Jebolnya Waduk Liulan Guangxi Soroti Kelemahan Infrastruktur Bendungan China
Runtuhnya tanggul utama Waduk Liulan di wilayah Guangxi, Tiongkok bagian selatan, pada pekan pertama Juli telah menjadi sorotan tajam terhadap pengelolaan bendungan-bendungan tua di negara dengan popu...
Runtuhnya tanggul utama Waduk Liulan di wilayah Guangxi, Tiongkok bagian selatan, pada pekan pertama Juli telah menjadi sorotan tajam terhadap pengelolaan bendungan-bendungan tua di negara dengan populasi terpadat di dunia tersebut. Insiden yang terjadi dini hari itu memaksa ribuan warga mengungsi dan memicu evaluasi darurat di lebih dari 200 bendungan serupa.
Kronologi dan Dampak Langsung
Waduk Liulan yang dibangun pada era 1950-an dengan kapasitas tampung sekitar 15 juta meter kubik mulai menunjukkan retakan pada pukul 02.00 dini hari. Dalam waktu tiga jam, dinding beton utama jebol dan mengirimkan gelombang air setinggi dua meter ke desa-desa di hilir. Sedikitnya 12 orang dilaporkan hilang dan lebih dari 4.500 warga dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Kementerian Urusan Sipil Tiongkok mengonfirmasi kerugian ekonomi sementara mencapai 1,2 miliar yuan (sekitar Rp2,6 triliun) akibat rusaknya lahan pertanian, rumah, dan infrastruktur jalan.
Penyebab: Curah Hujan Ekstrem dan Usia Konstruksi
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Tiongkok, curah hujan di wilayah Guangxi selama 48 jam sebelum kejadian mencapai 420 milimeter, setara dengan rata-rata curah hujan sebulan penuh. Para ahli hidrologi menduga kombinasi sedimentasi dasar waduk yang tidak pernah dikeruk secara rutin serta penuaan struktur menjadi faktor utama kegagalan. Bendungan-bendungan zaman Mao banyak yang menggunakan desain tanggul tanah yang rentan terhadap erosi dan tekanan air berlebih.
Kondisi Infrastruktur Bendungan di Tiongkok
China memiliki lebih dari 98.000 bendungan, tertinggi di dunia, namun sekitar 40% di antaranya berusia lebih dari 50 tahun dan dibangun dengan standar keselamatan yang saat ini dianggap usang. Kementerian Sumber Daya Air dalam laporan tahun 2025 mengakui bahwa 8.200 bendungan masuk kategori berisiko tinggi dan memerlukan perkuatan. Kasus Liulan menjadi pengingat nyata setelah insiden serupa di Provinsi Henan tahun 2021 yang menewaskan lebih dari 300 orang akibat kegagalan sistem peringatan dini.
Respons dan Mitigasi Pemerintah
Sehari setelah bencana, Perdana Menteri Tiongkok menginstruksikan audit menyeluruh terhadap semua bendungan berusia di atas 40 tahun. Dana darurat sebesar 5 miliar yuan dialokasikan untuk inspeksi menggunakan teknologi drone dan sensor. Pemerintah juga menggandeng Universitas Tsinghua untuk mengembangkan sistem pemantauan berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) yang dapat mendeteksi deformasi struktur secara waktu nyata. Namun, para kritikus menilai tindakan ini datang terlambat mengingat banyaknya peringatan dari LSM lingkungan sebelumnya.
Suara dari Pakar dan Masyarakat Sipil
Profesor Liang Wen dari Institut Teknik Sipil Beijing mengatakan, 'Kami sudah lama menyuarakan perlunya digitalisasi pemantauan bendungan, terutama di wilayah rawan hujan ekstrem. Bencana Liulan seharusnya bisa dicegah jika sensor tekanan dan getaran dipasang.' Sementara itu, aktivis lingkungan mendesak transparansi data dan partisipasi publik dalam pengawasan, mengingat informasi awal kejadian sempat dibatasi oleh otoritas setempat.
'Ini bukan sekadar soal teknik, tapi juga soal akuntabilitas,' tegasnya.
Studi Banding: Insiden Bendungan di Berbagai Negara
Kejadian di Liulan turut mengundang perbandingan dengan bencana bendungan di negara lain. Pada 2018, runtuhnya Bendungan Xe-Pian di Laos yang juga disebabkan hujan deras menewaskan puluhan orang dan memicu peningkatan regulasi. Di Indonesia, Bendungan Situ Gintung yang jebol tahun 2009 akibat konstruksi usang dan kurangnya perawatan telah mendorong audit nasional. China sebagai negara dengan bendungan terbanyak menghadapi skala risiko yang jauh lebih besar. Menurut data International Commission on Large Dams (ICOLD), persentase kegagalan bendungan di China lebih rendah dibanding rata-rata global, namun jumlah absolut insiden jauh lebih tinggi karena banyaknya bendungan yang ada.
Dampak pada Ketahanan Pangan dan Energi
Selain korban jiwa, kerusakan pada lahan pertanian seluas 2.400 hektar mengancam ketahanan pangan lokal. Ratusan kepala ternak hanyut dan pasokan listrik terputus selama tiga hari. Kementerian Pertanian memproyeksikan penurunan produksi beras di Guangxi sebesar 5% pada musim panen berikutnya. Pembangkit listrik mikrohidro yang memanfaatkan aliran waduk juga lumpuh, mengingatkan bahwa bendungan multifungsi harus mendapat perawatan ekstra.
Tantangan Iklim dan Proyeksi Masa Depan
Para peneliti iklim memperkirakan frekuensi hujan ekstrem di Asia Tenggara, termasuk Tiongkok selatan, akan meningkat 30% dalam dua dekade mendatang akibat pemanasan global. Untuk itu, desain ulang kapasitas pelimpah dan penambahan spillway darurat menjadi keharusan. Beberapa bendungan modern di China seperti Bendungan Tiga Ngarai sudah menerapkan standar internasional, namun ribuan bendungan kecil seperti Liulan belum tersentuh. Pemerintah berencana mempercepat program Smart Dam 2030, yang mengintegrasikan IoT (Internet of Things) dan machine learning untuk peringatan dini, namun anggaran dan sumber daya manusia menjadi kendala utama.
Insiden Waduk Liulan menjadi cermin bahwa ketangguhan infrastruktur tidak hanya soal kemegahan konstruksi baru, melainkan juga pemeliharaan berkelanjutan dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang kian tidak menentu.
Comments (0)