Setahun dengan Galaxy Z Fold 7: Akankah Fold 8 Ulangi Kesalahan Sama?
Menggunakan satu ponsel lipat sebagai perangkat utama selama setahun penuh adalah ujian sesungguhnya. Bagi banyak pengulas, kesempatan itu jarang terjadi, tetapi Galaxy Z Fold 7 justru berhasil menjad...
Menggunakan satu ponsel lipat sebagai perangkat utama selama setahun penuh adalah ujian sesungguhnya. Bagi banyak pengulas, kesempatan itu jarang terjadi, tetapi Galaxy Z Fold 7 justru berhasil menjadi teman setia di saku setelah melalui berbagai iterasi sebelumnya yang kerap ditinggalkan. Pengalaman panjang itu kini memunculkan refleksi mendalam: ada hal-hal yang membuat perangkat ini begitu dicintai, tapi juga catatan kritis yang terus mengganjal. Yang lebih mengkhawatirkan, sinyal-sinyal awal tentang penerusnya, Galaxy Z Fold 8, justru mengindikasikan bahwa Samsung mungkin akan mengulangi pola yang sama—mengabaikan kekurangan krusial demi inovasi yang kurang menyentuh kebutuhan pengguna sehari-hari.
Kekuatan yang Membuat Fold 7 Layak Dipertahankan
Setelah setahun, aspek yang paling menonjol dari Fold 7 adalah bagaimana Samsung berhasil menyempurnakan faktor bentuk lipat. Engsel yang lebih ringan dan mekanisme gapless memberikan rasa solid yang signifikan dibanding generasi sebelumnya. Tidak ada lagi celah menganga saat perangkat tertutup, sehingga debu dan serat kain tidak mudah menyusup. Dalam pemakaian nyata, perangkat ini terasa lebih tahan banting—goresan kecil di layar luar dan bodi tetap minim meski tanpa casing protektif. Dari sisi perangkat lunak, One UI versi terbaru menunjukkan kematangan dalam multitasking. Mode Flex yang memungkinkan layar setengah terlipat berdiri sendiri layaknya laptop mini sangat membantu saat panggilan video atau menonton konten sambil mengetik komentar. Mode ini, ditambah fitur Taskbar permanen, membuat produktivitas seluler terasa lebih alami.
Bicara soal ketahanan baterai, Fold 7 membuktikan bahwa ponsel lipat tidak harus selalu dikorbankan pada sektor daya. Dengan penggunaan intensif—media sosial, perekaman video singkat, navigasi, dan sesekali gaming—perangkat ini mampu bertahan dari pagi hingga malam. Pengisian daya 45 watt juga tergolong cepat untuk mengisi ulang di sela aktivitas, meski bukan yang terdepan di kelas flagship. Yang menjadi favorit pribadi adalah layar utama 7,6 inci yang minim gangguan. Tingkat kecerahan puncak yang tinggi membuatnya nyaman di bawah sinar matahari, sementara pelindung layar yang lebih kuat mengurangi kekhawatiran akan kerusakan oleh kuku atau tekanan jari yang kuat.
Kekurangan yang Terus Menggerogoti Pengalaman
Namun, tinggal setahun bersama Fold 7 juga membuka borok yang sulit diabaikan. Pertama, sistem kamera. Di era di mana ponsel konvensional sekelas Galaxy S25 Ultra atau kompetitor dari Tiongkok menyajikan zoom optik superior dan kemampuan low-light kelas atas, Fold 7 terasa tertinggal. Kamera telefoto 3x dan sensor utama yang hanya setara Galaxy S24 reguler membuat momen-momen penting seringkali tidak terekam dengan kualitas yang setimpal dengan harga yang dibayarkan. Ini adalah pengorbanan yang terus diminta Samsung kepada pembeli perangkat lipat: terima kamera kelas menengah atas demi layar besar yang dapat dilipat.
Kritik berikutnya tertuju pada engsel dan bobot. Meskipun lebih ringan, Fold 7 masih terasa berat saat digunakan dengan satu tangan dalam keadaan tertutup. Ketebalannya saat dilipat juga tetap membuatnya menggelembung di saku celana, sesuatu yang seharusnya bisa semakin ditekan seiring kemajuan material. Lalu ada kusut layar (crease) yang masih kasatmata. Satu tahun pemakaian membuat garis lipatan itu semakin terasa, tidak hanya terlihat tapi juga teraba saat menggulir konten. Samsung belum benar-benar memecahkan ilusi layar tanpa cela yang dijanjikan oleh konsep ponsel lipat. Belum lagi soal harga: di kisaran Rp26 jutaan saat rilis, Fold 7 menuntut kompromi yang tidak kecil di sektor-sektor yang seharusnya sempurna di titik harga itu.
Kecemasan Menjelang Galaxy Z Fold 8
Rumor dan bocoran awal tentang Fold 8 justru memantik kekhawatiran, bukan antisipasi. Informasi yang beredar menyebut Samsung akan fokus pada desain yang lebih tipis dan layar depan yang lebih lebar, sementara peningkatan kamera hanya bersifat inkremental. Jika benar, ini adalah kesalahan strategi yang serupa. Pasar tidak hanya menginginkan ponsel lipat yang kian tipis; mereka menginginkan ponsel lipat yang tidak meminta kompromi. Ketika kompetitor seperti OnePlus Open atau Honor Magic V3 sudah menyematkan kamera periskop dan baterai besar dalam bodi yang ramping, tak ada alasan bagi Samsung untuk tetap pelit di departemen optik. Engsel yang lebih ringan juga masih meninggalkan tanda tanya soal durabilitas jangka panjang—satu tahun saja Fold 7 sudah menunjukkan kelelahan engsel berupa bunyi dan sedikit kelonggaran.
Kekhawatiran terbesar adalah bahwa Samsung mungkin nyaman dengan status quo-nya sebagai pelopor. Padahal, pengguna setia yang bertahan selama setahun seperti dalam pengalaman ini mendambakan ponsel lipat yang benar-benar matang: kamera flagship sejati, daya tahan baterai yang tidak cuma cukup, serta kusut layar yang nyaris tak terlihat. Jika Fold 8 hanya menawarkan tubuh lebih langsing dan pembaruan chipset ala kadarnya, maka ia akan kembali menjadi produk setengah hati yang meminta maaf dengan layar lipat besarnya. Setelah setahun bersama Fold 7, kesan yang tertinggal jelas: inilah perangkat yang potensinya luar biasa, tetapi sengaja ditahan. Fold 8 punya kesempatan untuk melepas rem itu. Namun, jika ia gagal, maka kesetiaan pengguna bisa jadi ikut terlipat dan hilang.
Comments (0)