Pertamina Hulu Rokan Pacu Transisi Energi Tekan Emisi

Sebagai produsen minyak terbesar di Indonesia, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menghadapi tantangan ganda: menjaga tingkat produksi minyak sambil menekan emisi gas rumah kaca. Mengelola Blok Rokan yang ...

Pertamina Hulu Rokan Pacu Transisi Energi Tekan Emisi

Sebagai produsen minyak terbesar di Indonesia, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menghadapi tantangan ganda: menjaga tingkat produksi minyak sambil menekan emisi gas rumah kaca. Mengelola Blok Rokan yang menyumbang sekitar seperempat produksi minyak nasional – rata-rata 165.000 barel per hari – PHR berupaya membuktikan bahwa industri hulu migas bisa selaras dengan agenda dekarbonisasi. PHR mencanangkan transisi energi sebagai pilar utama strategi pengurangan emisi, dengan mengintegrasikan energi bersih, teknologi digital, dan inovasi operasional yang terukur.

Direktur Utama PHR menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan kebutuhan bisnis jangka panjang. “Kami harus memproduksi minyak yang lebih bersih, bukan sekadar lebih banyak,” ujarnya. Dengan target menurunkan intensitas emisi hingga 30% pada 2030, perusahaan membangun fondasi pemanfaatan energi terbarukan di lapangan-lapangan penghasil minyak utama.

Mengganti Diesel dengan Panas Matahari

Inisiatif nyata yang telah berjalan adalah pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di beberapa fasilitas produksi. Di lapangan-lapangan terpencil yang selama ini bergantung pada genset diesel, PHR memasang panel surya dengan total kapasitas 2,5 megawatt (MW) pada tahap awal. Proyek ini mengurangi konsumsi bahan bakar diesel hingga 1,2 juta liter per tahun dan memotong emisi karbon sekitar 3.000 ton CO2 ekuivalen setiap tahunnya.

Selain panel surya, PHR menerapkan sistem hibrida yang menggabungkan tenaga surya, baterai penyimpanan berkapasitas 6 megawatt-jam (MWh), dan genset pintar. Algoritma pengelolaan energi menentukan sumber listrik paling efisien secara real-time, menekan waktu operasi diesel seminimal mungkin. Teknologi ini diuji di sejumlah sumur di wilayah Duri dan Minas, dua area produksi utama di Blok Rokan yang terkenal dengan operasi injeksi uapnya.

Mengakhiri Pembakaran Gas Sia-Sia

Salah satu kontributor terbesar emisi di hulu migas adalah gas suar (flaring), yaitu pembakaran gas ikutan yang tidak termanfaatkan. PHR menargetkan zero routine flaring pada 2030, sejalan dengan inisiatif global Bank Dunia. Untuk itu, perusahaan menginvestasikan peralatan pemisahan dan kompresi gas agar gas yang tadinya dibakar bisa dialirkan ke jaringan pipa atau dipakai untuk pembangkit listrik internal di lapangan.

Pada 2025, volume gas yang termanfaatkan meningkat 40% dibanding tahun sebelumnya, setara dengan penghematan emisi lebih dari 50.000 ton CO2 per tahun. PHR juga mengembangkan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/Carbon Capture Storage) bekerja sama dengan lembaga riset, meski masih dalam tahap studi kelayakan di lapangan-lapangan yang memiliki formasi batuan cocok sebagai reservoir karbon.

Digitalisasi: AI Awasi Emisi Setiap Detik

Transformasi digital menjadi tulang punggung efisiensi operasional. PHR membangun pusat kendali terintegrasi yang memanfaatkan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) dan Internet of Things (IoT) untuk memonitor konsumsi energi, mengidentifikasi kebocoran gas, serta memprediksi kapan peralatan perlu perawatan. Salah satunya adalah platform Energy Optimizer yang secara kontinu menyeimbangkan antara volume produksi dan konsumsi energi, menekan penggunaan berlebih yang tidak perlu.

Dengan sensor-sensor yang dipasang di ribuan sumur, data dikirim secara real-time ke pusat analitik. Algoritma machine learning mendeteksi anomali yang menandakan penurunan efisiensi, memungkinkan tim teknis bertindak sebelum terjadi lonjakan emisi. Digitalisasi ini diklaim mampu mengurangi kehilangan energi hingga 8%, sekaligus memperpanjang usia peralatan produksi utama.

Menanam Karbon, Merawat Hutan

Di luar wilayah operasi, PHR menjalankan program konservasi berbasis alam (nature-based solutions) untuk mengimbangi emisi yang tak bisa dihindari. Di sekitar Riau, perusahaan menanam bibit mangrove dan merehabilitasi kawasan gambut seluas 1.200 hektare. Program ini dihitung mampu menyerap karbon hingga 15.000 ton CO2 per tahun setelah ekosistem matang dan metode pemantauan karbon diterapkan secara penuh.

Perusahaan juga menggandeng masyarakat lokal dalam skema perhutanan sosial, memastikan keberlanjutan proyek dan memberi dampak ekonomi. Melalui perhitungan karbon tersertifikasi, PHR berencana masuk ke bursa karbon nasional yang baru dibentuk, sehingga setiap ton emisi yang berhasil dipangkas memiliki nilai ekonomi dan mendorong investasi lebih hijau.

Kolaborasi untuk Skala Lebih Besar

PHR tidak bergerak sendiri. Bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dan mitra global, perusahaan mengadopsi praktik terbaik industri. Teknologi injeksi uap yang selama ini menjadi andalan produksi di lapangan Duri kini dioptimasi menggunakan boiler yang lebih efisien dan memungkinkan co-firing dengan bahan bakar nabati. Sementara itu, program elektrifikasi menggunakan kabel bawah tanah dari jaringan listrik nasional mulai menggantikan pembangkit genset di sumur-sumur tertentu, menekan konsumsi solar secara signifikan.

“Transisi energi di sektor hulu bukan sekadar mengganti sumber, tapi membangun ulang cara kita memproduksi energi,” kata Senior Manager Energy Transition PHR. Menurutnya, setiap dolar yang diinvestasikan harus memberi hasil ganda: produksi stabil dan penurunan jejak karbon yang terverifikasi.

Dengan pendekatan terstruktur dan peta jalan yang jelas hingga 2030, PHR menegaskan bahwa era energi bersih tak harus menghentikan produksi minyak. Yang dibutuhkan adalah inovasi tanpa henti – dari hulu ke hilir – untuk memproduksi minyak yang lebih ramah lingkungan, setetes demi setetes.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User