Strategi Dua Arah Trump: Ancam Oman, Rangkul Kim Jong Un

Ancaman dan dialog datang dari orang yang sama. Dalam sepekan terakhir, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dunia: di satu sisi ia melontarkan peringatan keras k...

Strategi Dua Arah Trump: Ancam Oman, Rangkul Kim Jong Un

Ancaman dan dialog datang dari orang yang sama. Dalam sepekan terakhir, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dunia: di satu sisi ia melontarkan peringatan keras kepada Oman di tengah perang yang berlarut antara Washington dan Teheran, di sisi lain ia membuka kembali kanal komunikasi dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Dua sikap yang tampak bertolak belakang ini sebenarnya adalah satu strategi utuh, dan dampaknya bisa terasa di kantong masyarakat awam: dari harga BBM di pompa bensin hingga ongkos logistik barang impor.

Kabar ini mencuat ke sorotan media internasional pada Selasa (18/8). Peringatan Trump kepada Oman disebut muncul sebagai buntut dari perang dengan Iran yang masih berlangsung, sementara pendekatan terhadap Korea Utara ditafsirkan sebagai upaya membuka ruang dialog baru. Belum ada rincian resmi mengenai isi peringatan maupun bentuk komunikasi dengan Pyongyang, tetapi pola yang ditunjukkan sudah cukup jelas untuk dibaca: tekanan keras bagi pihak yang dianggap menghalangi, dan tangan terbuka bagi pihak yang dianggap bisa diajak duduk bersama.

Mengapa ancaman terhadap Oman terasa mengejutkan? Karena Muscat selama ini dikenal sebagai salah satu aktor paling netral di Timur Tengah. Ibarat seperti tetangga yang tidak memihak dalam keributan antarkeluarga, Oman justru kerap menjadi tempat semua pihak menitipkan pesan.

Mengapa Oman: Kunci di Selat Hormuz

Posisi geografis Oman sulit ditandingi. Negara di ujung tenggara Jazirah Arab ini berada persis di sisi selatan Selat Hormuz, jalur laut sempit yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia — setara dengan jutaan barel per hari yang melewatinya menuju Asia, Eropa, dan Amerika. Siapa pun yang mengendalikan akses di sekitar selat itu memegang pengaruh besar terhadap harga energi global.

Selama puluhan tahun, Oman memilih jalur diplomasi daripada konfrontasi. Muscat adalah tuan rumah perundingan rahasia antara pejabat AS dan Iran pada 2012–2013 yang berujung pada kesepakatan nuklir sementara (Joint Plan of Action) pada November 2013. Oman juga berperan dalam upaya pembebasan sejumlah warga AS yang ditahan di Iran. Dengan rekam jejak seperti ini, tekanan Washington terhadap Oman di tengah perang dengan Iran memunculkan pertanyaan besar: apakah AS sedang memperingatkan Muscat agar tidak membantu Teheran, atau justru mendesak agar bersikap lebih tegas terhadap Iran?

Tekanan Maksimum sebagai Instrumen Negosiasi

Bagi pengamat kebijakan luar negeri AS, pola ini bukan hal baru. Di era 2018–2020, Trump menerapkan doktrin yang disebutnya maximum pressure (tekanan maksimum) terhadap Iran: sanksi ekonomi dijerat seketat mungkin, ekspor minyak Iran ditekan, dan kehadiran militer AS dipertegas di Teluk. Tujuannya bukan semata menghancurkan lawan, tetapi membawa lawan ke meja perundingan dalam posisi lemah.

Ibarat seperti tawar-menawar di pasar: pihak yang paling keras menolak harga justru sering kali sedang menyiapkan penawaran berikutnya. Ancaman menjadi sinyal, bukan sekadar luapan emosi. Dalam logika ini, peringatan terhadap Oman adalah pesan kepada seluruh kawasan agar tidak ada pihak yang mencoba menghalangi kampanye Washington terhadap Iran, sementara ajakan dialog kepada Kim Jong Un adalah isyarat bahwa AS masih terbuka pada diplomasi ketika kepentingannya terlayani.

Kim Jong Un: dari “Rocket Man” ke Meja Perundingan

Hubungan Trump–Kim adalah salah satu babak paling dramatis dalam diplomasi modern. Pada September 2017, Trump menyebut Kim sebagai “Rocket Man” dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, dan keduanya sempat saling melontarkan ancaman. Namun kurang dari setahun kemudian, keduanya duduk berhadapan di Singapura pada 12 Juni 2018 — pertemuan puncak pertama antara presiden AS dan pemimpin Korea Utara dalam sejarah.

Setelahnya, kesepakatan Hanoi pada 27–28 Februari 2019 justru berakhir tanpa hasil karena buntu di soal sanksi, lalu disusul pertemuan singkat di Panmunjom, perbatasan antarkorea, pada 30 Juni 2019, ketika Trump melangkah melintasi garis demarkasi militer. Meski dialog sempat terhenti, program rudal dan nuklir Pyongyang terus berjalan, dan Korea Utara kian dekat dengan Rusia serta China.

Kabar bahwa Washington kembali mendekati Kim Jong Un di tengah perang dengan Iran ditafsirkan para analis sebagai upaya mengurangi beban di dua front sekaligus. Ketika AS sibuk di Timur Tengah, membuka kanal dengan Pyongyang adalah cara untuk mencegah krisis baru meletus di Asia Timur. Ini bukan soal berdamai, melainkan soal memilih prioritas.

Disrupsi di Gerbang Energi Dunia

Bagi Indonesia dan negara-negara importir energi, perkembangan ini bukan sekadar berita politik. Setiap eskalasi di sekitar Selat Hormuz langsung tercermin pada harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya ikut menentukan harga BBM dan biaya logistik. Efisiensi rantai pasok global bisa terganggu hanya karena satu pernyataan dari Gedung Putih — itulah kenyataan dunia yang saling terhubung.

Para pengamat mengingatkan bahwa ancaman tanpa tindak lanjut bisa mengikis kredibilitas, sedangkan dialog tanpa syarat jelas bisa dibaca sebagai kelemahan. Keseimbangan di antara keduanya adalah permainan yang sangat berisiko. Yang pasti, dunia kini menunggu: apakah peringatan ke Oman berujung pada sanksi atau operasi militer, dan apakah ajakan dialog ke Kim Jong Un akan berbuah pertemuan puncak baru seperti tahun 2018.

Dari Selat Hormuz hingga Semenanjung Korea, satu hal yang konsisten: era diplomasi global kini dikendalikan oleh ketegangan, kejutan, dan perhitungan dua arah yang sulit ditebak. Masyarakat awam hanya bisa berharap para pemimpin memilih jalur yang tidak mengorbankan harga pangan dan energi rakyat banyak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User