Pertamina Hulu Rokan Garap Ladang Migas Non Konvensional Pertama di Indonesia

Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi minyak nasional yang terus menurun, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengambil langkah berani dengan mengembangkan sumur minyak dan gas non-konvension...

Pertamina Hulu Rokan Garap Ladang Migas Non Konvensional Pertama di Indonesia

Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan produksi minyak nasional yang terus menurun, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengambil langkah berani dengan mengembangkan sumur minyak dan gas non-konvensional (MNK) untuk pertama kalinya di Indonesia. Langkah ini tidak hanya menandai era baru bagi industri hulu migas Tanah Air, tetapi juga menjawab tantangan ketersediaan energi jangka panjang yang semakin mendesak.

Minyak dan gas non-konvensional pada dasarnya adalah hidrokarbon yang terperangkap di dalam batuan reservoir dengan porositas dan permeabilitas sangat rendah, berbeda dengan sumur konvensional yang mengalirkan minyak secara alami melalui pori-pori batuan yang lebih lunak. Ibaratnya, jika sumur konvensional seperti menyedot air dari pasir basah, maka MNK bagaikan memeras segelas susu dari batu karang. Untuk melepaskan minyak dari batuan padat seperti serpih (shale) atau batupasir ketat (tight sand), dibutuhkan rekayasa teknologi yang kompleks dan mahal.

PHR, yang merupakan operator Blok Rokan setelah beralih dari Chevron pada 2021, selama ini dikenal mengelola salah satu ladang migas paling produktif di Indonesia. Namun, lapangan-lapangan tersebut sebagian besar sudah tua dan produksinya menurun secara alamiah. Pengembangan MNK menjadi jawaban strategis untuk mengimbangi penurunan itu, sekaligus membuka cadangan baru yang sebelumnya tidak dapat diakses.

Mengapa Non-Konvensional? Sebuah Keharusan Strategis

Kondisi cadangan migas konvensional Indonesia semakin menipis. Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir, produksi minyak nasional terus melorot ke level sekitar 600 ribu barel per hari, jauh dari target ambisius satu juta barel per hari. Sementara itu, konsumsi dalam negeri melonjak, membuat Indonesia kembali menjadi importir minyak yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Di tengah situasi inilah, MNK hadir sebagai alternatif yang tak bisa dihindari.

PHR melihat potensi besar di Blok Rokan yang sesungguhnya menyimpan lapisan batuan induk kaya organik, seperti Formasi Brown Shale, yang selama ini hanya dianggap sebagai batuan pembentuk minyak, bukan reservoir. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi contoh bagi operator lain di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan untuk mengaktifkan kembali sumur-sumur marginal yang sebelumnya ditinggalkan.

Rekayasa Teknologi dan Biaya yang Menantang

Mengembangkan MNK bukan perkara mudah. Berbeda dengan sumur konvensional yang dapat dibor vertikal dan langsung berproduksi, sumur non-konvensional memerlukan pendekatan berbeda. Pengeboran horizontal sepanjang ribuan meter di bawah tanah merupakan teknik dasar untuk memperluas kontak dengan batuan reservoir. Setelah itu, dilakukan perekahan hidrolik (hydraulic fracturing), yaitu menyuntikkan campuran air, pasir, dan sejumlah kecil bahan kimia bertekanan tinggi untuk menciptakan retakan pada batuan agar minyak dan gas dapat mengalir.

Teknologi ini menuntut investasi yang sangat besar. Menurut perkiraan para pakar, biaya pengeboran satu sumur MNK bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat biaya sumur konvensional, berkisar antara 15 hingga 30 juta dolar AS per sumur. Belum lagi kebutuhan akan pasokan air dalam jumlah besar untuk operasi perekahan, isu yang sering memicu perdebatan lingkungan di banyak negara. PHR menyadari tantangan ini dan tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan minyak internasional berpengalaman di bidang unconventional resources untuk mempercepat alih teknologi.

Dampak Luas bagi Ketahanan Energi dan Ekonomi Daerah

Jika proyek MNK PHR sukses, dampaknya akan sangat terasa. Pertama, Indonesia bisa menambah cadangan terbukti secara signifikan. Badan Geologi Kementerian ESDM memperkirakan sumber daya MNK di Indonesia mencapai miliaran barel setara minyak, dengan potensi di Sumatra Tengah, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Timur. Sebagian dari sumber daya itu kini mungkin berubah menjadi cadangan yang bisa dieksploitasi secara komersial.

Kedua, proyek ini akan menciptakan ribuan lapangan kerja, baik langsung di lapangan maupun tidak langsung di sektor pendukung seperti penyediaan air, pasir silika, dan jasa permesinan. Bagi Riau, tempat Blok Rokan berada, ini bisa menjadi keniscayaan ekonomi baru yang menopang kehidupan masyarakat pascapenurunan produksi minyak konvensional. Ketiga, peningkatan pasokan minyak dalam negeri akan mengurangi impor dan memperkuat neraca perdagangan. Ekonom energi dari Universitas Indonesia, yang enggan disebutkan namanya, mengomentari, "Ini adalah gebrakan yang telah lama dinanti. Tapi kesuksesannya sangat tergantung pada konsistensi regulasi dan kemampuan mengelola risiko lingkungan."

Rencana Uji Coba dan Target Produksi Awal

PHR saat ini tengah menyelesaikan studi geologi lanjutan dan mempersiapkan lokasi untuk sumur uji perdananya. Langkah awal difokuskan pada evaluasi tight sandstone dan shale oil di area tertentu yang memiliki data seismik lengkap peninggalan operator terdahulu. Meski jadwal pasti masih dirahasiakan, signal dari internal perusahaan menunjukkan pengeboran eksplorasi bisa dimulai pada awal 2025. Target awal adalah membuktikan aliran minyak komersial dari satu atau dua sumur pilot, yang kemudian akan direplikasi secara bertahap.

PHR menganggarkan dana yang tidak kecil untuk program riset dan pengembangan ini, termasuk membangun laboratorium batuan inti (core lab) berstandar internasional di Riau guna menganalisis karakteristik batuan reservoir MNK secara presisi. Jika uji coba berhasil, perusahaan berencana mempercepat komersialisasi pada 2026 dengan skema contract sharing yang lebih fleksibel bersama pemerintah. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai swasembada energi di masa mendatang.

Dengan memelopori pengembangan MNK, Pertamina Hulu Rokan tidak sekadar mengejar target produksi jangka pendek, melainkan sedang membangun fondasi bagi masa depan energi Indonesia. Di tengah transisi energi global, minyak dan gas masih akan memegang peran vital, dan upaya inovatif seperti ini menjadi penentu bagi kedaulatan energi nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User