Ketika Serangan Irgun Membuat Mandat Inggris di Palestina Goyah
Pada pertengahan abad ke-20, sebuah konflik asimetris berdarah terjadi di wilayah yang saat itu dikenal sebagai Mandat Inggris atas Palestina. Bukan tentara reguler negara lain yang menjadi lawan, mel...
Pada pertengahan abad ke-20, sebuah konflik asimetris berdarah terjadi di wilayah yang saat itu dikenal sebagai Mandat Inggris atas Palestina. Bukan tentara reguler negara lain yang menjadi lawan, melainkan sebuah organisasi paramiliter Yahudi bernama Irgun, yang dengan taktik gerilya dan serangan teror membikin pemerintah kolonial Inggris kewalahan. Kelompok ini, yang lahir dari perpecahan ideologis di kalangan Zionis, berhasil menciptakan tekanan politik dan militer yang berkontribusi pada mundurnya Inggris dari Palestina pada tahun 1948.
Asal-Usul Irgun dan Kekecewaan terhadap Inggris
Irgun, singkatan dari Irgun Tzvai-Leumi (Organisasi Militer Nasional), didirikan pada tahun 1931 oleh para mantan anggota Haganah, milisi utama Yahudi yang lebih moderat. Pemicunya adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan Inggris yang dianggap terlalu akomodatif terhadap penduduk Arab dan membatasi imigrasi Yahudi. Di bawah pengaruh ideologi Revisionis Zionisme yang dipelopori oleh Ze'ev Jabotinsky, Irgun percaya bahwa hanya kekuatan bersenjata yang dapat mewujudkan negara Yahudi di kedua sisi Sungai Yordan.
Berbeda dengan Haganah yang menerapkan kebijakan "Havlagah" (menahan diri) dalam menghadapi kekerasan Arab, Irgun menganut pembalasan langsung dan serangan preemtif. Sejak awal, kelompok ini telah melakukan serangkaian operasi melawan sasaran Arab maupun Inggris, namun intensitasnya meningkat drastis pada 1944 di bawah komando Menachem Begin, yang kelak menjadi Perdana Menteri Israel. Begin mendeklarasikan pemberontakan terbuka terhadap Inggris, yang dianggapnya sebagai rezim pendudukan asing yang menghalangi kemerdekaan Yahudi.
Operasi-Operasi Paling Mengguncang
Salah satu aksi yang paling mengguncang kewibawaan Inggris adalah pengeboman Hotel King David di Yerusalem pada 22 Juli 1946. Hotel tersebut merupakan markas Sekretariat Pemerintah Inggris dan Markas Besar Militer. Irgun menyamar sebagai pegawai hotel dan memasukkan susu-susu kaleng berisi bahan peledak ke ruang bawah tanah. Ledakan dahsyat menghancurkan sayap selatan hotel, menewaskan 91 orang: 28 warga Inggris, 41 Arab, 17 Yahudi, dan 5 lainnya. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang opini publik internasional tetapi juga menunjukkan betapa rentannya aparat Inggris terhadap serangan terselubung.
Selain itu, Irgun juga kerap menyerang infrastruktur vital. Pada tahun yang sama, mereka meledakkan jembatan-jembatan kereta api dan jalan raya dalam operasi "Malam Jembatan" secara terkoordinasi, memutus jalur komunikasi dan logistik Inggris. Serangan terhadap kantor-kantor pajak dan pos militer semakin menambah beban ekonomi administrasi kolonial. Puncaknya, pada Juli 1947, Irgun mengeksekusi dua sersan Inggris sebagai balasan atas hukuman mati terhadap tiga anggotanya. Mayat kedua sersan tersebut digantung di pohon dan dipasangi ranjau, memicu kemarahan massal di Inggris dan gelombang sentimen anti-Yahudi di kalangan tentara Inggris.
Respons Inggris dan Jalan Menuju Kemerdekaan
Pemerintah Inggris merespons dengan operasi militer besar-besaran, termasuk serangkaian penggerebekan, jam malam, dan penangkapan. Namun, kekuatan Irgun yang tersebar dalam sel-sel kecil dan dukungan dari sebagian populasi Yahudi membuat mereka sulit dilumpuhkan. Propaganda Irgun yang cerdik—termasuk penggunaan radio bawah tanah dan siaran internasional—berhasil mempermalukan Inggris di mata dunia. Pemerintah London, yang baru saja keluar dari Perang Dunia II, semakin tertekan secara politik dan ekonomi untuk mempertahankan mandat yang diwarnai pertumpahan darah.
Dihadapkan pada kekerasan yang tak kunjung usai, dan dengan menyerahkannya masalah Palestina ke PBB pada awal 1947, Inggris memilih untuk meninggalkan wilayah itu secara sepihak pada 14 Mei 1948. Keputusan ini membuka jalan bagi deklarasi kemerdekaan Israel yang diproklamirkan David Ben-Gurion pada hari yang sama. Ironisnya, meskipun Irgun bukan aktor utama dalam pendirian negara (peran Haganah dan politik diplomatik lebih dominan), aksi-aksinya telah menguras kehendak Inggris untuk bertahan. Dalam konteks ini, Irgun terbukti berhasil menjadi faktor kunci dalam melemahkan kontrol kolonial.
Namun, warisan Irgun tetap kontroversial. Pemerintah Israel sendiri kemudian membubarkan organisasi ini pada 1948 dan mengintegrasikan anggotanya ke dalam Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Banyak pihak, baik di Israel maupun internasional, yang menyebut Irgun sebagai organisasi teroris karena targetnya yang mencakup warga sipil. Sementara itu, bagi sebagian kalangan, mereka dianggap sebagai pejuang kemerdekaan. Perdebatan ini mencerminkan dualitas abadi antara taktik perlawanan dan legitimasi politik.
Kisah Irgun menjadi bukti bagaimana kelompok paramiliter kecil, dengan strategi gerilya dan keberanian operasi berisiko tinggi, dapat mempengaruhi jalannya sejarah dan membuat sebuah imperium global kehilangan kendali atas wilayah jajahannya.
Comments (0)