Pertamina dan Program SEKAR: Menjaga Pesisir Medan dari Ancaman Lingkungan

Wilayah pesisir Kota Medan, Sumatera Utara, menyimpan tantangan ekologis yang tidak sedikit. Mulai dari abrasi yang menggerus garis pantai, tumpukan sampah plastik yang mencemari ekosistem mangrove, h...

Pertamina dan Program SEKAR: Menjaga Pesisir Medan dari Ancaman Lingkungan

Wilayah pesisir Kota Medan, Sumatera Utara, menyimpan tantangan ekologis yang tidak sedikit. Mulai dari abrasi yang menggerus garis pantai, tumpukan sampah plastik yang mencemari ekosistem mangrove, hingga menurunnya kualitas air laut akibat aktivitas warga sekitar. Menyadari situasi tersebut, sebuah inisiatif berbasis edukasi lingkungan digencarkan untuk mengubah pola pikir masyarakat pesisir agar lebih peduli terhadap kelestarian alam di lingkungannya.

Program yang dimaksud adalah SEKAR, sebuah singkatan yang merujuk pada konsep Sekolah Pesisir Lestari. Melalui pendekatan ini, edukasi tidak hanya disampaikan dalam bentuk seminar atau pelatihan singkat, melainkan dirancang sebagai gerakan berkelanjutan yang melibatkan komunitas lokal secara langsung. Tujuannya sederhana namun ambisius: mencetak generasi pesisir yang memahami, mencintai, dan menjaga lautnya sendiri.

Mengapa Kawasan Pesisir Medan Butuh Perhatian Serius

Data menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen penduduk Kota Medan yang tinggal di kecamatan pesisir masih menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Nelayan tradisional, pedagang ikan, hingga usaha mikro pengolahan seafood menjadi roda ekonomi yang berputar di kawasan ini. Namun di sisi lain, aktivitas tersebut seringkali berbenturan dengan kelestarian lingkungan.

Menurut pengamatan berbagai pihak, persoalan paling krusial adalah minimnya literasi lingkungan di kalangan masyarakat pesisir. Banyak warga yang belum memahami bahwa membuang limbah rumah tangga langsung ke laut, menebang mangrove untuk kayu bakar, atau menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan akan berdampak jangka panjang terhadap mata pencaharian mereka sendiri. Ibarat sebuah siklus, ketika ekosistem rusak, hasil tangkapan ikan pun menurun, dan ekonomi keluarga ikut terancam.

Dalam konteks itulah, pendekatan edukatif menjadi kunci. Alih-alih melarang atau menertibkan, program SEKAR memilih jalan dialog dan pendampingan. Warga dilibatkan sebagai subjek, bukan objek. Mereka dilatih untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

Mekanisme Program: Dari Kelas Komunitas hingga Aksi Nyata

Program SEKAR tidak berjalan dengan konsep satu arah. Justru sebaliknya, kegiatan ini dirancang secara partisipatif. Terdapat beberapa pilar utama yang dijalankan secara simultan.

Pilar pertama adalah kelas lingkungan berbasis komunitas. Pertemuan rutin digelar di balai warga, sekolah dasar, hingga pos ronda. Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan sampah rumah tangga, teknik konservasi mangrove, serta bahaya mikroplastik terhadap biota laut. Yang menarik, penyampaian materi tidak menggunakan bahasa ilmiah yang kaku, melainkan pendekatan storytelling yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan usia.

Pilar kedua adalah aksi bersih pantai berkelanjutan. Setiap bulan, volunteers yang terdiri dari warga, pelajar, dan pekerja perusahaan menggelar aksi gotong royong membersihkan garis pantai. Sampah yang terkumpul tidak hanya dibuang, tetapi dipilah. Organik diolah menjadi kompos, anorganik bernilai ekonomis didaur ulang, dan residu yang tidak bisa diolah dikirim ke fasilitas pengelolaan limbah resmi.

Pilar ketiga adalah pendampingan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) pesisir. Banyak ibu rumah tangga di kawasan pesisir yang memiliki usaha rumahan, mulai dari pengolahan ikan hingga produksi makanan laut. Mereka diberikan pelatihan tambahan mengenai sanitasi, kemasan ramah lingkungan, serta standar higienitas yang sesuai dengan regulasi.

Dampak yang Mulai Terlihat di Lapangan

Sejak digencarkan beberapa waktu lalu, program SEKAR mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya partisipasi warga dalam aksi bersih pantai. Jika sebelumnya hanya belasan orang yang hadir, kini jumlah peserta bisa mencapai ratusan dalam satu kali kegiatan.

Selain itu, beberapa sekolah dasar di kawasan pesisir Medan juga mulai mengintegrasikan materi lingkungan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler. Siswa-siswi diajarkan mengenai pentingnya mangrove sebagai pelindung alami dari abrasi. Mereka juga dilibatkan dalam program adopsi mangrove, di mana setiap kelas bertanggung jawab merawat bibit mangrove di area tertentu.

"Perubahan perilaku adalah proses yang lambat, tapi ketika dimulai dari edukasi yang konsisten, hasilnya akan bertahan lama. Kami percaya, pesisir yang lestari dimulai dari warga yang paham," ujar salah satu koordinator program.

Di sisi ekonomi, beberapa UMKM yang sebelumnya membuang limbah produksi langsung ke laut, kini mulai mengolah limbahnya menjadi produk bernilai tambah. Misalnya, limbah kulit udang diolah menjadi kerupuk, sementara sisa ikan diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman hias.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun capaian yang ada cukup positif, bukan berarti jalan yang ditempuh bebas hambatan. Tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial-budaya. Tidak semua warga pesisir langsung menerima perubahan. Ada sebagian yang masih menganggap laut sebagai tempat pembuangan sampah yang aman, karena kebiasaan tersebut sudah berlangsung turun-temurun.

Untuk menjawab tantangan ini, pendekatan yang digunakan pun harus adaptif. Tidak cukup hanya memberikan edukasi sekali jalan, melainkan perlu pendampingan intensif yang berkelanjutan. Pendekatan peer-to-peer, di mana warga yang sudah paham menjadi mentor bagi tetangganya, menjadi salah satu strategi yang dianggap efektif.

Ke depan, harapan besar tentu tertuju pada replicability atau kemampuan replikasi program. Jika model SEKAR terbukti berhasil di Medan, bukan tidak mungkin pendekatan serupa bisa diterapkan di kawasan pesisir lain di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Sebab, permasalahan lingkungan pesisir pada dasarnya memiliki kemiripan karakteristik di berbagai daerah.

Pada akhirnya, menjaga kelestarian pesisir bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan besar semata. Ini adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari kesadaran individu. Dan ketika edukasi lingkungan mampu menyentuh hati serta pola pikir masyarakat, maka perubahan positif akan datang dengan sendirinya, bukan karena paksaan, melainkan karena pemahaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User