Rob Genangi Pantura, BMKG Wanti-wanti Karhutla di Jawa Tengah
Jawa Tengah pagi ini dihadapkan pada dua ancaman sekaligus: air pasang yang memicu banjir rob di sepanjang pesisir utara (Pantura) serta peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat suh...
Jawa Tengah pagi ini dihadapkan pada dua ancaman sekaligus: air pasang yang memicu banjir rob di sepanjang pesisir utara (Pantura) serta peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat suhu panas yang mengeringkan vegetasi. Fenomena ini menjadi pengingat nyata betapa cuaca ekstrem kian sering melanda, menuntut kesiapsiagaan semua pihak.
Banjir Rob Kembali Rendam Permukiman Pantura
Sejak dini hari, air laut menerobos daratan di beberapa titik rawan di Pantura. Ketinggian air dilaporkan bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter, merendam jalan protokol, pemukiman, dan fasilitas umum. Kota Pekalongan, Semarang bagian utara, dan Kabupaten Demak menjadi wilayah paling parah terdampak. Genangan tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mengancam kesehatan karena air rob kerap bercampur limbah domestik.
Fenomena rob kali ini dipicu oleh pasang maksimum yang bertepatan dengan fase bulan purnama, ditambah penurunan muka tanah (land subsidence) yang terus terjadi di sejumlah kota pesisir. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa ketinggian pasang di perairan utara Jawa Tengah mencapai 1,1 – 1,3 meter di atas rata-rata muka laut. Kombinasi inilah yang memaksa air melimpas melewati tanggul dan sistem drainase yang sudah tak memadai.
Dampak ekonomi mulai terasa; para pedagang di pasar tradisional terpaksa menutup lapak lebih awal, sementara nelayan memilih tidak melaut karena khawatir gelombang tinggi. “Sekolah-sekolah di wilayah tergenang kami minta untuk menerapkan pembelajaran daring sementara,” ujar Kepala Pelaksana BPBD setempat, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas.
Banjir rob di Pantura bukanlah hal baru, namun frekuensinya kian meningkat. Para peneliti dari Universitas Diponegoro mencatat, dalam dua dekade terakhir, kejadian rob di Semarang naik hampir 40% seiring percepatan penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah berlebihan dan beban infrastruktur. Tanpa langkah struktural seperti pembangunan tanggul laut raksasa atau normalisasi sungai, kondisi ini diprediksi akan semakin parah.
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Karhutla
Di tengah genangan air di utara, wilayah lain di Jawa Tengah justru berada dalam status waspada kebakaran. BMKG merilis peringatan dini untuk 15 kabupaten/kota yang rawan karhutla, termasuk Grobogan, Blora, Sragen, dan Wonogiri. Suhu harian di beberapa titik tercatat menyentuh 36 derajat Celsius dengan kelembapan udara di bawah 50 persen, menciptakan kondisi ideal bagi percikan api berubah menjadi kebakaran besar.
Kondisi ini diperburuk oleh fenomena El Niño moderat yang masih bertahan hingga pertengahan tahun, menyebabkan curah hujan berkurang signifikan di selatan ekuator. Satelit Terra dan Aqua milik NASA mendeteksi peningkatan jumlah hotspot (titik panas) di Pulau Jawa pekan ini, dengan mayoritas tersebar di Jawa Tengah bagian timur dan selatan. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Semarang menyebut, “Angin kencang yang berembus muson timur membuat api mudah merambat dan sulit dipadamkan. Kami meminta warga untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar.”
Data historis menunjukkan bahwa Juni hingga September memang menjadi puncak musim kemarau di Jawa, namun tahun ini ambang bahaya lebih tinggi karena panjangnya hari tanpa hujan (HTH) yang di beberapa daerah sudah mencapai 45 hari. Pemerintah provinsi telah mengaktifkan posko siaga darurat di tingkat desa yang terhubung langsung dengan sistem pemantauan titik panas berbasis satelit.
Satu Negeri, Dua Bencana: Pentingnya Adaptasi Iklim
Situasi paradoks—banjir dan kekeringan dalam satu waktu di provinsi yang sama—menggambarkan kompleksitas krisis iklim. Sektor pertanian paling rentan; jika rob merusak tambak dan sawah pesisir, maka karhutla mengancam lahan tegalan dan hutan produksi. Dinas Pertanian Jawa Tengah memperkirakan, potensi gagal panen jagung dan kedelai di wilayah selatan bisa mencapai 15% apabila kemarau berlanjut tanpa hujan buatan.
Adaptasi menjadi kata kunci. Di Pantura, diskusi tentang proyek tanggul laut dan restorasi mangrove kembali mencuat. Mangrove terbukti mampu meredam gelombang rob sekaligus menjadi penyerap karbon. Sementara di daerah rawan karhutla, pembuatan embung desa dan sumur bor harus dipercepat agar pasokan air tetap tersedia. Masyarakat pun didorong untuk membentuk tim relawan pemadam kebakaran hutan guna meminimalkan waktu respons.
“Kami tidak bisa memilih bencana mana yang lebih ringan, karena keduanya sama-sama mematikan jika kita lengah,” tegas seorang anggota DPRD Jateng saat meninjau lokasi rob. Ia mengusulkan agar dana desa dialokasikan untuk mitigasi berbasis komunitas, sehingga setiap daerah memiliki ketahanan yang spesifik sesuai karakter ancamannya.
Dengan cuaca ekstrem yang diproyeksikan terus meningkat, peristiwa hari ini menjadi ujian bagi kesiapan infrastruktur dan kesadaran kolektif. Banjir rob dan karhutla bukan sekadar headline berita, melainkan realitas yang menuntut tindakan konkret dari semua pemangku kepentingan.
Baca juga:
Comments (0)