan karena itu satu-satunya cara membuat masyarakat mendengar teriakan frustrasi mereka,” ujar Dr. Ratna Kusumawati, sosiolog yang memimpin riset tersebut.

Dalam laporannya, PSKK mencatat pola yang konsisten: setiap kali indeks keyakinan konsumen anjlok di bawah 90, angka teror berbasis mitos naik signifikan dua bulan kemudian. Pola ini terkonfirmasi pada krisis 1998, 2008, dan pascapandemi 2020. Bedanya, jika dulu target bersifat acak, kini pelaku remaja menyasar titik-titik spesifik seperti warung kopi, taman bermain, hingga jalur pulang sekolah. Tujuannya: menebar ketakutan maksimal di kalangan anak-anak yang dianggap lebih lemah dan mudah diintimidasi.

Dampak Psikologis pada Anak dan Remaja yang Menjadi Korban

Bagi anak yang menjadi korban langsung, efeknya bisa melampaui rasa takut sesaat. Divisi Psikologi Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo melaporkan lonjakan rujukan anak dengan gejala trauma akut akibat teror pocong. Setidaknya 29 anak usia sekolah dasar dirawat intensif setelah mengalami night terror dan keengganan keluar rumah sepanjang April lalu. Salah satu korban, sebut saja Bunga (8 tahun), hingga kini menolak tidur sendiri dan hanya bisa beraktivitas jika ditemani orang dewasa. “Dia melihat tiga sosok pocong melompat di depan gerbang sekolah sambil membawa kayu. Sekarang dia selalu bertanya, ‘Apakah pocong akan menangkapku karena Ibu dan Ayah tidak punya uang?’,” cerita ibunya, mencerminkan bagaimana teror klenik merembes ke rasa aman finansial keluarga.

Ahli saraf menjelaskan, pengalaman teror yang melibatkan figur-figur kultural yang sudah dikenal sejak kecil memicu respons amygdala yang jauh lebih kuat dibanding ketakutan generik. “Anak-anak memproses ancaman dalam bingkai narasi yang sudah mereka percaya. Akibatnya, trauma tertanam lebih dalam dan lebih sulit dipulihkan,” kata Dr. Widiastuti, spesialis neuropsikiatri anak. Dalam jangka panjang, korban berisiko mengalami gangguan kecemasan menyeluruh dan penurunan prestasi akademik.

Respons Keamanan dan Intervensi Sosial yang Mendesak

Polri telah membentuk satuan tugas khusus di 14 provinsi dengan insiden tertinggi. Namun, pendekatan hukum saja tidak cukup karena mayoritas pelaku masih di bawah umur dan berlindung di balik Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan akan memperkuat patroli siber untuk membongkar jaringan daring yang memfasilitasi tren ini, termasuk platform berbagi video yang kerap menjadi panggung pamer aksi teror. “Kami menemukan bahwa 41 persen insiden direkam dan diunggah ke media sosial demi validasi dan popularitas. Ini bukan lagi kepercayaan mistis, ini krisis perilaku digital,” ujarnya dalam konferensi pers.

Di sisi lain, Kementerian Sosial mempercepat program padat karya untuk keluarga prasejahtera di titik rawan, menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk menyediakan ruang aman dan konseling gratis bagi anak-anak. Menteri Sosial menambahkan bahwa bantuan langsung tunai bersyarat akan dikaitkan dengan partisipasi orang tua dalam pelatihan pengasuhan positif guna memutus rantai pengabaian yang kerap melatari kenakalan remaja. Upaya ini diperkuat oleh aliansi tokoh agama dan budayawan yang berkeliling sekolah menengah untuk merujuk kembali nilai-nilai kearifan lokal tanpa menciptakan histeria massal.

Pengalaman beberapa kota di Jawa Timur dan Lampung menunjukkan bahwa pengawasan komunitas berbasis Rukun Tetangga (RT) yang melibatkan pemuda karang taruna mampu menekan angka teror hingga 52 persen dalam tiga bulan. Model ini mengganti inisiatif memburu hantu dengan patroli rutin dan dialog warga, mengubah energi agresif remaja menjadi proyek kreatif seperti pembuatan film pendek atau lokakarya pembuatan kostum untuk pertunjukan budaya, bukan untuk meneror.

Fenomena teror pocong di masa sulit menjadi cermin bahwa ketahanan ekonomi tak bisa dipisahkan dari kesehatan psikologis dan kohesi sosial. Ketika anak-anak bertanya apakah pocong datang karena keluarga mereka jatuh miskin, bangsa ini sedang ditagih untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan Produk Domestik Bruto, tetapi juga menjamin bahwa hantu-hantu – baik yang nyata maupun metaforis – tidak lagi berkeliaran di jalan-jalan yang seharusnya aman bagi warga paling muda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User