Mengejar Target 100 GW, BRIN Perkuat Ekosistem Riset Sel Surya

Matahari adalah pembangkit listrik raksasa yang sudah tersedia gratis sejak miliaran tahun lalu. Masalahnya, manusia baru mampu memanen energinya secara efisien dalam beberapa dekade terakhir. Di sini...

Mengejar Target 100 GW, BRIN Perkuat Ekosistem Riset Sel Surya

Matahari adalah pembangkit listrik raksasa yang sudah tersedia gratis sejak miliaran tahun lalu. Masalahnya, manusia baru mampu memanen energinya secara efisien dalam beberapa dekade terakhir. Di sinilah posisi strategis langkah terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memperkuat ekosistem riset sel surya di dalam negeri. Kebijakan ini menjadi salah satu kunci untuk mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menuju kapasitas 100 gigawatt (GW)—sebuah angka yang jika tercapai akan mengubah lanskap kelistrikan nasional secara fundamental.

Bagi pembaca awam, sel surya mungkin identik dengan panel kaca berwarna biru di atap rumah. Padahal, sel surya adalah komponen terkecil yang bertugas mengubah cahaya matahari menjadi listrik melalui efek fotovoltaik, sementara panel adalah rangkaian dari puluhan sel tersebut. Ibarat seperti tubuh manusia, sel adalah bagian yang bekerja di dalam, sedangkan panel adalah kulit yang terlihat dari luar. Memahami perbedaan ini penting, karena kemajuan efisiensi energi justru lahir dari riset di level sel, bukan sekadar merangkai panel yang sudah jadi.

Mengapa Target 100 GW Begitu Menentukan

Angka 100 GW bukan sekadar jargon birokrasi. Sebagai gambaran, kapasitas listrik terpasang nasional saat ini masih berada di kisaran puluhan gigawatt, dan mayoritasnya bersumber dari energi fosil seperti batu bara. Jika target 100 GW PLTS benar-benar diwujudkan, kapasitas itu akan menyumbang porsi signifikan dalam bauran energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif.

Upaya ini juga selaras dengan komitmen Indonesia mencapai net zero emission—kondisi di mana emisi karbon yang dilepas seimbang dengan yang diserap kembali—pada tahun 2060. Tanpa penguasaan teknologi sel surya secara mandiri, target tersebut hanya akan menjadi rencana di atas kertas. Sebab, membeli panel jadi dari luar negeri tidak pernah lebih murah dibandingkan memproduksi sendiri, apalagi ketika nilai tukar rupiah sedang bergejolak.

Sel Surya Generasi Baru: Dari Silikon ke Perovskit

Salah satu fokus penelitian yang paling menjanjikan adalah material perovskit, senyawa kristal yang mampu menyerap cahaya lebih efisien dibandingkan silikon konvensional dengan biaya produksi lebih murah. Di laboratorium, efisiensi sel perovskite melonjak dari di bawah 4 persen pada 2009 menjadi lebih dari 25 persen dalam satu dekade lebih—lompatan yang dalam dunia sains tergolong sangat cepat. Bahkan, pendekatan berbasis machine learning, cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer belajar dari data, kini dipakai untuk mensimulasikan jutaan kombinasi material baru sebelum diuji di laboratorium, memangkas waktu penelitian dari bertahun-tahun menjadi hitungan bulan.

Namun, efisiensi tinggi di laboratorium tidak otomatis berarti siap dipasarkan. Tantangan terbesar perovskite adalah daya tahannya: material ini rentan rusak oleh kelembapan dan panas, dua hal yang justru melimpah di iklim tropis Indonesia. Di sinilah peran riset dalam negeri menjadi krusial, karena modifikasi material harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, bukan sekadar meniru hasil penelitian dari negara beriklim dingin.

Ekosistem Riset: Menjembatani Laboratorium dan Industri

Penguatan ekosistem yang dilakukan BRIN tidak berarti membangun satu laboratorium raksasa, melainkan menghubungkan mata rantai yang selama ini sering terputus: peneliti, perguruan tinggi, industri, dan lembaga standardisasi. Ibarat seperti ekosistem hutan hujan, riset yang sehat membutuhkan keanekaragaman, bukan satu pohon besar yang berdiri sendiri. Startup pengembang modul surya perlu akses alat uji, produsen butuh kepastian mutu, dan pemerintah membutuhkan data untuk menyusun kebijakan.

“Kemandirian energi tidak akan tercapai hanya dengan membeli teknologi jadi. Penguasaan riset dasar adalah fondasi yang tidak bisa dilewati.”

Dalam praktiknya, hilirisasi—proses mengubah temuan laboratorium menjadi produk komersial—adalah ujian paling berat. Banyak negara gagal di titik ini karena riset dan industri berjalan pada rel yang berbeda. Karena itu, penguatan ekosistem juga mencakup pembiayaan, uji kelayakan, hingga sertifikasi produk, agar sel surya buatan dalam negeri bersaing dari segi mutu, bukan sekadar harga. Inilah disrupsi yang ditunggu-tunggu: menggeser posisi Indonesia dari sekadar pasar bagi produk impor menjadi produsen teknologi.

Manfaat yang Bisa Dirasakan Masyarakat

Jika rantai penelitian ini berhasil, dampaknya akan terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Harga panel surya berpotensi turun seiring meningkatnya produksi lokal, sehingga lebih banyak rumah tangga mampu memasang PLTS atap. Listrik yang dihasilkan juga bisa menjadi solusi bagi daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan PLN, karena panel surya tidak membutuhkan kabel transmisi panjang dan dapat beroperasi secara mandiri.

Selain itu, industri sel surya dalam negeri berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari teknisi, peneliti, hingga pekerja pabrik. Dalam jangka panjang, penguasaan teknologi ini membuka peluang ekspor, mengingat permintaan global akan modul surya terus meningkat seiring gencarnya transisi energi di berbagai negara. Dengan kata lain, investasi riset hari ini adalah tabungan kemandirian listrik untuk generasi mendatang—langkah yang dampaknya baru terasa penuh satu hingga dua dekade ke depan, tetapi akan terlambat jika dimulai besok.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User