Pemkot Depok Imbau Orang Tua Antar Anak di Hari Pertama Sekolah
Pemerintah Kota Depok resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mengimbau seluruh orang tua atau wali murid untuk mengantarkan langsung anak mereka pada hari pertama masuk sekolah. Kebijakan ini menyas...
Pemerintah Kota Depok resmi menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mengimbau seluruh orang tua atau wali murid untuk mengantarkan langsung anak mereka pada hari pertama masuk sekolah. Kebijakan ini menyasar jenjang PAUD, SD, hingga SMP, dan dikeluarkan menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2025/2026 pada pertengahan Juli mendatang. Langkah tersebut diambil bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai fondasi bagi penguatan peran keluarga dalam ekosistem pendidikan sejak dini.
Isi dan Poin Penting Surat Edaran
Surat Edaran Nomor 421/334-Disdik/2025 yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Dr. Reni Wulandari, M.Pd., pada 30 Juni 2025, memuat tiga poin utama. Pertama, setiap orang tua diminta meluangkan waktu pada hari pertama untuk mengantar putra-putrinya ke sekolah, sekaligus mengenal lingkungan dan guru kelas. Kedua, sekolah diinstruksikan untuk menyelenggarakan kegiatan ramah anak dan orang tua, seperti orientasi singkat dan sesi perkenalan. Ketiga, seluruh jajaran sekolah diharapkan tidak memberikan sanksi apapun bagi siswa yang terlambat pada hari pertama, demi menjaga suasana nyaman. Edaran tersebut juga menekankan bahwa kehadiran orang tua pada momen awal ini dapat meredakan kecemasan anak, terutama bagi mereka yang baru memulai jenjang pendidikan formal.
Alasan di Balik Kebijakan
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok mengungkapkan bahwa kebijakan ini berangkat dari hasil evaluasi tahun sebelumnya, di mana banyak siswa—terutama kelas 1 SD—mengalami school refusal atau penolakan masuk sekolah karena merasa asing. “Ibarat seseorang yang memasuki lingkungan baru, anak butuh jangkar emosional. Kehadiran orang tua adalah jangkar itu,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (1/7). Selain faktor psikologis, risiko keselamatan di perjalanan juga menjadi pertimbangan. Data Satlantas Polres Metro Depok mencatat, selama tahun ajaran 2024/2025 terdapat 17 kecelakaan melibatkan pelajar di minggu pertama sekolah, sebagian besar terjadi karena anak berangkat sendiri tanpa pengawasan. Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap angka tersebut dapat ditekan.
Membangun Budaya, Bukan Sekadar Formalitas
Pemerintah Kota Depok tidak ingin gerakan mengantar anak hanya menjadi rutinitas sesaat di awal tahun ajaran. Dinas Pendidikan mendorong agar momentum ini berkembang menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari—misalnya, mengantar atau menjemput anak secara bergantian, menyempatkan dialog singkat sebelum masuk kelas, atau sekadar memastikan sarapan pagi bersama. “Kami ingin menanamkan bahwa pendidikan bukan hanya urusan guru dan murid, tetapi sebuah kemitraan antara sekolah dan rumah,” tambah Reni. Untuk mendukung hal itu, pihaknya akan membagikan modul parenting ringkas kepada setiap wali kelas agar bisa didiskusikan dengan orang tua saat hari pertama.
Respons Masyarakat dan Kesiapan Sekolah
Sejumlah sekolah di Depok telah menyambut positif edaran ini. SDN Pengasinan 3, misalnya, menyiapkan area khusus bagi orang tua untuk menunggu selama satu jam pertama pelajaran. “Kami ingin orang tua merasa dilibatkan, bukan sekadar mengantar lalu pergi,” ujar Kepala Sekolah SDN Pengasinan 3, Suharti. Di sisi lain, para orang tua yang bekerja dengan jam ketat menyuarakan tantangan. Menanggapi hal itu, Dinas Ketenagakerjaan Kota Depok akan berkoordinasi dengan perusahaan melalui surat imbauan agar memberikan kelonggaran waktu pada hari pertama sekolah, serupa dengan kebijakan “hari pertama sekolah” yang sudah diterapkan di beberapa daerah. Sementara itu, sekolah-sekolah swasta mulai menawarkan sesi daring bagi orang tua yang benar-benar tidak bisa hadir, meskipun pemerintah tetap menganjurkan kehadiran fisik sebagai prioritas.
Harapan Jangka Panjang
Pemerintah Kota Depok menargetkan pada tahun ajaran 2026/2027, tingkat kehadiran orang tua saat hari pertama sekolah bisa mencapai 95 persen. Indikator keberhasilan tidak hanya diukur dari kehadiran, melainkan juga dari menurunnya angka keterlambatan dan bolos di minggu-minggu awal. Dengan menjadikan pengantaran hari pertama sebagai pintu masuk, diharapkan tumbuh budaya pengasuhan yang lebih peka dan terlibat—di mana orang tua tak hanya menjadi pengantar, tetapi mitra utama dalam perjalanan pendidikan anak. “Ini bukan tentang satu hari, melainkan tentang membuka komunikasi dua arah antara sekolah dan keluarga yang bisa berlanjut sepanjang tahun, bahkan sepanjang hayat,” tutup Reni.
Baca juga:
Comments (0)