Mojtaba Khamenei Beri Pujian untuk Hizbullah, Serukan Serangan Terus ke Israel
Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, secara terbuka memuji kelompok milisi Hizbullah dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin, sekaligus menginstruksikan ag...
Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, secara terbuka memuji kelompok milisi Hizbullah dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin, sekaligus menginstruksikan agar perlawanan bersenjata terhadap Israel tetap digencarkan. Pujian ini disampaikan setelah Khamenei menerima surat sumpah setia yang diserahkan langsung oleh delegasi senior Hizbullah di kompleks kediamannya di Teheran.
Langkah simbolik ini menandai babak baru dalam hubungan Teheran-Beirut di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Para analis melihat momen ini sebagai penegasan komitmen Iran terhadap poros perlawanan yang selama ini menjadi tulang punggung strategi regionalnya. Sejak naik mengambil alih tampuk kepemimpinan pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei secara bertahap meningkatkan retorika konfrontatif terhadap negara Yahudi itu, namun pertemuan dan surat kali ini dianggap sebagai manifestasi paling konkret dari arah kebijakan luar negeri Iran di bawah kepemimpinannya.
Pengamat politik Iran, Dr. Reza Marashi, menilai bahwa penerimaan surat sumpah setia ini merupakan langkah kalkulatif untuk mengonsolidasikan kekuasaan Mojtaba yang masih relatif baru. "Mojtaba Khamenei perlu menunjukkan bahwa dia memiliki kendali penuh atas jaringan proksi di luar negeri, dan Hizbullah adalah aset paling berharga bagi Teheran. Dengan menerima baiat ini secara terbuka, dia sekaligus mengirim sinyal kepada musuh dan sekutu bahwa kebijakan regional Iran tidak akan melunak," ujar Marashi dalam wawancara telepon.
Surat Sumpah Setia dan Simbolisme Politik
Surat yang disampaikan oleh pejabat tinggi Hizbullah tersebut, yang identitasnya tidak diungkapkan ke publik, berisi ikrar bahwa kelompok yang berbasis di Lebanon itu akan tetap teguh melanjutkan perjuangan melawan pendudukan dan agresi Israel. Isi surat itu juga disebut-sebut menekankan kesiapan Hizbullah untuk mematuhi instruksi dari Wali Faqih atau Pemimpin Tertinggi Iran, yang dalam tradisi Syiah dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Mojtaba Khamenei, yang juga menyandang gelar Ayatollah, menerima surat tersebut dengan penuh takzim dalam sebuah upacara tertutup yang dihadiri sejumlah pejabat tinggi militer dan politik Iran.
Sejumlah sumber yang dekat dengan pemerintahan Iran mengatakan bahwa surat itu berfungsi sebagai pembaruan baiat Hizbullah kepada kepemimpinan baru di Teheran. Pasalnya, sumpah setia semacam ini merupakan ritual yang penting dalam hierarki politik Syiah, memperkuat legitimasi spiritual sekaligus politik antara pemimpin pusat dengan gerakan-gerakan yang tersebar. Dalam konteks regional, langkah ini memperlihatkan bahwa Hizbullah tetap menempatkan diri di bawah payung besar Iran, meskipun terdapat dinamika internal Lebanon dan tekanan internasional yang terus meningkat.
Seruan untuk Meneruskan Perlawanan
Dalam tanggapannya, Mojtaba Khamenei tidak hanya memuji Hizbullah atas ketangguhannya menghadapi serangan Israel dalam beberapa bulan terakhir—termasuk dalam perang terbatas yang meletus di perbatasan Lebanon-Israel—tetapi juga menyerukan agar perlawanan tidak berhenti. "Kemenangan hanya bisa diraih dengan melanjutkan jalan jihad, tanpa henti menggempur musuh yang terus mengancam eksistensi kita," demikian kutipan pernyataan Khamenei yang dirilis kantor berita resmi Iran, IRNA. Meskipun tidak merinci bentuk serangan yang dimaksud, analis menafsirkan bahwa seruan ini mencakup peningkatan operasi militer Hizbullah di front utara Israel.
Khamenei juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan di antara faksi-faksi perlawanan di kawasan. Ia menyebut poros perlawanan—yang mencakup Hizbullah, Hamas, kelompok Syiah Irak, dan Houthi di Yaman—sebagai "barisan yang tak terpisahkan" dalam menghadapi ekspansi Zionis. Pernyataan tersebut sejalan dengan doktrin lama Iran yang memandang Israel sebagai ancaman eksistensial sekaligus proyek kolonial yang harus dilenyapkan. Namun, bagi beberapa pengamat, tekanan dari dalam negeri Iran, termasuk sanksi ekonomi dan ketidakpuasan publik, mungkin mendorong Teheran untuk lebih agresif memanfaatkan proksi-proksi luar negerinya demi mengalihkan perhatian.
Implikasi Regional dan Respons Internasional
Seruan terbuka untuk meneruskan serangan ke Israel ini langsung menuai kecaman dari sejumlah negara Barat. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem mengeluarkan pernyataan yang mengutuk pidato Khamenei sebagai "eskalasi berbahaya" dan kembali menegaskan dukungan penuh Washington terhadap keamanan Israel. Sementara itu, Perancis yang memiliki pengaruh historis di Lebanon menyatakan keprihatinan mendalam dan meminta semua pihak menahan diri agar tidak memicu konflik lebih luas.
Sementara itu, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap ancaman yang semakin nyata. "Kami telah mempersiapkan segala skenario dan akan membalas setiap agresi dengan kekuatan penuh," tegasnya dalam briefing pers pekan ini. Militer Israel disebut telah melakukan serangkaian simulasi perang di front utara untuk mengantisipasi kemungkinan serangan skala besar dari Lebanon. Dari sisi keamanan, Israel telah meningkatkan kewaspadaan di sepanjang perbatasan utara, menempatkan sistem pertahanan Iron Dome dalam siaga penuh serta memperkuat pasukan di Dataran Tinggi Golan. Analis pertahanan menilai bahwa seruan Khamenei ini bisa mempercepat perencanaan operasi militer oleh Hizbullah, yang dalam beberapa tahun terakhir dikabarkan telah memperoleh rudal-rudal presisi dari Iran. Ketegangan ini diperparah oleh kebuntuan diplomasi seputar program nuklir Iran, di mana negosiasi dengan kekuatan dunia masih mandek.
Bagi kawasan Timur Tengah, momentum ini menambah panas situasi yang sudah memanas akibat konflik di Gaza dan Laut Merah. Mesir dan Yordania, yang memiliki perjanjian damai dengan Israel, cenderung memilih diam seraya terus memantau perkembangan. Rusia dan Tiongkok diperkirakan akan menggunakan momen ini untuk memperdalam pengaruh strategis mereka di tengah kekosongan kepemimpinan global. Kedua negara itu telah menjadi mitra penting Iran baik di bidang ekonomi maupun militer, dan kemungkinan besar akan memanfaatkan eskalasi ini sebagai pengungkit dalam perundingan dengan Barat.
Dengan diterimanya surat sumpah setia dan pujian yang mengikutinya, Mojtaba Khamenei mengirimkan pesan tegas: bahwa di bawah kepemimpinannya, poros perlawanan akan tetap menjadi prioritas utama Republik Islam Iran. Kini, bola panas berada di tangan Israel dan para sekutunya untuk merespons sinyal konfrontatif ini, sementara warga di kawasan kembali harus bersiap dengan bayang-bayang perang yang tak kunjung padam.
Comments (0)