Penemuan Harta Karun Emas Bizantium Terbesar Guncang Kroasia
Tim arkeolog bawah laut telah mengungkap harta karun emas yang menakjubkan dari bangkai kapal era Bizantium di lepas pantai selatan Kroasia, sebuah temuan yang langsung dinobatkan sebagai salah satu y...
Tim arkeolog bawah laut telah mengungkap harta karun emas yang menakjubkan dari bangkai kapal era Bizantium di lepas pantai selatan Kroasia, sebuah temuan yang langsung dinobatkan sebagai salah satu yang terbesar dan paling signifikan dari jenisnya di seluruh cekungan Laut Tengah. Koleksi artefak yang berhasil diangkat dari kedalaman sekitar 30 meter itu mencakup ratusan keping koin emas, perhiasan mewah, serta benda-benda liturgi yang kondisinya hampir tanpa cela meskipun telah terendam selama lebih dari 1.400 tahun. Para peneliti meyakini bahwa kapal tersebut karam sekitar abad ke-6 Masehi, tepat pada puncak kejayaan Kekaisaran Bizantium di bawah pemerintahan Kaisar Justinianus I, dan mungkin membawa muatan berharga sebagai bagian dari misi diplomatik, pembayaran upeti, atau jalur perdagangan rempah-rempah dan sutra yang melintasi Laut Adriatik. Penemuan ini tidak hanya menawarkan wawasan baru tentang sejarah maritim kuno, tetapi juga mengukuhkan posisi Kroasia sebagai laboratorium hidup bagi studi peradaban bawah laut dunia.
Proses Penemuan: Saat Sonar Menangkap Siluet Sejarah
Awalnya, ini hanyalah misi pemetaan rutin. Sebuah kolaborasi antara Departemen Arkeologi Bawah Air Universitas Split dan Institut Konservasi Kroasia tengah memindai dasar laut di sekitar kepulauan Lastovo, sebuah kawasan yang telah lama dicurigai menjadi saksi bisu banyak kecelakaan kapal kuno. Menggunakan sonar pemindaian samping berfrekuensi tinggi dan kendaraan bawah air otonom (AUV) yang dilengkapi kamera optik akustik, tim dikejutkan oleh anomali yang sangat kontras. “Kami melihat gundukan amorf yang dikelilingi oleh serpihan kayu yang membatu. Tetapi titik-titik reflektif kecil di sekitarnya, begitulah sinyal emas di sonar, membuat jantung kami segera berdegup kencang,” ujar Dr. Ivan Radić, kepala arkeolog proyek tersebut. Setelah dilakukan penyelaman verifikasi pada awal musim panas lalu, para penyelam teknis yang turun dengan peralatan daur ulang udara selama berjam-jam itu langsung disambut oleh pemandangan yang tak akan pernah mereka lupakan: hamparan koin emas berkilauan di antara pasir, anting-anting, dan sebuah salib emas besar yang bersandar pada fragmen lunas kapal.
Isi Harta Karun: Lebih dari Setengah Ton Keanggunan Emas Abad Ke-6
Inventarisasi awal, yang masih berlangsung di laboratorium konservasi kota Dubrovnik, telah menghasilkan angka yang membuat banyak pihak tercengang. Total ada 573 koin emas solidus, mata uang standar yang digunakan di berbagai penjuru Kekaisaran Romawi Timur, yang dicetak pada masa pemerintahan beberapa kaisar berbeda—mulai dari Anastasius I hingga Justinianus I. Bobot dan kadar emasnya yang tinggi, sekitar 22 karat, membuat setiap kepingnya bernilai sangat tinggi pada masanya. Di luar koin, ditemukan pula dua gelang emas besar bermotif sulur dan burung merak, simbol kekuasaan dan keabadian dalam ikonografi Bizantium, serta sebuah salib altar berukuran 40 sentimeter yang diduga berasal dari kapel pribadi kapal. Yang paling langka, arkeolog menemukan medali emas berisi relik—kemungkinan serpihan salib suci—yang kini diyakini sebagai benda tersuci dalam kargo tersebut. “Kombinasi antara koin untuk transaksi, perhiasan untuk hadiah, dan relikui untuk misi keagamaan menunjukkan bahwa kapal ini mungkin tengah menjalankan fungsi kenegaraan penting, bukan sekadar kapal dagang biasa,” tambah Radić.
Mengapa Laut Dalmatia Menyimpan Memori Kekaisaran yang Hilang?
Laut Adriatik adalah semacam jalan tol kuno bagi peradaban. Jalur ini menghubungkan ibu kota Konstantinopel dengan jantung Eropa, termasuk kekuasaan Bizantium atas wilayah Ravenna di Italia. Kapal yang tenggelam di dekat Lastovo diperkirakan sedang menuju ke utara, mungkin untuk memberikan pembayaran kepada pasukan sekutu, membangun aliansi dengan penguasa setempat, atau mendistribusikan kekayaan dari proyek penaklukan kembali Kaisar Justinianus. Badai mendadak, yang sering melanda kawasan itu, atau kerusakan lambung menjadi tersangka utama penyebab tragedi ini. Namun, yang paling menarik bagi sejarawan adalah bahwa temuan ini mengkonfirmasi skala integrasi ekonomi Bizantium dengan kawasan Eropa tengah dan Balkan, sebuah topik yang sebelumnya hanya didukung oleh teks-teks kuno tanpa bukti fisik yang masif. Letak pasti situs itu kini dirahasiakan untuk mencegah penjarahan, dengan patroli penjaga pantai yang diperketat selama 24 jam.
Respon Pemerintah dan Masa Depan Riset Bawah Air Nasional
Menteri Kebudayaan Kroasia, dalam konferensi pers yang digelar di Museum Maritim Split, menyebut temuan ini sebagai “mahkota baru bagi identitas maritim kita.” Pemerintah telah mengumumkan dana tambahan sebesar €2 juta untuk mendukung ekskavasi penuh yang direncanakan berlangsung selama dua tahun ke depan, dengan melibatkan ahli internasional dari Universitas Oxford dan Universitas Yale. Sementara itu, artefak yang sudah diangkat sedang melalui serangkaian proses desalinasi elektrolitik jangka panjang untuk mencegah korosi setelah bersentuhan dengan udara modern. Publik pun tak sabar menanti pameran berskala global pertama yang dijadwalkan pada tahun 2028 di Galeri Seni Rupa Dubrovnik. Di luar kemilau emas, para ilmuwan justru lebih bergairah pada ribuan fragmen keramik, tekstil yang membatu, dan biji-bijian yang ikut terdeteksi di situs tersebut. Analisis residu organik diharapkan bisa mengungkap menu makanan para pelaut abad itu, rute pelayaran, dan bahkan iklim kuno melalui studi serbuk sari. Temuan ini mengingatkan kita bahwa dasar laut masih menyimpan harta karun naratif yang tak ternilai, dan setiap temuan emas hanyalah pintu pembuka menuju kisah peradaban yang jauh lebih kompleks.
Comments (0)