Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Hadapi El Nino Kuat dan Tantangan Global

Ketika harga sejumlah kebutuhan pokok mulai merayap naik dan langit terasa lebih jarang menurunkan hujan, persoalannya bukan lagi sekadar urusan cuaca. Ini menyangkut isi piring ratusan juta warga Ind...

Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Hadapi El Nino Kuat dan Tantangan Global

Ketika harga sejumlah kebutuhan pokok mulai merayap naik dan langit terasa lebih jarang menurunkan hujan, persoalannya bukan lagi sekadar urusan cuaca. Ini menyangkut isi piring ratusan juta warga Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia siap menghadapi berbagai guncangan yang datang dari luar, termasuk fenomena El Nino kuat yang dampaknya langsung terasa pada pola musim dan ketersediaan bahan pangan nasional.

Pernyataan itu bukan semata-mata retorika. Ibarat sebuah kapal besar yang sudah mempelajari peta badai sebelum berlayar, pemerintah meyakini fondasi ketahanan pangan Indonesia cukup kokoh untuk menahan hantaman cuaca ekstrem yang dipicu oleh menghangatnya Samudra Pasifik.

Mengenal El Nino dan Cara Kerjanya

El Nino adalah fenomena iklim berupa naiknya suhu permukaan air laut di kawasan tengah dan timur Samudra Pasifik melebihi kondisi normal. Gejala ini menjadi bagian dari siklus yang dalam dunia sains disebut ENSO (El Nino-Southern Oscillation), yakni interaksi bolak-balik antara lautan dan atmosfer yang mengatur pergeseran pola hujan di kawasan tropis.

Ibarat seperti menyalakan kompor raksasa di tengah lautan, air Pasifik yang menghangat membuat massa udara basah tertarik ke arah timur, menjauhi wilayah Indonesia. Akibatnya, uap air yang seharusnya menjadi hujan di Nusantara justru berpindah tempat, sehingga curah hujan berkurang drastis dan musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Dampaknya tidak berhenti pada cuaca. Kekeringan yang berkepanjangan memicu gagal panen, menurunkan debit air irigasi, hingga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah dengan kabut asap.

Ketahanan Pangan di Titik Ujian

Sektor pertanian menjadi garda terdepan yang paling rentan terhadap perubahan ini. Sebagian besar petani di Indonesia masih menggantungkan siklus tanam pada datangnya musim hujan. Ketika hujan tertunda, masa tanam ikut mundur, produksi padi menurun, dan pasokan beras di pasar menipis — kondisi yang pada akhirnya mendorong harga naik dan membebani daya beli masyarakat.

Pengalaman pada El Nino kuat 2015-2016 memberi pelajaran berharga. Kala itu, kekeringan meluas dan kebakaran lahan gambut menghasilkan bencana asap yang mencatatkan kerugian ekonomi besar. Pada 2023-2024, El Nino kembali hadir dengan intensitas sedang hingga kuat, membuat awal musim hujan di sejumlah daerah mundur dan mengganggu jadwal tanam.

"Kunci menghadapi El Nino bukan hanya pada berapa banyak cadangan beras di gudang, melainkan pada seberapa siap petani dan infrastruktur air kita merespons perubahan jadwal musim," demikian pandangan yang kerap disampaikan para pengamat iklim dan ketahanan pangan.

Strategi Pemerintah Menghadapi Guncangan

Menjawab ancaman tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah instrumen. Cadangan beras nasional yang dikelola Badan Urusan Logistik (BULOG) diposisikan sebagai penyangga utama untuk menstabilkan pasokan dan harga. Di sisi lain, Kementerian Pertanian mempercepat program perluasan areal tanam serta perbaikan jaringan irigasi agar sawah tetap produktif meski musim kemarau lebih panjang.

Pemerintah juga mengandalkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), yang dikenal publik sebagai hujan buatan, untuk memancing turunnya hujan di kawasan tangkapan air dan sentra produksi pangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bertugas memberikan peringatan dini sehingga para pemangku kepentingan bisa menyesuaikan jadwal tanam lebih awal.

Tahun El NinoIntensitasDampak Utama di Indonesia
1997-1998Sangat kuatKemarau panjang dan kebakaran hutan masif
2015-2016KuatKekeringan meluas dan bencana asap
2023-2024Sedang-kuatMusim hujan mundur dan gangguan tanam

Optimisme pemerintah, menurut para pengamat, akan teruji di lapangan. Kesiapan menghadapi El Nino tidak cukup diukur dari pernyataan, melainkan dari kecepatan distribusi bantuan, kecukupan stok pangan di daerah, dan ketangguhan petani menghadapi musim yang tak lagi bisa diprediksi seperti dulu.

Pada akhirnya, perubahan iklim membuat fenomena seperti El Nino datang lebih sering dan lebih kuat. Di tengah ketidakpastian global itu, ketahanan pangan bukan lagi isu sektoral, melainkan fondasi stabilitas sosial dan ekonomi sebuah bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User