Serangan Udara Militer Myanmar Hantam Biara, 14 Orang Tewas
Serangan udara terhadap tempat ibadah selalu menyisakan luka berlapis. Bukan hanya nyawa yang melayang, tetapi juga rasa aman yang selama ini melekat pada ruang suci bagi warga sipil. Tragedi itu kemb...
Serangan udara terhadap tempat ibadah selalu menyisakan luka berlapis. Bukan hanya nyawa yang melayang, tetapi juga rasa aman yang selama ini melekat pada ruang suci bagi warga sipil. Tragedi itu kembali terulang di Myanmar, ketika angkatan udara negara tersebut menggempur sebuah biara Buddha di kawasan tengah Sagaing. Sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan itu, angka yang menurut sejumlah pengamat berpeluang terus bertambah karena proses evakuasi di wilayah konflik kerap terhambat.
Sagaing bukan daerah asing bagi kekerasan. Sejak militer mengambil alih kekuasaan pada Februari 2021, wilayah yang dikenal sebagai salah satu kantong perlawanan bersenjata ini menjadi salah satu yang paling sering menjadi sasaran operasi militer. Biara, yang dalam tradisi Buddha juga berfungsi sebagai tempat pengungsian, justru ikut terseret ke tengah baku tembak antara junta dan kelompok perlawanan. Ibarat seperti rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, kini tempat itu justru berubah menjadi salah satu titik paling berisiko di daerah tersebut.
Kronologi dan Kondisi di Lapangan
Menurut laporan yang beredar, pesawat militer menjatuhkan bom di sekitar kompleks biara di Sagaing tengah. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak militer mengenai target operasi. Pola serangan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Sepanjang konflik tiga tahun terakhir, junta berulang kali membantah menargetkan warga sipil dan menyebut operasi mereka diarahkan pada kelompok bersenjata yang menantang kekuasaan pusat.
Di sisi lain, kesaksian warga yang dikutip berbagai media menggambarkan suasana mencekam: bangun-bangun, warga mendengar deru pesawat, dan tak lama kemudian ledakan mengguncang kawasan biara. Mereka yang selamat harus menguburkan korban dengan perlengkapan seadanya karena akses bantuan dan tim medis sangat terbatas. Situasi diperparah oleh gangguan jaringan komunikasi yang kerap dilakukan militer di wilayah konflik, sehingga informasi dari lapangan sering datang terlambat dan sulit diverifikasi secara independen.
Mengapa Sagaing Menjadi Titik Panas
Sagaing adalah wilayah di bagian barat daya Myanmar yang sejak lama dikenal sebagai pusat nasionalisme serta basis berbagai kelompok perlawanan terhadap rezim militer. Setelah kudeta 2021, banyak pemuda di daerah ini bergabung dengan milisi lokal yang dikenal dengan sebutan Pasukan Pertahanan Rakyat atau People's Defence Force (PDF). Kehadiran perlawanan inilah yang membuat junta menganggap Sagaing sebagai ancaman yang harus ditumpas dengan kekuatan penuh.
Strategi yang dipakai kerap berupa kombinasi serangan darat dan udara. Namun, karena operasi darat dinilai berisiko tinggi dan berjalan lambat, serangan udara justru menjadi andalan. Akibatnya, bom dan roket kerap jatuh di pemukiman padat penduduk atau bangunan publik, termasuk sekolah dan tempat ibadah. Organisasi hak asasi manusia internasional telah lama mendokumentasikan pola ini dan menuding militer Myanmar melakukan pelanggaran hukum perang, yaitu menyerang target sipil tanpa pembedaan yang jelas antara kombatan dan non-kombatan.
Krisis Kemanusiaan yang Terus Menggumpal
Serangan terhadap biara di Sagaing bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari gelombang kekerasan yang telah membuat jutaan warga Myanmar mengungsi ke dalam negeri. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat krisis kemanusiaan di Myanmar sebagai salah satu yang terburuk di kawasan Asia, dengan jutaan orang membutuhkan bantuan pangan, kesehatan, dan tempat tinggal yang layak.
Bagi komunitas internasional, setiap serangan terhadap tempat ibadah menjadi ujian sejauh mana tekanan terhadap junta benar-benar berdampak. Beberapa negara telah menjatuhkan sanksi ekonomi dan pembatasan perjalanan terhadap pemimpin militer Myanmar. Namun, sanksi tersebut dinilai belum mampu menghentikan operasi militer yang terus berjalan. Para aktivis justru mendesak adanya gencatan senjata segera serta akses kemanusiaan tanpa hambatan ke wilayah konflik.
Di tengah situasi ini, warga biasa yang menjadi korban tak punya banyak pilihan. Mereka hanya bisa berharap gencatan senjata segera terwujud, atau setidaknya biara dan tempat ibadah lain kembali dihormati sebagai zona aman. Tanpa itu, deru pesawat militer akan terus menjadi momok yang menghantui warga Sagaing, dan duka di biara Buddha itu kemungkinan bukan yang terakhir.
Comments (0)