Kabut Asap Karhutla RI Tutup 108 Sekolah di Sarawak, Malaysia
Sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak, Malaysia, terpaksa menutup aktivitas belajar mengajar menyusul memburuknya kabut asap yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini bukan sekadar berita lingkunga...
Sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak, Malaysia, terpaksa menutup aktivitas belajar mengajar menyusul memburuknya kabut asap yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini bukan sekadar berita lingkungan biasa—ia langsung menyentuh kehidupan sehari-hari ribuan pelajar, orang tua, dan guru yang harus mengubah rutinitas mereka dalam sekejap. Di balik angka tersebut, ada persoalan besar yang melintasi batas negara: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, yang asapnya terbawa angin hingga ke negeri jiran.
Mengapa Kabut Asap Bisa Menyeberang Negara?
Ibarat seperti asap rokok di dalam ruangan ber-AC, polusi tidak mengenal sekat ruangan—demikian pula kabut asap yang tidak mengenal batas administrasi negara. Partikel halus hasil pembakaran biomassa di Kalimantan terbawa arus angin musiman, menempuh ratusan kilometer melewati Selat Kuching dan wilayah perbatasan darat, lalu mengendap di langit Serian dan sekitarnya. Akibatnya, kualitas udara di kawasan itu merosot tajam, dan pemerintah setempat menilai sekolah tidak lagi aman bagi anak-anak.
Dalam situasi seperti ini, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Sistem pernapasan mereka masih berkembang, sehingga paparan asap dalam waktu singkat pun dapat memicu batuk, iritasi mata, hingga gangguan pernapasan yang lebih serius. Keputusan menutup 108 sekolah sekaligus menunjukkan bahwa pihak berwenang Malaysia memilih pendekatan pencegahan ketimbang menunggu korban berjatuhan—sebuah langkah yang memang tidak populer karena mengganggu kegiatan belajar, tetapi jauh lebih aman.
Bagaimana Kualitas Udara Diukur?
Untuk menilai parah tidaknya kabut asap, negara-negara di kawasan ASEAN menggunakan semacam "termometer udara" yang disebut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), atau di Malaysia dikenal sebagai Air Pollutant Index (API)—indeks kualitas udara yang mengukur konsentrasi partikel, ozon, dan gas polutan lainnya. Ketika angka indeks ini menembus ambang batas tidak sehat, pemerintah biasanya mengeluarkan imbauan agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, memakai masker, dan—jika kondisinya ekstrem—menutup sekolah.
"Penutupan sekolah adalah keputusan terakhir yang diambil ketika langkah mitigasi lain dianggap tidak cukup melindungi anak-anak," demikian logika umum yang dipakai otoritas kesehatan di banyak negara ketika menghadapi darurat asap.
Serian sendiri merupakan salah satu daerah di Sarawak yang kerap menjadi langganan kabut asap ketika musim kemarau tiba. Letaknya yang berada di jalur lintas batas Kalimantan Barat menjadikannya titik pertama yang menerima kiriman asap dari kebakaran lahan di sisi Indonesia.
Akar Masalah Karhutla di Kalimantan
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukan fenomena baru, tetapi intensitasnya sering melonjak pada musim kemarau. Sebagian besar titik api dipicu oleh praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, baik untuk perkebunan, pertanian, maupun aktivitas lain. Pada kondisi lahan gambut yang kering, api bisa menyebar di bawah permukaan dan bertahan berbulan-bulan, menghasilkan asap pekat yang sulit dipadamkan dengan cara konvensional.
Dampaknya tidak pernah berhenti di satu sisi perbatasan. Asap dari Kalimantan telah berulang kali menimbulkan masalah di Malaysia, Singapura, hingga Brunei—fenomena yang di kawasan ini dikenal sebagai kabut asap lintas batas (transboundary haze). Kondisi inilah yang membuat karhutla bukan lagi sekadar persoalan domestik, melainkan diplomasi lingkungan antarnegar
Solusi yang Butuh Kerja Sama Lintas Negara
Mengatasi kabut asap lintas batas tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan kerja sama dalam tiga lini: pencegahan di sumber api, pemantauan kualitas udara yang transparan di kedua sisi perbatasan, dan sistem peringatan dini yang cepat. Beberapa inisiatif kawasan seperti perjanjian ASEAN tentang polusi asap lintas batas sudah ada, tetapi implementasinya masih menghadapi tantangan besar, mulai dari koordinasi data hingga penegakan hukum di lapangan.
Bagi warga di Sarawak, kabut asap kali ini adalah pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak pernah mengenal batas negara. Sementara bagi Indonesia, kejadian ini menegaskan urgensi pengendalian karhutla secara serius—bukan hanya demi citra di mata internasional, tetapi karena dampaknya nyata dirasakan manusia di kedua sisi perbatasan. Sampai akar masalah pembakaran lahan dibereskan, penutupan 108 sekolah di Serian kemungkinan besar bukan yang terakhir.
Comments (0)