Netanyahu Hadapi Lawan Tak Terduga dari Mantan Sekutu di Pemilu Israel
Gelanggang politik Israel kembali memanas seiring mendekatnya pemilu yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Sorotan publik kini tertuju pada duel yang tak terprediksi: Perdana Menteri terlama dalam ...
Gelanggang politik Israel kembali memanas seiring mendekatnya pemilu yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Sorotan publik kini tertuju pada duel yang tak terprediksi: Perdana Menteri terlama dalam sejarah negara itu, Benjamin Netanyahu, harus berhadapan dengan sosok yang sebelumnya berdiri di dalam kabinet daruratnya sendiri. Mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Gadi Eisenkot, dikonfirmasi akan melangkah sebagai penantang utama. Bukan sekadar rivalitas biasa, pergeseran lanskap ini mencerminkan retaknya kepercayaan di tubuh elite politik dan militer Zionis setelah berbulan-bulan terperosok dalam perang berkepanjangan.
Beban Politik di Pundak Sang Pelawan
Gadi Eisenkot, purnawirawan jenderal yang memimpin IDF pada periode 2015 hingga 2019, selama ini dikenal sebagai arsitek doktrin keamanan modern Israel. Namanya melekat erat dengan strategi konfrontasi terbatas terhadap Iran di Suriah serta kebijakan kekuatan pemukul presisi yang banyak dipuji kalangan hawkish. Ia bergabung dengan daftar partai National Unity pimpinan Benny Gantz pada 2022, dan ketika Netanyahu membentuk kabinet darurat pascaserangan 7 Oktober, Eisenkot masuk sebagai menteri tanpa portofolio sekaligus pengamat dalam forum pengambilan keputusan perang. Keterlibatannya di pusat komando justru menjadi bibit perpecahan: Eisenkot berulang kali mendesak prioritas penyelamatan sandera dibanding operasi militer yang berlarut-larut, sebuah posisi yang bertolak belakang dengan kalkulasi politik Netanyahu yang mengandalkan dukungan sayap kanan ekstrem. Kini, Eisenkot digadang-gadang akan membawa narasi “keamanan yang bertanggung jawab” untuk merebut ceruk pemilih tengah yang skeptis terhadap petualangan militer tanpa batas.
Koalisi Rengkah dan Mimpi Buruk Netanyahu
Bagi Benjamin Netanyahu, kemunculan Eisenkot sebagai lawan politik menambah tekanan di saat fondasinya kian rapuh. Popularitas sang Perdana Menteri terpapar erosi ganda: keluarga korban serangan Hamas mencapnya gagal memberi perlindungan, sementara mitra ultranasionalis seperti Itamar Ben-Gvir mengancam hengkang bila operasi di Rafah tak dilanjutkan habis-habisan. Di ranah hukum, bayang-bayang sidang korupsi yang terus berjalan menjadi lubang elektoral yang sulit ditutup. Kehadiran mantan panglima militer yang bukan berasal dari kubu oposisi tradisional melainkan dari lingkaran dalam koalisi darurat mempersulit strateginya untuk mendiskreditkan penantang sebagai penghianat atau pihak yang tak mengerti seluk-beluk pertahanan. Eisenkot membawa kredensial yang sulit dibantah: rekam jejak tempur, pemahaman intelijen, dan—yang terpenting—citra sebagai tentara-profesional yang tidak tercemar intrik politik busuk.
Dampak pada Arsitektur Keamanan dan Gencatan Senjata
Pemilu Oktober diprediksi menjadi referendum langsung terhadap masa depan operasi militer di Gaza dan Lebanon selatan. Kalangan analis di Tel Aviv menilai bahwa platform Eisenkot akan berfokus pada diplomasi pengembalian sandera dan de-eskalasi bertahap, selaras dengan tekanan Amerika Serikat yang menghendaki solusi dua negara dalam jangka panjang. Sebaliknya, Netanyahu bakal terus mendorong retorika “kemenangan mutlak” untuk mempertahankan basis sayap kanan. Di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata yang difasilitasi Qatar dan Mesir, pemilu menciptakan dilema waktu: kedua kandidat akan berebut mengklaim bahwa merekalah yang paling bisa menjamin keamanan tanpa mengorbankan teritorial. Secara elektoral, peta kekuatan berpotensi terfragmentasi antara kubu Netanyahu-Likud yang bertumpu pada koloni di Tepi Barat, dan aliansi Gantz-Eisenkot yang merangkul nasionalis-sentris serta kelompok sekuler yang lelah berperang.
Medan Pertarungan dan Konsekuensinya bagi Kawasan
Dengan sistem proporsional Israel yang kerap menghasilkan koalisi pelangi, Eisenkot tak mungkin bisa menumbangkan Likud seorang diri. Strateginya akan mengandalkan konsolidasi blok anti-Netanyahu yang melibatkan partai buruh, Arab-Israel, dan elemen liberal. Angka-angka survei awal menunjukkan bahwa sayap kanan masih menguasai sekitar 55-60 kursi dari total 120, namun pergeseran sekecil apa pun pada segmen pemilih nasionalis-pragmatis dapat mengubah komposisi parlemen. Yang membedakan kontestasi kali ini adalah bahwa Eisenkot bukan sekadar politisi berlatar sipil yang gampang dicap “lemah”, melainkan komandan perang yang turut merancang serangan terhadap terowongan Hamas. Seluruh kawasan pun ikut mencermati: ancaman dari Teheran dan proksi-proksinya akan menjadi kartu kampanye yang diperebutkan. Apakah publik Israel lebih percaya pada ketegasan ideologis Netanyahu atau presisi strategis Eisenkot? Jawabannya tak hanya menentukan arah Tel Aviv, melainkan juga peta panas Timur Tengah pasca-perang yang belum juga usai.
Comments (0)