Pakar BRIN Ungkap Api Bawah Permukaan Sebabkan Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin telah berlangsung lebih dari dua pekan, mengeluarkan asap tebal yang mengganggu warga di

Pakar BRIN Ungkap Api Bawah Permukaan Sebabkan Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam

Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin telah berlangsung lebih dari dua pekan, mengeluarkan asap tebal yang mengganggu warga di sekitar Tangerang. Namun, upaya pemadaman oleh petugas pemadam kebakaran masih belum membuahkan hasil. Seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa penyebab utama sulitnya pemadaman adalah fenomena api bawah permukaan, atau yang dikenal sebagai subsurface fire.

Fenomena Api Bawah Permukaan: Bukan Sekadar Api Biasa

Berbeda dengan kebakaran di permukaan yang langsung terlihat dan dapat disiram air, api bawah permukaan terjadi di lapisan tanah dan tumpukan sampah yang dalam. Menurut Dr. Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, kebakaran jenis ini sangat persisten dan hanya dapat dipadamkan dengan teknik khusus.

“Api di TPA Jatiwaringin bukan hanya membakar sampah di atas, tapi juga merambat ke dalam lapisan yang lebih dalam, mencapai kedalaman hingga 15 meter. Di sana, material organik yang terdekomposisi menghasilkan gas metana yang menjadi bahan bakar utama. Air tidak efektif karena tidak mampu menjangkau pusat api yang berada di bawah,” jelas Dr. Wahyu saat dihubungi (10/7/2026).

Ia menambahkan, kebakaran bawah permukaan sering kali terjadi di TPA yang tidak memiliki sistem pengelolaan gas metana yang memadai. Smoldering fire ini bisa bertahan berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, menimbulkan dampak serius pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat sekitar.

Mengapa Air dan Busa Biasa Tidak Mempan?

Tim pemadam sudah mencoba berbagai metode, mulai dari penyiraman air bertekanan tinggi hingga penggunaan busa pemadam. Namun, air yang disiramkan hanya membasahi permukaan dan malah memperburuk situasi karena dapat memperluas area api melalui rembesan yang membawa oksigen. Sementara itu, busa ringan tidak mampu menutup pori-pori di dalam tanah yang dalam.

Menurut data, kebakaran ini telah menghanguskan lebih dari 2,5 hektare area TPA, dengan suhu di pusat api mencapai 600 derajat Celcius. Angka ini jauh melampaui kemampuan alat pemadam konvensional.

Solusi yang Disarankan Pakar BRIN

Dr. Wahyu menyarankan dua pendekatan utama. Pertama, teknik excavation atau pengerukan: tim harus menggali material yang terbakar, memisahkan sampah yang masih membara, lalu memadamkannya di tempat terbuka dengan air dan pasir. Kedua, injeksi langsung bahan pemadam ke lapisan bawah tanah menggunakan pipa khusus atau metode high-expansion foam injection.

Beberapa tantangan yang harus dihadapi antara lain:

  • Risiko runtuhnya permukaan TPA saat penggalian, membahayakan petugas.
  • Biaya operasional tinggi karena memerlukan alat berat dan tenaga ahli.
  • Potensi pencemaran air tanah akibat bahan kimia yang digunakan.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan yang Mengkhawatirkan

Asap dari pembakaran sampah plastik dan limbah organik mengandung dioksin, furan, dan partikel halus (PM2.5) yang sangat berbahaya. Warga di radius 3 kilometer sudah melaporkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan bau menyengat yang tidak tertahankan. Dinas Kesehatan setempat mencatat peningkatan kasus ISPA hingga 35% dalam dua minggu terakhir.

Ini bukan hanya soal api, tapi juga krisis kesehatan lingkungan. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya modernisasi pengelolaan TPA di Indonesia, termasuk pemasangan sistem ventilasi gas dan pemantauan suhu secara real-time.

BRIN saat ini tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menerapkan teknologi pemadaman yang direkomendasikan, sembari terus memonitor kualitas udara harian. Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker N95 dan mengurangi aktivitas luar ruangan hingga api benar-benar padam.

[TAGS]: kebakaran TPA Jatiwaringin, BRIN, api bawah permukaan, TPA Jatiwaringin, polusi udara [SOCIAL_TWEET]: Kebakaran TPA Jatiwaringin ternyata disebabkan oleh api bawah permukaan yang sulit dipadamkan air biasa. Pakar BRIN ungkap teknik khusus yang harus diterapkan. #KebakaranTPA #BRIN #PolusiUdara [SOCIAL_FB]: Tahukah Anda mengapa kebakaran di TPA Jatiwaringin belum padam meski sudah dua pekan? Ternyata, api berkobar di bawah permukaan tanah hingga kedalaman 15 meter! Temukan penjelasan pakar BRIN dan solusi yang diusulkan. Klik selengkapnya! [SOCIAL_TG]: 🔥 Api Bawah Permukaan Jadi Biang Kerok Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam. Pakar BRIN: Air justru bisa memperburuk. Simak penjelasan dan solusinya di sini. [SOCIAL_THREADS]: Asap hitam tebal masih mengepul dari TPA Jatiwaringin, bukan karena petugas kurang kerja keras, tapi karena api bersembunyi di bawah tanah! Pakar BRIN jelasin kenapa air nggak mempan. 😔🌫️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User