Irtja Tangahu Hadju, di Usia 89 Tahun, Rampungkan Buku Sejarah Gorontalo

Pada usia yang hampir menyentuh sembilan dekade, seorang tokoh adat dan pemerhati sejarah Gorontalo, Irtja Tangahu Hadju, menorehkan pencapaian monumental. Ia baru saja merampungkan dan memperkenalkan...

Pada usia yang hampir menyentuh sembilan dekade, seorang tokoh adat dan pemerhati sejarah Gorontalo, Irtja Tangahu Hadju, menorehkan pencapaian monumental. Ia baru saja merampungkan dan memperkenalkan kepada publik sebuah buku berjudul Gorontalo: Takdir Pohala’a, karya yang disebut-sebut sebagai salah satu historiografi terlengkap tentang tatanan kenegaraan tradisional di tanah Serambi Madinah. Peluncuran buku ini menjadi peristiwa budaya yang mengharukan, karena menandai rampungnya ikhtiar intelektual yang telah berlangsung selama lebih dari dua dasawarsa.

Hadirnya buku ini tidak hanya merayakan usia penulis yang kini 89 tahun, tetapi lebih dari itu, menjadi pengingat akan pentingnya dokumentasi narasi lokal di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis ingatan kolektif. Irtja Tangahu Hadju, yang juga dikenal sebagai sesepuh budaya, memulai proses penelitiannya ketika banyak saksi sejarah masih hidup. Kini, melalui bukunya, ia mewariskan memori itu kepada generasi penerus.

Dua Puluh Tahun Menyusun Serpihan Sejarah

Perjalanan menulis Gorontalo: Takdir Pohala’a bukanlah proses singkat. Irtja mengalokasikan hampir separuh usianya untuk mengumpulkan sumber-sumber primer, mulai dari naskah-naskah kuno beraksara Arab-Melayu yang tersimpan di keluarga bangsawan, laporan kolonial Belanda yang tersebar di Arsip Nasional, hingga tuturan lisan para tetua adat yang kini satu per satu telah tiada. Semua itu ia ramu dalam sebuah kerangka historiografi modern, yang tidak sekadar mendeskripsikan kronologi, tetapi juga menganalisis struktur kekuasaan, sistem sosial, dan filosofi hidup masyarakat Gorontalo.

Ibarat seorang arkeolog yang menyusun kembali pecahan keramik kuno, Irtja dengan sabar menghubungkan data-data yang terpisah oleh waktu dan ruang. Ia mengonfirmasi setiap klaim sejarah dengan disiplin metodologis yang ketat, sesuatu yang jarang ditemukan dalam penulisan sejarah lokal yang kerap mengandalkan ingatan komunal tanpa verifikasi. Inilah yang menjadikan bukunya sebagai rujukan primer, bukan sekadar bunga rampai cerita rakyat.

Memaknai Kembali ‘Takdir Pohala’a’

Bagi masyarakat awam, istilah Pohala’a mungkin terdengar asing. Namun, bagi warga Gorontalo, kata ini adalah inti dari identitas mereka. Pohala’a merujuk pada struktur kerajaan atau persekutuan adat yang pernah berdiri di jazirah Gorontalo—yakni Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola—yang memiliki otonomi politik sekaligus ikatan genealogis. Dalam bukunya, Irtja Tangahu Hadju bukan hanya menceritakan kejayaan dan keruntuhan entitas-entitas itu, melainkan juga mengajukan tesis penting: bahwa “takdir” Pohala’a telah membentuk karakter masyarakat Gorontalo yang egaliter, religius, dan guyub.

Dengan menggunakan data historis, ia membedah bagaimana nilai-nilai seperti huyula (gotong royong), tinepo (malu melakukan kesalahan), dan odelo (teguh pendirian) berakar dari sistem pemerintahan dan hukum adat Pohala’a yang telah berusia ratusan tahun. Buku ini sekaligus menjadi jawaban bagi mereka yang mempertanyakan mengapa identitas kesukuan di Gorontalo terasa sangat kuat meski pengaruh luar datang silih berganti, dari Ternate, Belanda, hingga negara Indonesia modern.

Peluncuran yang Menjadi Peristiwa Budaya

Acara peluncuran buku yang digelar secara sederhana namun penuh makna itu dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat: akademisi, pejabat daerah, pelajar, dan tentu saja para keturunan bangsawan Pohala’a. Suasana haru menyelimuti ruangan ketika Irtja, dengan suara yang telah bergetar dimakan usia, membacakan sepenggal pengantar bukunya. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa menulis sejarah bukan semata tentang masa lalu, melainkan tentang “menyusun peta jalan untuk masa depan.”

Beberapa pembicara yang hadir, termasuk sejarawan dari universitas lokal, menilai buku ini sebagai fondasi penting bagi penulisan sejarah Gorontalo yang lebih ilmiah. Selama ini, banyak narasi sejarah daerah hanya disampaikan secara lisan dan berisiko lenyap. Kehadiran buku setebal ratusan halaman ini dianggap sebagai langkah konkret menjaga memori kolektif.

Menjaga Identitas di Tengah Disrupsi Zaman

Di era ketika informasi digital mengalir begitu deras, upaya Irtja Tangahu Hadju menghadirkan buku fisik yang padat akan data historis menjadi semacam pernyataan spiritual. Buku bukan sekadar artefak kertas, melainkan monumen peradaban yang bisa dipegang, dibaca, dan diwariskan lintas generasi. Ia sadar, generasi muda Gorontalo kini lebih akrab dengan gawai dan media sosial ketimbang manuskrip kuno. Maka, ia memilih bahasa yang renyah tapi tetap menjaga kedalaman, agar buku ini bisa dinikmati oleh pelajar SMA sekaligus peneliti doktoral.

“Ini adalah upaya saya untuk menitipkan jiwa Gorontalo kepada anak cucu,” ujar Irtja, dalam kutipan yang direkam oleh salah satu hadirin. Pernyataan ini menyiratkan kegelisahan bahwa modernitas acapkali mencabut generasi dari akar budaya. Melalui buku Gorontalo: Takdir Pohala’a, ia berharap semangat Pohala’a—kemandirian, kebersamaan, dan kearifan lokal—tetap hidup meski bentuk negaranya telah berubah menjadi kabupaten dan provinsi.

Kini, hasil riset dua dekade itu telah hadir di rak-rak perpustakaan dan siap menjadi sumber inspirasi. Irtja Tangahu Hadju telah membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkarya. Di umurnya yang ke-89, ia justru memberi pelajaran: bahwa kebudayaan hanya bisa bertahan jika ada yang bersedia menuliskan jejaknya, dengan hati dan ketekunan seorang penjaga sejarah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User