Robert Pattinson Beberkan Alasan Lebih Memilih Peran Antagonis
Los Angeles — Aktor kawakan Robert Pattinson secara terbuka mengaku bahwa ia jauh lebih menikmati memerankan karakter antagonis ketimbang sosok pahlawan ko
Los Angeles — Aktor kawakan Robert Pattinson secara terbuka mengaku bahwa ia jauh lebih menikmati memerankan karakter antagonis ketimbang sosok pahlawan konvensional. Pengakuan mengejutkan itu dilontarkan bintang Twilight tersebut saat menghadiri pemutaran perdana film terbarunya, The Odyssey, di TCL Chinese Theatre, Hollywood, Kamis malam lalu. Di tengah gemerlap lampu sorot dan teriakan penggemar, Pattinson, yang kini berusia 40 tahun, tampak santai membagikan pandangannya yang segar tentang dunia akting.
Berbalut setelan jas hitam klasik, Pattinson menghentikan langkahnya di atas karpet merah untuk melayani pertanyaan wartawan. Ketika ditanya mengapa akhir-akhir ini ia lebih sering muncul dalam karakter yang “gelap”, “rusak”, atau bahkan “jahat”, aktor asal Inggris itu tak segan membeberkan isi hatinya. Jawabannya sederhana namun menyimpan kedalaman artistik: peran antagonis memberinya kebebasan yang tidak pernah ia temukan dalam peran protagonis.
Kebebasan Tanpa Batas di Balik Jiwa yang Gelap
Menurut Pattinson, memerankan pahlawan sering kali datang dengan seperangkat aturan moral yang ketat, yang membatasi ruang gerak seorang aktor untuk bereksperimen. Sementara itu, karakter antagonis layaknya kanvas kosong yang bisa ia warnai dengan emosi-emosi liar, ambiguitas moral, bahkan kerapuhan yang tersembunyi.
“Karakter hero cenderung terikat tanggung jawab untuk selalu benar, selalu memberi inspirasi. Itu melelahkan. Tapi seorang antagonis? Dia bisa melakukan hal paling egois sekalipun, dan itu justru menjadi inti dari daya tariknya. Tidak ada tekanan untuk membuat penonton jatuh cinta pada mereka,”
ujar Pattinson dengan seringai khasnya. Ia menambahkan,
“Saya bukan orang yang suka diatur oleh naskah yang terlalu ‘bersih’. Antagonis mengizinkan saya menjadi lebih liar, tidak tertebak, dan jauh lebih manusiawi—karena manusia sejati itu jarang yang sempurna.”
Dari Vampir Berkilau ke Kapten yang Ambigu
Pattinson tentu tidak asing dengan sorotan global. Namanya meroket berkat peran Edward Cullen di saga Twilight—seorang vampir romantis yang sempurna secara fisik dan moral. Namun, setelah waralaba itu usai, ia seperti buru-buru menanggalkan citra heartthrob yang dulu mendefinisikannya. Ia dengan sadar memilih proyek-proyek independen yang gelap dan distopia, seperti The Lighthouse (2019) dan The Devil All the Time (2020), di mana ia berperan sebagai karakter yang rusak, fanatik, atau terisolasi. Bahkan ketika ia akhirnya mengenakan jubah superhero sebagai Batman, ia justru menghadirkan versi Bruce Wayne yang penuh amarah, murung, dan nyaris antihero—bukan pahlawan yang gagah berkilau.
Pilihan-pilihan itu kini menemukan panggung besarnya dalam The Odyssey. Disutradarai oleh Christopher Nolan, film epik berlatar mitologi Yunani itu menampilkan Pattinson sebagai Kapten Eurylochus, tangan kanan Odysseus yang kontroversial. Dalam versi Nolan, Eurylochus bukan sekadar pengikut setia; ia digambarkan sebagai tokoh pragmatis yang kerap berseberangan dengan idealisme sang pemimpin, menciptakan ketegangan moral yang menjadi bumbu utama cerita.
Antagonis Modern yang Memikat Empati
Pamor peran antagonis di jagat perfilman modern tengah mengalami pergeseran makna. Penonton masa kini tidak lagi puas dengan karakter jahat yang satu dimensi. Mereka mendambakan latar belakang psikologis yang kuat dan motivasi yang bisa dimengerti. Pattinson memahami betul fenomena ini dan melihatnya sebagai ladang subur bagi aktor yang ingin mendobrak konvensi.
“Penonton sekarang lebih cerdas. Mereka ingin tahu mengapa seseorang menjadi jahat. Mungkin karena trauma, mungkin karena cinta yang salah, atau keyakinan yang buta. Menemukan celah kemanusiaan dalam diri orang-orang yang ‘hancur’ itu adalah tantangan paling memuaskan bagi saya sebagai aktor,”
tegasnya. Bagi Pattinson, proyek seperti The Odyssey memberinya kesempatan untuk menyelami pertanyaan-pertanyaan eksistensial tanpa harus terjebak dalam klise heroisme.
Pada pemutaran perdana itu sendiri, para kritikus awal telah melontarkan pujian terhadap dinamika karakter Eurylochus. Banyak yang menyebut bahwa justru melalui pergulatan batin tokoh “kedua” inilah, penonton dipaksa merenungkan ulang makna kesetiaan, kekuasaan, dan pengorbanan—jauh melampaui petualangan Odysseus yang sudah tersohor.
Pengakuan Pattinson tentang preferensinya terhadap peran antagonis tidak hanya menjadi angin segar bagi wawancara hiburan, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk terus menantang batas-batas seni peran. Di usia kepala empat, ia memilih reputasi sebagai aktor yang dicari karena kualitasnya menafsirkan kegelapan jiwa, bukan sekadar wajah tampan di poster film. Transformasi dari ikon pop menjadi karakter yang paling ditakuti (namun dirindukan) di layar lebar ini tampaknya akan terus menjadi narasi yang ia tulis sendiri.
Berikut adalah tiga pertanyaan yang sering diajukan seputar preferensi Robert Pattinson terhadap peran antagonis:
- Q: Apakah Robert Pattinson hanya ingin menghindari citra romantis dari era Twilight?
A: Meskipun ia mengakui keinginan untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Edward Cullen, alasan utamanya adalah kebebasan artistik. Peran antagonis memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi spektrum emosi yang lebih luas tanpa batasan moral yang baku. - Q: Apa peran antagonis paling signifikan yang pernah dimainkannya?
A: Beberapa kritikus menunjuk karakter Pendeta Teagardin dalam The Devil All the Time dan Kapten Eurylochus di The Odyssey sebagai puncak peran “gelap”-nya. Namun, Pattinson sendiri kerap menyebut karya awalnya di film independen seperti Good Time (2017) sebagai momen titik baliknya. - Q: Apakah dia akan meninggalkan peran protagonis sepenuhnya?
A: Tidak. Pattinson menegaskan ia tetap terbuka pada peran apapun selama naskahnya kuat dan karakternya kompleks. Ia tidak mengkotak-kotakkan dirinya, hanya saja saat ini ia merasakan koneksi lebih dalam dengan karakter yang secara moral ambigu.
Comments (0)