Revolusi Hijau Buka Jalan Karir Baru, Permintaan Green Jobs Naik 40%

Jakarta, Terdepan.id — Permintaan tenaga kerja di sektor ekonomi hijau atau green jobs mengalami lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (I

Revolusi Hijau Buka Jalan Karir Baru, Permintaan Green Jobs Naik 40%

Jakarta, Terdepan.id — Permintaan tenaga kerja di sektor ekonomi hijau atau green jobs mengalami lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (IRENA) 2025, jumlah lapangan kerja di energi terbarukan global mencapai 12,7 juta pada 2024, naik 40% dibandingkan 2022. Indonesia pun tak luput dari tren ini. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat kebutuhan pekerja hijau di dalam negeri mencapai 1,2 juta orang pada 2026, terutama di bidang energi surya, pengelolaan limbah, dan pertanian berkelanjutan.

Transformasi Ekonomi Dorong Pertumbuhan Green Jobs

Pertumbuhan green jobs didorong oleh komitmen pemerintah dan sektor swasta dalam transisi ke ekonomi rendah karbon. Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menegaskan target Net Zero Emission 2060, yang membutuhkan investasi besar di energi terbarukan. Menurut Kementerian ESDM, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) saja berpotensi menyerap hingga 200.000 tenaga kerja baru pada 2025. Selain itu, sektor pengelolaan sampah menjadi pabrik daur ulang serta pertanian berkelanjutan juga membuka peluang karir luas.

Keterampilan yang Dibutuhkan di Sektor Hijau

Green jobs tidak hanya untuk lulusan teknik. Keterampilan digital, manajemen proyek berkelanjutan, dan sertifikasi hijau semakin dicari. Survei LinkedIn Global Green Skills Report 2024 menunjukkan bahwa permintaan akan kandidat dengan keterampilan hijau meningkat 25% setiap tahun. Sektor keuangan hijau, konsultan keberlanjutan, serta pengembangan produk ramah lingkungan menjadi bidang dengan pertumbuhan tercepat. Di Indonesia, program vokasi dan kursus pendamping dari pemerintah mulai menyasar kebutuhan ini.

Perusahaan multinasional maupun lokal mulai mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam rekrutmen. Hal ini mendorong munculnya posisi baru seperti sustainability officer, green supply chain analyst, dan carbon finance specialist. Peluang karir hijau tidak terbatas pada sektor energi, tetapi juga manufaktur, konstruksi, dan jasa keuangan.

Persiapan Pemerintah dan Tantangan

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah meluncurkan program pelatihan vokasi hijau dan sertifikasi kompetensi di lima kota besar. Namun, tantangan masih ada, terutama kesenjangan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Diperlukan kolaborasi erat antara universitas, lembaga pelatihan, dan pelaku usaha untuk menciptakan tenaga kerja siap pakai. Dengan investasi yang tepat, sektor ekonomi hijau bisa menjadi lokomotif penciptaan lapangan kerja baru dan solusi atas krisis iklim sekaligus.

Para pencari kerja disarankan untuk mulai mengakselerasi keterampilan hijau mereka. Sertifikasi seperti LEED Green Associate, sertifikat energi terbarukan, atau pelatihan analisis siklus hidup dapat menjadi nilai tambah. Revolusi hijau bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang membuka beragam peluang karir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User