Ketegangan Baru: Arab Saudi Bombardir Pangkalan Houthi di Hodeida

Aksi militer Arab Saudi kembali mengguncang Yaman. Pada Jumat (24/7), jet-jet tempur Kerajaan melancarkan serangan udara yang menghantam dua kompleks pertahanan milik kelompok pemberontak Houthi di ko...

Ketegangan Baru: Arab Saudi Bombardir Pangkalan Houthi di Hodeida

Aksi militer Arab Saudi kembali mengguncang Yaman. Pada Jumat (24/7), jet-jet tempur Kerajaan melancarkan serangan udara yang menghantam dua kompleks pertahanan milik kelompok pemberontak Houthi di kota pelabuhan Hodeida. Setidaknya dua orang mengalami luka-luka akibat bombardir tersebut, menandai eskalasi baru di front yang sempat mereda dalam beberapa bulan terakhir. Serangan ini langsung memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade bisa kembali memanas dengan cepat.

Menurut keterangan yang dihimpun dari sumber-sumber keamanan setempat, fasilitas yang ditarget adalah pos komando dan gudang amunisi yang selama ini menjadi pusat logistik kubu Houthi di pesisir Laut Merah. Hodeida, dengan pelabuhan vitalnya, merupakan pintu masuk utama bagi pasokan senjata dan bahan pangan yang diperebutkan kedua pihak. Serangan ini diduga sebagai balasan atas peningkatan serangan drone dan rudal balistik oleh Houthi ke wilayah selatan Arab Saudi, termasuk ke fasilitas energi di Jazan, yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Saudi beberapa hari sebelumnya.

Latar Belakang Ketegangan di Pelabuhan Hodeida

Hodeida telah menjadi salah satu titik paling rawan dalam perang saudara Yaman sejak intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada tahun 2015. Pelabuhan ini mengelola sekitar 80 persen impor komersial dan bantuan kemanusiaan Yaman, menjadikannya aset strategis yang diperebutkan. Pada Desember 2018, kedua pihak bertikai menandatangani Kesepakatan Stockholm yang menetapkan gencatan senjata di Hodeida dan rencana penarikan pasukan. Namun implementasinya terhambat oleh serangkaian pelanggaran dan ketidakpercayaan mendalam. Houthi, yang didukung oleh Iran, tetap mempertahankan kendali penuh atas kota dan pelabuhan, sementara koalisi Saudi terus memonitor jalur laut untuk mencegah penyelundupan senjata.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan di Hodeida sempat meredup seiring dimulainya dialog antara Riyadh dan delegasi Houthi yang difasilitasi Oman. Harapan akan terciptanya perjanjian permanen untuk mengakhiri perang mengemuka, terutama karena Arab Saudi berusaha memusatkan perhatian pada agenda pembangunan ekonominya pasca-Visi 2030. Namun serangan hari Jumat ini mengindikasikan bahwa pertempuran masih jauh dari kata usai. Para analis menilai aksi Saudi kemungkinan merupakan respons taktis terhadap eskalasi Houthi, bukan perubahan strategi jangka panjang. "Ini adalah siklus aksi-reaksi yang sulit diputus selama pihak-pihak yang bertikai belum mencapai kompromi fundamental soal pembagian kekuasaan," ujar seorang pengamat Timur Tengah yang enggan disebutkan namanya.

Korban dan Kerusakan

Laporan awal menyebut dua orang terluka dalam serangan tersebut. Sumber-sumber rumah sakit di Hodeida mengonfirmasi adanya korban dengan luka ringan hingga sedang yang kini tengah dirawat. Belum jelas apakah korban merupakan kombatan Houthi atau warga sipil yang berada di sekitar target, mengingat lokasi pangkalan sering kali berdekatan dengan permukiman padat. Koalisi Saudi biasanya menegaskan telah mengambil langkah-langkah presisi untuk meminimalkan jatuhnya korban sipil, namun PBB dan kelompok hak asasi manusia kerap mengkritik bahwa serangan udara tetap menimbulkan dampak buruk pada penduduk yang terjebak konflik.

Serangan juga dikabarkan menghancurkan beberapa kendaraan militer serta infrastruktur penyimpanan yang digunakan oleh milisi. Houthi, melalui juru bicara mereka, menyatakan akan membalas serangan tersebut. Mereka menuduh Saudi melanggar gencatan senjata tidak resmi dan menegaskan bahwa "agresi" tidak akan dibiarkan tanpa respons yang setimpal. Juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, biasa menyampaikan pernyataan melalui platform Telegram yang sejauh ini belum memberikan rincian lebih lanjut tentang rencana pembalasan.

Reaksi Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian yang Berliku

Serangan di Hodeida langsung menuai perhatian dari PBB. Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur perundingan. "Siklus kekerasan hanya akan memperburuk penderitaan rakyat Yaman yang sudah sangat memprihatinkan," tulis Grundberg dalam unggahan resminya. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan membahas situasi Yaman dalam sesi tertutup pekan depan.

Di sisi lain, Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan dipimpin Rashad al-Alimi, mendukung penuh aksi pembelaan Saudi. Mereka menuding Houthi terus menghalangi upaya perdamaian dan melancarkan serangan lintas perbatasan yang mengancam stabilitas regional. "Operasi terbatas ini diperlukan untuk menghentikan provokasi milisi yang didukung Iran," demikian pernyataan seorang pejabat Yaman yang tidak ingin dipublikasikan namanya. Namun, sikap ini berpotensi mempersulit mediasi yang tengah dinegosiasikan dengan Houthi, termasuk isu-isa penting seperti gaji pegawai negeri dan pembukaan kembali jalan raya Taiz-Sana'a.

Perang Yaman telah menelan lebih dari 377.000 korban jiwa hingga akhir 2025, baik akibat kekerasan langsung maupun kelaparan dan penyakit yang dipicu blokade serta kerusakan layanan kesehatan. Lebih dari 21 juta orang—sekitar dua pertiga populasi—masih membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dengan setiap serangan baru, jalan menuju perdamaian yang sejati tampak semakin terjal. Masyarakat Hodeida yang sudah terbiasa dengan dentuman bom pun kembali dihantui kecemasan yang barangkali belum akan segera berakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User