Mengapa Kalimantan Terus Terbakar? Peneliti Ungkap Akar Masalahnya

Bayangkan Anda harus mengantar anak ke sekolah dengan wajah bermasker, mata pedih karena asap, dan jadwal penerbangan dibatalkan tanpa kepastian. Skenario ini bukan fiksi ilmiah, melainkan realitas ya...

Mengapa Kalimantan Terus Terbakar? Peneliti Ungkap Akar Masalahnya

Bayangkan Anda harus mengantar anak ke sekolah dengan wajah bermasker, mata pedih karena asap, dan jadwal penerbangan dibatalkan tanpa kepastian. Skenario ini bukan fiksi ilmiah, melainkan realitas yang berulang hampir setiap tahun di Kalimantan saat musim kebakaran hutan dan lahan tiba. Bencana ini tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan dan kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan luka ekologis yang pemulihannya butuh waktu puluhan tahun. Lalu, mengapa wilayah ini begitu rentan terbakar berulang kali? Hasil penelitian para ahli menunjukkan jawabannya merupakan kombinasi rumit antara fenomena alam, karakteristik lahan yang unik, dan aktivitas manusia.

Kemarau Ekstrem Saat El Nino Datang

Faktor pertama bersifat global: El Nino, yaitu fenomena pemanasan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola curah hujan di berbagai belahan dunia. Ketika El Nino menguat, Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatra, mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari biasanya.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa periode kebakaran terbesar, seperti tahun 2015 dan 2019, bertepatan dengan tahun-tahun El Nino kuat. Pada 2015, luas lahan terbakar di Indonesia diperkirakan mencapai 2,6 juta hektare, dengan World Bank menaksir kerugian ekonomi nasional sekitar Rp 221 triliun. Ibarat seperti dapur yang sudah panas tinggal menunggu percikan api, kemarau ekstrem menjadikan vegetasi kering sebagai bahan bakar siap pakai.

Lahan Gambut: Bahan Bakar Alami di Bawah Permukaan

Faktor kedua membuat Kalimantan berbeda dari wilayah lain: lahan gambut. Gambut adalah jenis tanah organik yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan mati selama ribuan tahun di daerah basah. Ibarat seperti kapur barus raksasa yang tertanam di bawah tanah, gambut menyimpan karbon dalam jumlah masif, dan Indonesia dipercaya memiliki sekitar 36 persen dari total lahan gambut tropis dunia.

Masalahnya, ketika saluran air gambut dikeringkan untuk perkebunan atau permukiman, material organik ini menjadi sangat mudah terbakar. Lebih parah lagi, api kerap merambat di bawah permukaan hingga kedalaman beberapa meter sehingga sulit dipadamkan dengan cara konvensional. Para peneliti menyebut kebakaran gambut sebagai penyebab utama kabut asap tebal, karena pembakaran tidak sempurna menghasilkan partikel halus PM2.5 (partikulat berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer) yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Faktor Manusia: Api Murah untuk Membuka Lahan

Faktor ketiga, dan menurut banyak peneliti paling menentukan, adalah aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih dipilih sebagian pelaku usaha perkebunan maupun petani karena dianggap paling murah dan cepat. Membersihkan satu hektare lahan secara mekanis bisa menelan biaya berkali-kali lipat dibandingkan membakarnya.

Degradasi hutan akibat penebangan dan konversi lahan membuat ekosistem semakin rapuh. Hutan primer yang lembap dan rapat sebenarnya relatif tahan api, namun begitu tajuk terbuka dan mikroiklim menjadi kering, risiko kebakaran melonjak drastis. Lemahnya penegakan hukum turut membuat praktik bakar lahan terus berulang karena pelaku jarang mendapatkan sanksi yang berarti.

Teknologi Deteksi Dini: Mata-Mata dari Orbit

Kabar baiknya, pengembangan teknologi kini memberikan harapan baru. Platform pemantauan berbasis satelit seperti MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) mampu mendeteksi titik panas atau hotspot hampir secara real-time. Lebih jauh, penelitian di bidang AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) dan machine learning mulai dimanfaatkan untuk memprediksi wilayah rawan kebakaran berdasarkan pola cuaca, kelembapan gambut, dan riwayat titik api.

Implementasi sistem peringatan dini semacam ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi pemadaman karena tim darurat dapat dikerahkan sebelum api meluas. Inovasi serupa juga dikembangkan melalui sensor kelembapan gambut di lapangan serta dron untuk patroli area terpencil. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu; tanpa restorasi gambut, penegakan hukum yang konsisten, dan perubahan cara membuka lahan, siklus kebakaran akan terus berputar.

Pada akhirnya, kebakaran hutan Kalimantan bukan takdir alam semata, melainkan persoalan yang lahir dari pertemuan antara iklim, karakteristik lahan, dan pilihan manusia. Memahami akar masalahnya adalah langkah pertama agar asap tebal tidak lagi menjadi rutinitas tahunan bagi jutaan penduduk.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User