Kisah Irgun: Kelompok Yahudi yang Melumpuhkan Kekuasaan Inggris di Palestina

Di penghujung Perang Dunia I, Inggris Raya menerima mandat dari Liga Bangsa-Bangsa untuk mengelola wilayah Palestina. Tugas ini, yang awalnya dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan jalu...

Kisah Irgun: Kelompok Yahudi yang Melumpuhkan Kekuasaan Inggris di Palestina

Di penghujung Perang Dunia I, Inggris Raya menerima mandat dari Liga Bangsa-Bangsa untuk mengelola wilayah Palestina. Tugas ini, yang awalnya dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan jalur ke India, segera berubah menjadi mimpi buruk. Ketegangan antara komunitas Arab dan gelombang imigran Yahudi yang didorong Deklarasi Balfour 1917 menciptakan pusaran kekerasan. Di tengah situasi itu, muncul sebuah faksi garis keras Yahudi yang tidak hanya menantang otoritas Inggris, tetapi juga membuat imperium terbesar di dunia itu kewalahan dan akhirnya angkat tangan. Faksi itu adalah Irgun.

Benih Pemberontakan: Lahirnya Irgun dan Ideologi Radikalnya

Irgun Zvai Leumi (Organisasi Militer Nasional) resmi dibentuk pada tahun 1931 sebagai pecahan dari Haganah, milisi Yahudi arus utama yang cenderung menahan diri. Irgun menolak kebijakan havlagah atau pengekangan diri yang dianut Haganah. Mereka mengadopsi ideologi Zionis Revisionis yang diperkenalkan oleh tokoh pemikir, Ze'ev Jabotinsky. Prinsipnya sederhana namun ekstrem: hanya kekuatan bersenjata yang bisa menciptakan negara Yahudi di kedua sisi Sungai Yordan, dan tidak boleh ada kompromi dengan Inggris maupun warga Arab.

Di bawah komando tokoh-tokoh seperti David Raziel dan kemudian Menachem Begin pada tahun 1943, Irgun bertransformasi menjadi mesin pemberontakan yang disiplin. Begin, yang kelak menjadi Perdana Menteri Israel, adalah arsitek utama di balik gelombang aksi ofensif terbuka melawan Inggris. Ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk mengusir penjajah adalah dengan menjadikan biaya pendudukan terlalu mahal untuk ditanggung London, baik dalam bentuk korban jiwa, kerugian ekonomi, maupun tekanan politik internasional.

Gelombang Teror: Taktik yang Menggetarkan Mandat Inggris

Strategi Irgun sangat kontroversial karena menargetkan infrastruktur dan simbol administrasi kolonial. Mereka membentuk departemen khusus untuk sabotase, perampokan senjata, dan pembunuhan. Tak jarang, aksi mereka juga menimbulkan korban sipil. Puncak dari kampanye ini adalah pemboman Hotel King David di Yerusalem pada 22 Juli 1946.

Hotel tersebut menampung markas besar Sekretariat Pemerintah Inggris serta komando militer untuk Palestina dan Transyordania. Anggota Irgun yang menyamar sebagai pelayan memasukkan susu kaleng berisi ratusan kilogram bahan peledak ke ruang bawah tanah. Ledakan dahsyat itu menghancurkan sayap selatan hotel dan menewaskan 91 orang dari berbagai kebangsaan—28 di antaranya warga Inggris. Skala dan keberanian serangan itu mengejutkan dunia. Bagi publik Inggris yang baru pulih dari Perang Dunia II, tragedi ini menjadi pukulan psikologis yang dalam.

Selain King David, Irgun juga melancarkan operasi-operasi spektakuler lain. Penyerangan Penjara Akko pada Mei 1947 berhasil membebaskan puluhan tahanan, termasuk para pemimpin kunci, dengan taktik peledakan dinding penjara. Aksi ini ibarat pameran kemampuan operasional Irgun dan mempermalukan aparat keamanan Inggris. Mereka juga menyiksa dan menghukum mati dua sersan Angkatan Darat Inggris sebagai balas dendam atas eksekusi para anggota Irgun yang tertangkap. Insiden para sersan ini memicu gelombang kemarahan dan aksi anti-Yahudi di beberapa kota di Inggris Raya, menunjukkan betapa lekatnya isu ini dengan masyarakat luas.

Imperium yang Runtuh: Ketika Inggris Menyerah

Upaya Inggris untuk meredam Irgun terbukti sia-sia. Operasi Shark pada 1946—penyisiran besar-besaran yang melibatkan puluhan ribu tentara dan menetapkan jam malam atas Tel Aviv—hanya menghasilkan sedikit penangkapan besar. Darurat militer yang diberlakukan di beberapa wilayah pada awal 1947 gagal menghentikan gelombang serangan. Biaya ekonomi pendudukan membengkak hingga lebih dari 40 juta poundsterling per tahun, sementara kas publik Inggris masih terpukul akibat perang. Di sisi lain, opini internasional, terutama dari Amerika Serikat, semakin kritis terhadap taktik represif Inggris.

Yang lebih krusial, Irgun berhasil membangun narasi bahwa perlawanan bersenjata adalah jalur sah menuju kemerdekaan. Mereka memproduksi selebaran, stasiun radio bawah tanah, dan jaringan propaganda yang menggambarkan tentara Inggris sebagai penindas, bukan pembebas. Simpati publik Yahudi di Palestina pun beralih, membuat pemerintah mandat kehilangan dukungan dari komunitas yang semestinya mereka jamin keamanannya. Ketidakberdayaan ini mendorong Menteri Luar Negeri Inggris kala itu, Ernest Bevin, untuk membawa persoalan Palestina ke meja Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Februari 1947.

Rangkaian aksi teror Irgun bukanlah satu-satunya pendorong kepergian Inggris, tetapi jelas menjadi katalis yang mempercepat runtuhnya tekad London. Pada 15 Mei 1948, mandat Inggris resmi berakhir, dan pasukan terakhir meninggalkan pelabuhan Haifa. Menachem Begin kemudian mengarahkan pasukannya untuk berintegrasi ke dalam Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang baru lahir. Halaman ini tertutup, tetapi sejarah mencatat: segelintir pejuang bawah tanah berhasil mengguncang fondasi imperium global dan mengubah peta politik Timur Tengah untuk selamanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User