Pemukim Israel Bakar Masjid, Picu Ketegangan Baru di Tepi Barat
Sebuah insiden pembakaran kembali menimpa tempat ibadah di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok pemukim Israel pada Kamis malam waktu setempat melancarkan serangan terhadap sebuah masjid di desa ...
Sebuah insiden pembakaran kembali menimpa tempat ibadah di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok pemukim Israel pada Kamis malam waktu setempat melancarkan serangan terhadap sebuah masjid di desa Huwara, selatan Nablus, mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan dan memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak. Api yang berkobar dari lantai utama masjid berhasil dipadamkan oleh warga setempat sebelum merambat ke area pemukiman. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Peristiwa ini menjadi serangan kedua terhadap masjid di lokasi yang sama dalam kurun enam bulan terakhir. Pada Februari lalu, puluhan pemukim juga membakar sebuah masjid dan menghancurkan puluhan kendaraan milik warga Palestina di desa yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Ramallah itu. Pola serangan yang berulang ini semakin mempertegas kerentanan warga Palestina yang hidup di bawah bayang-bayang pendudukan dan kekerasan yang jarang mendapat penindakan hukum berarti.
Kronologi dan Detail Serangan
Menurut keterangan saksi mata, sekitar pukul 22.00 malam, lebih dari tiga puluh pemukim yang diduga berasal dari permukiman ilegal Yitzhar bergerak menuju desa Huwara. Mereka mengenakan pakaian gelap dan sebagian menutup wajah. Dengan cepat mereka menyebar ke beberapa titik, melemparkan bom molotov dan batu ke arah rumah-rumah warga serta langsung menyasar bangunan masjid. Lima botol berisi bahan bakar dilemparkan ke dalam masjid melalui jendela yang sebelumnya dipecahkan, menyulut api yang dengan cepat membesar. Sejumlah pemukim juga mencoretkan grafiti berbau kebencian di dinding luar masjid, termasuk kalimat "Balas Dendam" dan bintang Daud.
Warga desa yang panik segera berhamburan keluar rumah sambil membawa alat pemadam seadanya. Mereka bahu-membahu membentuk rantai air dari sumur terdekat untuk memadamkan api yang telah melalap mihrab dan puluhan sajadah. Proses pemadaman berlangsung lebih dari satu jam. Sementara itu, militer Israel yang disebutkan tiba di lokasi sekitar tiga puluh menit setelah serangan dimulai, justru lebih banyak membubarkan warga yang berkerumun ketimbang mengejar para pelaku. Belum ada pernyataan resmi dari pihak militer terkait kronologi respons mereka.
Kecaman dari Berbagai Pihak
Otoritas Palestina melalui juru bicaranya mengecam keras tindakan teror yang dilakukan oleh pemukim ekstremis. Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pernyataan tertulisnya menyebut insiden ini sebagai "eskalasi berbahaya yang menodai kesucian tempat ibadah" dan mendesak komunitas internasional untuk turun tangan memberikan perlindungan bagi warga Palestina. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan singkat yang menyebut serangan itu sebagai tindakan kriminal, namun tidak merinci langkah konkret yang akan diambil untuk menangkap para pelaku.
Organisasi hak asasi manusia internasional juga menyuarakan keprihatinan. Amnesty International merilis laporan singkat yang menyoroti bahwa serangan pemukim telah menjadi bagian dari sistematika pengusiran warga Palestina dari tanah mereka. UN OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) mencatat bahwa sepanjang tahun ini saja, lebih dari 400 insiden kekerasan yang melibatkan pemukim telah terjadi di Tepi Barat, dengan hanya sebagian kecil yang berujung pada proses hukum. "Ini bukan lagi insiden terisolasi, melainkan krisis perlindungan yang memburuk," ujar seorang pejabat UN OCHA yang enggan disebutkan namanya.
Eskalasi Kekerasan di Tepi Barat
Data dari lembaga pemantau lokal Yesh Din menunjukkan bahwa sejak awal tahun 2026, jumlah serangan pemukim terhadap warga dan properti Palestina mengalami peningkatan 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Serangan kerap terjadi di area yang berdekatan dengan permukiman ilegal, di mana kehadiran militer Israel justru sering melindungi para penyerang. Beberapa kasus bahkan terekam kamera dan viral di media sosial, memperlihatkan tentara Israel hanya berdiam diri saat pemukim melakukan aksi brutal.
Desa Huwara sendiri, yang terletak di jalur utama antara Nablus dan Ramallah, telah menjadi titik panas konflik dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakatnya yang mayoritas petani harus menerima kenyataan pahit bahwa tanah mereka terus tergerus oleh perluasan permukiman. Menurut sejumlah analis, kebijakan pemerintah Israel saat ini yang didominasi koalisi sayap kanan semakin memberi lampu hijau bagi para pemukim untuk bertindak tanpa takut dihukum. Situasi ini diperparah dengan menurunnya pengawasan internasional akibat konflik geopolitik lain yang menyedot perhatian global.
Ke depannya, berbagai elemen masyarakat sipil Palestina dan Israel menyerukan agar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) segera melanjutkan penyelidikannya terkait kejahatan perang di wilayah pendudukan. Namun tanpa tekanan diplomatik yang kuat dan sanksi nyata, banyak yang meragukan bahwa spiral kekerasan ini akan segera berakhir. Malam itu, asap dari masjid yang terbakar telah padam, namun bara amarah dan ketidakadilan di Tepi Barat tetap menyala.
Comments (0)