Menlu Sugiono Ajak ASEAN dan China Perkuat Stabilitas Ekonomi Kawasan

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyerukan penguatan kerja sama ekonomi antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan China sebagai benteng ketahanan di tengah ketidakpastian glob...

Menlu Sugiono Ajak ASEAN dan China Perkuat Stabilitas Ekonomi Kawasan

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyerukan penguatan kerja sama ekonomi antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan China sebagai benteng ketahanan di tengah ketidakpastian global. Dalam sebuah forum diplomasi regional, Sugiono menekankan bahwa kemitraan strategis kedua pihak harus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas kawasan yang semakin rentan terhadap guncangan eksternal.

Kemitraan Ekonomi sebagai Pilar Stabilitas

Hubungan ekonomi ASEAN dan China telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Data menunjukkan bahwa total perdagangan bilateral mencapai lebih dari US$ 975 miliar pada tahun 2023, menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar bagi negara-negara ASEAN selama 14 tahun berturut-turut. Sugiono menyebut angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan fondasi nyata bagi terciptanya interdependensi yang dapat meredam potensi friksi. “Dengan saling ketergantungan yang kuat, kita membangun pagar pembatas alami terhadap ketegangan yang bisa mengganggu stabilitas,” ujarnya. Momentum ini, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperdalam integrasi melalui implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)—perjanjian dagang terbesar di dunia yang mencakup 30 persen PDB global.

Menjawab Tantangan Geopolitik dan Gejolak Global

Pernyataan Sugiono hadir di tengah lanskap global yang diwarnai rivalitas kekuatan besar, perang dagang, dan disrupsi rantai pasok akibat konflik geopolitik. Krisis energi dan pangan yang dipicu perang di Ukraina serta fragmentasi ekonomi memaksa banyak negara mencari pegangan baru. Bagi kawasan Asia Tenggara yang sangat terbuka terhadap perdagangan dan investasi, pergeseran ini berpotensi memicu instabilitas jika tidak diantisipasi. Sugiono mendorong ASEAN dan China untuk membangun mekanisme respons cepat bersama, semacam “early warning system” ekonomi, yang dapat mendeteksi dan memitigasi dampak guncangan eksternal terhadap negara-negara anggota. Langkah ini dinilai krusial agar kawasan tidak menjadi korban dari perang tarif atau manipulasi mata uang yang dilakukan oleh kekuatan ekonomi lain.

Infrastruktur, Digitalisasi, dan Transisi Hijau

Lebih lanjut, Sugiono menyoroti tiga sektor prioritas yang akan menjadi tulang punggung kerja sama masa depan: konektivitas infrastruktur, ekonomi digital, dan transisi energi hijau. Proyek-proyek di bawah Belt and Road Initiative (BRI), seperti pembangunan pelabuhan, rel kereta cepat, dan kawasan industri, dinilai telah membuka aksesibilitas antarnegara. Namun, ia menegaskan perlunya standar yang lebih transparan dan berkelanjutan agar investasi tidak membebani negara penerima. Di ranah digital, kemitraan ASEAN-China diarahkan pada pengembangan ekosistem artificial intelligence (AI), teknologi 5G, dan fintech yang inklusif. Sugiono mengusulkan pembentukan dana investasi bersama untuk riset dan pengembangan (R&D) teknologi bersih, sejalan dengan target net-zero emission di kawasan. “Transisi energi adalah keniscayaan. Kolaborasi dengan China, yang merupakan pemimpin global dalam produksi panel surya dan baterai, akan mempercepat pencapaian kemandirian energi ASEAN,” katanya.

Stabilitas Politik Lewat Diplomasi Ekonomi

Tak bisa dimungkiri, hubungan ASEAN-China kerap diuji oleh sengketa Laut China Selatan. Sugiono berpendapat bahwa intensifikasi kerja sama ekonomi justru dapat menjadi jangkar diplomasi yang lebih sehat. Dengan meningkatnya volume perdagangan dan investasi lintas batas, dorongan untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran dan menghormati hukum internasional akan menguat secara alami. Ia merujuk pada penandatanganan Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan yang sedang dinegosiasikan—kerangka aturan main yang diharapkan dapat menciptakan prediktabilitas di perairan vital tersebut. “Ekonomi dan keamanan adalah dua sisi mata uang yang sama. Ketika kita berhasil membangun kemakmuran bersama, insentif untuk konflik akan menurun drastis,” tegas Sugiono.

Peran Strategis Indonesia

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN dan anggota G20, Indonesia memegang peran penting dalam menjembatani kepentingan China dan negara-negara Asia Tenggara. Sugiono menegaskan bahwa Jakarta siap menjadi fasilitator dialog dan inisiatif konkret yang menguntungkan semua pihak. Dengan usia ASEAN yang telah melampaui setengah abad, kematangan diplomasi kawasan diyakini mampu menavigasi dinamika kekuatan global yang kian kompleks. Melalui kemitraan ekonomi yang diperkuat, ASEAN dan China tidak hanya akan memperkokoh ketahanan regional, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap arsitektur stabilitas dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User